Tampilkan postingan dengan label PAI. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label PAI. Tampilkan semua postingan

Senin, 13 Januari 2014

Antara Banyak dan Sedikit (بَيْنَ الْكَثْرَةِ وَالْقِلَّةِ)

Oleh : Asy-Syaikh ‘Aliy Al-Halabiy hafidhahullah.
Termasuk kaidah-kaidah yang ditetapkan oleh para ulama adalah bahwasannya :
شيعوعة الفعل وانتشاره لا يدلُّ على جوازِه؛ كما أنَّ كتْمَه لا يدلُّ على منعه.
“Tersebar dan tersiarnya satu perbuatan tidak (selalu) menunjukkan akan kebolehannya, sebagaimana tersembunyinya satu perbuatan juga tidak menunjukkan akan pelarangannya”.[1]

Ibnu Muflih berkata dalam Al-Aadaabusy-Syar’iyyah (1/163) :
ينبغي أن يُعرفَ أنَّ كثيرا من الأمور يفعل فيها كثير من الناس خلافَ الأمر الشرعي، ويشتهر ذلك بينهم، ويقتدي كثير من الناس بهم في فعلهم.
والذي يتعيَّنُ على العارف مخالفتهم في ذلك قولا وفعلا، ولا يثبطه عن ذلك وحدته وقلة الرفيق.
وقد قال الشيخ محي الدين النواوي : ولا يغتر الإنسانُ بكثرةِ الفاعلين لهذا الذي نُهينا عنه ممَّن لا يراعي هذه الآدابَ، وامتثلْ ما قاله السيد الجليل الفضيلُ بنُ عياض : لا تستوحِشْ طُرُقَ الهدى لقلة أهلها، ولا تغترَّ بكثرةِ الهالكين.
وقال أبو الوفاء ابنُ عُقيل في ((الفنون)) : مَن صدر اعتقادُهُ  عن برهان؛ لم يبقَ عندهُ تلوُّنٌُ يُراعي به أحوال الرجال : أَفَإِنْ مَاتَ أَوْ قُتِلَ انْقَلَبْتُمْ عَلَى أَعْقَابِكُمْ.
وكان الصديقُ رضي اللهُ عنهُ مِمَّنْ يثْبُتُ على اختلاف الأحوال، فلم تتقلَّب به الأحوالُ في كلِّ مقامٍِ زلَّتْ به الأقْدَام....
“Hendaknya diketahui bahwa perkara-perkara yang dilakukan kebanyakan manusia yang menyelisihi syari’at dan hal itu masyhur di kalangan mereka serta banyak yang mengikutinya; maka yang wajib bagi seorang yang ‘aarif (mengetahui) adalah menyelisihi mereka baik dengan perkataan maupun perbuatan. Tidak boleh semuanya itu menghalanginya dan mencegahnya (untuk melakukan penyelisihan) karena sedikitnya kawan (yang mengikutinya).
Telah berkata Asy-Syaikh Muhyiddiin An-Nawaawiy : ‘Janganlah manusia terpedaya dengan banyaknya orang melakukan sesuatu yang terlarang, yaitu dari kalangan orang-orang yang tidak menjaga adab-adab ini. Ikutilah apa yang dikatakan oleh As-Sayyid Al-Jaliil Al-Fudlail bin ‘Iyaadl : ‘Janganlah engkau mengangap buruk jalan-jalan petunjuk karena sedikitnya orang yang menjalaninya. Dan jangan pula terpedaya karenanya banyaknya orang-orang yang binasa’.
Telah berkata Abul-Wafaa’ Ibnu ‘Uqail dalam kitab Al-Funuun : ‘Barangsiapa keyakinannya berasal dari bukti (nash-nash syar’iyyah), hilanglah pada dirinya sikap ikut arus terpengaruh kondisi manusia di sekelilingnya. (Allah ta’ala berfirman : ) ‘Apakah jika dia (Muhammadd) wafat atau dibunuh kamu berbalik ke belakang (murtad) ?.[2]
Adalah Ash-Shiddiiq (Abu Bakr) radliyallaahu ‘anhu termasuk orang yang teguh dalam berbagai keadaan. Keadaannya tidak berubah dalam setiap tempat saat kaki-kaki banyak yang tergelincir…..”.
Hingga perkataannya :
وقد يكون الإنسانُ مسلما إلى أن يضيقَ به عيشٌ، وإنما دينُنا مبنيٌ على شَعَثِ  الدنيا  وصلاح الآخرة، فمن طلب به العاجلة؛ أخطأ.
“Dan terkadang seorang muslim dipersempit kehidupannya. Agama kami dibangun hanyalah berdasarkan sedikitnya dunia (zuhud) dan kebaikan akhirat. Barangsiapa yang hanya mencari dunia semata, maka ia telah keliru” [selesai perkataan Ibnu Muflih].
Aku (Asy-Syaikh ‘Aliy Al-Halabiy) berkata : Apabila kita telah mengetahui itu semua, nampaklah kebatilan alasan kebanyakan manusia yang melakukan berbagai bid’ah : ‘kebanyakan manusia berada di atasnya (!) atau ; ‘kebanyakan orang melakukannya’…. atau yang lainnya dari alasan-alasan yang bathil dan ta’wil-ta’wil yang layak untuk diabaikan.
Dalam risalahku yang berjudul Dzammul-Katsratil-Mukatstsiriin[3] terdapat banyak penyebutan dari ayat-ayat dan hadits-hadits yang mengecam orang-orang terpedaya dengan alasan mayoritas atau bangga untuk memperbanyak (amalan atau dukungan).
Telah berkata Al-‘Allaamah Ibnul-Qayyim dalam Ighaatsatul-Lahfaan min Maqaayidisy-Syaithaan (hal. 132-135 – Mawaaridul-Amaan) :
فالصبر الصادق لا يستوحش من قلة الرفيق ولا من فقده إذا استشعر قلبه مرافقة الرعيل الأول، الذين أنعم الله عليهم من النبيين والصديقين والشهداء والصالحين وحسن أولئك رفيقا، فتفرد العبد فى طريق طلبه دليل على صدق طلبه.
ولقد سُئِلَ إسحاق بن راهويه عن مسألة فأجاب عنه. فقيل له: إن أخاك أحمد ابن حنبل يقول فيها بمثل ذلك. فقال: ما ظننت أن أحدا يوافقنى عليها
ولم يستوحش بعد ظهور الصواب له من عدم الموافقة، فإن الحق إذا لاح وتبين لم يحتج إلى شاهد يشهد به. والقلب يبصر الحق كما تبصر العين الشمس. فإذا رأى الرائى الشمس لم يحتج فى علمه بها واعتقاده أنها طالعة إلى من يشهد بذلك ويوافقه عليه.
“Orang yang sabar lagi benar (imannya) tidaklah merasa kesepian karena sedikitnya teman dan bahkan kehilangan darinya, apabila ia telah merasa dalam hatinya berteman dengan generasi pertama yang telah Allah anugerahkan nikmat kepada mereka, dari kalangan nabi, orang-orang yang benar (shiddiiqiin), orang-orang yang mati syahid (syuhadaa’), dan orang-orang shaalih; dan merekalah sebaik-baik teman. Oleh karena itu, kesendirian seorang hamba dalam jalan mencari dalil adalah sebenar-benar usaha pencariannya.
Ishaaq bin Rahaawaih pernah ditanya tentang satu permasalahan dan ia pun menjawabnya. Dikatakan kepadanya : ‘Sesungguhnya saudaramu Ahmad bin Hanbal berkata tentang tentangnya sebagaimana hal itu’. Ishaaq berkata : ‘Tidaklah aku mengira ada seorang pun yang menyepakatiku padanya’.
Ia (Ishaaq) tidak merasa kesepian setelah nampak kebenaran baginya dari meskipun tidak ada orang yang menyepakatinya. Sesungguhnya kebenaran itu apabila nampak dan jelas, tidak membutuhkan saksi yang memberikan kesaksian dengannya. Hati melihat kebenaran sebagaimana mata melihat sinar matahari. Apabila seseorang telah melihat matahari, maka ia tidak membutuhkan dalam ilmu dan keyakinannya orang yang bersaksi dan menyepakatinya bahwa matahari telah terbit.
وما أحسن ما قال أبو محمد عبد الرحمن بن إسماعيل المعروف بأبى شامة فى كتاب الحوادث والبدع: "حيث جاء به الأمر بلزوم الجماعة فالمراد به لزوم الحق واتباعه، وإن كان المتمسك به قليلا والمخالف له كثيرا، لأن الحق هو الذى كانت عليه الجماعة الأولى من عهد النبى صلى الله تعالى عليه وسلم وأصحابه، ولا نظر إلى كثرة أهل البدع بعدهم.   قال عمرو بن ميمون الأودى: "صحبت معاذا باليمن. فما فارقته حتى واريته فى التراب بالشام، ثم صحبت بعده أفقه الناس عبد الله بن مسعود رضى الله عنه، فسمعته يقول: عليكم بالجماعة، فإن يد الله على الجماعة، ثم سمعته يوما من الأيام وهو يقول: سَيَلى عليكم ولاة يؤخرون الصلاة عن مواقيتها، فصلوا الصلاة لميقاتها، فهى الفريضة، وصلوا معهم فإنها لكم نافلة. قال قلت: يا أصحاب محمد ما أدرى ما تحدثونا؟ قال: وما ذاك؟ قلت: تأمرنى بالجماعة وتحضنى عليها ثم تقول: صل الصلاة وحدك، وهى الفريضة، وصل مع الجماعة وهى نافلة؟ قال: يا عمرو بن ميمون، قد كنت أظنك من أفقه أهل هذه القرية، تدرى ما الجماعة؟ قلت: لا: قال: إن جمهور الجماعة: الذين فارقوا الجماعة. الجماعة ما وافق الحق، وإن كنت وحدك" وفى طريق أخرى: "فضرب على فخذى وقال: ويحك، إن جمهور الناس فارقوا الجماعة. وإن الجماعة ما وافق طاعة الله عز وجل". قال نعيم بن حماد: "يعنى إذا فسدت الجماعة فعليك بما كانت عليه الجماعة قبل أن تفسد، وإن كنت وحدك، فإنك أنت الجماعة حينئذ".
“Betapa bagus apa yang dikatakan Abu Muhammad ‘Abdurrahmaan bin Ismaa’iil yang dikenal dengan nama Abu Syaammah dalam kitab Al-Hawaadits wal-Bida’[4] : ‘Dimana saja datang perintah untuk berpegang pada jama’ah, maka maksudnya adalah berpegang kepada kebenaran dan mengikutinya, meskipun orang yang berpegang dengannya sedikit dan menyelisihi kebanyakan orang. Karena, kebenaran adalah sesuatu yang jama’ah pertama pada masa Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam dan para shahabatnya berada di atasnya. Tidak perlu dipertimbangkan banyaknya ahlul-bida’ (yang menyelisihi mereka) setelahnya. Telah berkata ‘Amru bin Maimuun Al-Audiy : Aku bershahabat dengan Mu’aadz di Yaman. Aku tidak pernah meninggalkannya hingga aku menguburkannya di Syaam. Setelah itu, aku bershahabat dengan orang yang paling faqih, yaitu ‘Abdullah bin Mas’uud radliyallaahu ‘anhu. Ia pernah berkata : ‘Wajib atas kalian untuk berpegang pada jama’ah, karena tangan Allah berada di atas jama’ah’. Kemudian pada suatu hari aku mendengarnya berkata : ‘Akan memimpin kalian para pemimpin yang mengakhirkan shalat dari waktunya. Maka, shalatlah kalian pada waktunya, karena hal itu wajib. Kemudian, shalatlah bersama mereka, karena hal itu bagimu adalah sunnah’. Aku berkata : ‘Wahai shahabat Muhammad, aku tidak tahu apa yang engkau katakan pada diri kami ?’. Ia (Ibnu Mas’uud) berkata : ‘Apakah itu ?’. Aku berkata : ‘Engkau memerintahkanku untuk menetapi jama’ah dan menganjurkannya. Kemudian engkau berkata : Kerjakanlah shalat sendirian, karena hal itu wajib. Lalu shalatlah bersama jama’ah, karena hal itu sunnah ?’. Ia berkata : ‘Wahai ‘Amru bin Maimuun, semula aku menyangka engkau adalah orang yang paling faqih di daerah ini. Tahukah engkau apa itu jama’ah ?’. Aku menjawab : ‘Tidak’. Ia berkata : ‘Sesungguhnya kebanyakan orang yang ada (pada waktu itu) adalah orang-orang yang memisahkan diri dari jama’ah. Jama’ah (yang sesungguhnya) adalah apa-apa yang sesuai dengan kebenaran meskipun engkau sendirian’.[5] Dalam jalan yang lain : ‘Lalu ia (Ibnu Mas’uud) memukul dua pahaku dan berkata : ‘Celaka kamu, sesungguhnya kebanyakan orang telah memisahkan diri dari jama’ah. Dan sesungguhnya jama’ah (yang sebenarnya) adalah apa-apa yang sesuai dengan ketaatan kepada Allah ‘azza wa jalla’. Nu’aim bin Hammaad berkata : ‘Yaitu, apabila jama’ah orang-orang telah rusak, maka wajib atasmu untuk menetapi jama’ah sebelum keadaan mereka rusak meskipun engkau sendirian. Karena sesungguhnya engkaulah jama’ah pada waktu itu’.
وعن الحسن البصرى قال: "السنة، والذى لا إله إلا هو بين الغالى والجافى، فاصبروا عليها رحمكم الله، فإن أهل السنة كانوا أقل الناس فيما مضى وهم أقل الناس فيما بقى: الذين لم يذهبوا مع أهل الإتراف فى إترافهم، ولا مع أهل البدع فى بدعهم، وصبروا على سنتهم حتى لقوا ربهم، فكذلك إن شاء الله فكونوا".
وكان محمد بن أسلم الطوسى، الإمام المتفق على إمامته، مع رتبته أتبع الناس للسنة فى زمانه، حتى قال: "ما بلغنى سنة عن رسول الله صلى الله تعالى عليه وسلم إلا عملت بها، ولقد حرصت على أن أطوف بالبيت راكبا، فما مكنت من ذلك"، فسئل بعض أهل العلم فى زمانه عن السواد الأعظم الذين جاء فيهم الحديث: "إذَا اخْتَلَفَ النَّاسُ فَعَلَيكُمْ بِالسَّوَادِ الأعْظَمِ". فقال: "محمد بن أسلم الطوسى هو السواد الأعظم".
وصدق والله، فإن العصر إذا كان فيه إمام عارف بالسنة داع إليها فهو الحجة، وهو الإجماع، وهو السواد الأعظم، وهو سبيل المؤمنين التى من فارقها واتبع سواها ولاه الله ما تولى، وأصلاه جهنم، وساءت مصيرا.
Dan dari Al-Hasan Al-Bashriy, ia berkata : ‘As-Sunnah – demi Dzat yang tidak ada tuhan yang berhak disembah selain dari-Nya – antara orang-orang yang berlebih-lebihan dan yang meremehkan; maka bersabarlah (untuk menetapinya), semoga Allah merahmati kalian. Sesungguhnya Ahlus-Sunnah adalah orang yang paling sedikit jumlahnya di masa lalu dan masa setelahnya. Yaitu, mereka yang tidak pergi bersama orang-orang yang hidup mewah dalam kemewahan mereka, dan para pelaku bid’ah dengan kebid’ahan mereka. Dan mereka bersabar di atas sunnah mereka hingga bertemu dengan Rabb mereka. Seperti itulah - insya Allah – kalian harus berada’  (selesai perkataan Abu Syaammah – Abul-Jauzaa’).
Adalah Muhammad bin Aslam Ath-Thuusiy[6], seorang imam yang disepakati keimamannya dan orang yang paling mengikuti sunnah di jamannya, berkata : ‘Tidaklah sampai kepadaku satu sunnah yang berasal dari Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam kecuali aku mengamalkannya. Dan sungguh aku ingin thawaf mengelilingi Ka’bah dengan berkendara, namun tidak memungkinkan bagiku untuk melakukannya’. Sebagian ulama di jamannya pernah ditanya tentang as-sawaadul-a’dham yang terdapat dalam hadits : ‘apabila manusia berselisih, maka wajib bagi kalian berpegang pada as-sawaadul-a’dham’[7]; maka mereka (para ulama) berkata : ‘Muhammad bin Aslam Ath-Thuusiy, ia lah as-sawaadul-a’dham[8].
Benar, demi Allah. Sesungguhnya jaman apabila terdapat seorang imam yang mengetahui sunnah dan mendakwahkan kepadanya, maka ia merupakan hujjah. Ia lah ijma’, as-sawaadul-a’dham, dan sabiilul-mukminiin (jalan orang-orang mukmin) yang barangsiapa memisahkan diri darinya dan mengikuti selainnya; maka Allah akan memalingkannya kepada apa yang ia berpaling, dan tempatnya adalah jahannam, sungguh itu seburuk-buruk tempat kembali[9]” [selesai perkataan Ibnu Qayyim].
Beliau rahimahullah melanjutkan :
ومن له خبرة بما بعث الله تعالى به رسوله، وبما عليه أهل الشرك والبدع اليوم فى هذا الباب وغيره، علم أن بين السلف وبين هؤلاء الخلوف من البعد أبعد مما بين المشرق والمغرب، وأنهم على شىء والسلف على شىء، كما قيل:
 سَارَتْ مُشَرقَة وَسِرْتُ مُغَرب - شَتَّانَ بَيْنَ مُشَرقٍ وَمُغَربِ
والأمر والله أعظم مما ذكرنا.
وقد ذكر البخارى فى الصحيح عن أم الدرداء رضى الله عنها قالت: "دخل على أبو الدرداء مغضباً، فقلت له: مالك؟"، فقال: "والله ما أعرف فيهم شيئا من أمر محمد صلى الله تعالى عليه وآله وسلم، إلا أنهم يصلون جميعا".
“Barangsiapa mempunyai pengetahuan tentang sesuatu yang Allah ta’ala mengutus Rasul-Nya, serta tentang sesuatu yang orang-orang berbuat syirik dan bid’ah pada hari ini, niscaya ia akan mengetahui bahwa antara salaf dan orang-orang setelahnya (khalaf) keadaannya lebih jauh daripada timur dengan barat. Mereka di atas sesuatu, sedangkan salaf di atas sesuatu yang lain, sebagaimana dikatakan :
Ia berjalan ke arah timur dan aku berjalan ke arah barat, betapa jauh antara timur dengan barat
Padahal perkaranya, demi Allah, lebih agung daripada yang telah kami sebutkan.
Al-Bukhaariy telah menyebutkannya dalam Ash-Shahiih[10] dari Ummud-Dardaa’ radliyallaahu ‘anhaa, ia berkata : Abud-Dardaa’ mendatangiku dalam keadaan marah, maka aku bertanya kepadanya : “Ada apa denganmu ?”. Ia menjawab : “Demi Allah, tidaklah aku mengetahui sesuatu dari perkara Muhammad shallallaahu ‘alaihi wa aalihi wa sallam, kecuali mereka semua mengerjakan shalat”.
وقال الزهرى: "دخلت على أنس بن مالك بدمشق، وهو يبكى، فقلت له: ما يبكيك؟"، فقال: "ما أعرف شيئاً مما أدركت إلا هذه الصلاة. وهذه الصلاة قد ضيعت". ذكره البخاري.
وهذه هي الفتنة العظمى التى قال فيها عبد الله بن مسعود رضى الله عنه: "كيف أنتم إذا لبستكم فتنة يهرم فيها الكبير، وينشأ فيها الصغير، تجري على الناس، يتخذونها سنة إذا غيرت قيل: غيرت السنة، أو: هذا منكر".
وهذا مما يدل على أن العمل إذا جرى على خلاف السنة فلا عبرة به ولا التفات إليه. فإن العمل قد جرى على خلاف السنة منذ زمن أبى الدرداء وأنس.
“Telah berkata Az-Zuhriy : “Aku pernah menemui Anas bin Maalik di Damaskus, dan ia waktu itu sedang menangis. Aku bertanya kepadanya : ‘Apa yang membuatmu menangis ?’. Ia berkata : ‘Aku tidak mengetahui sedikitpun dari apa yang aku jumpai kecuali shalat ini. Dan shalat ini pun (kini) telah disia-siakan’. Riwayat ini disebutkan oleh Al-Bukhaariy.
Ini adalah fitnah besar yang telah dikatakan oleh ‘Abdullah bin Mas’uud radliyallaahu ‘anhu : ‘Bagaimana keadaan kalian apabila kalian mengenakan pakaian fitnah yang telah menjadikan pikun orang-orang tua, membesarkan anak-anak kecil. Fitnah itu berjalan di antara orang-orang. Mereka mengambilnya sebagai sunnah yang apabila dirubah, dikatakan : Sunnah telah dirubah, atau : Ini adalah kemunkaran’.
Hal ini termasuk petunjuk bahwa satu amalan apabila berjalan menyelisihi sunnah, maka sia-sia lah ia dan tidak perlu untuk ditoleh. Juga sebagai petunjuk bahwa amalan telah berjalan menyelisihi sunnah semenjak jaman Abud-Dardaa’ dan Anas”.[11]
وذكر أبو العباس أحمد بن يحيى قال: حدثني محمد بن عبيد بن ميمون، حدثني عبد الله بن إسحاق الجعفري قال: كان عبد الله بن الحسن يكثر الجلوس إلى ربيعة، قال: فتذاكروا يوماً السنن، فقال رجل كان فى المجلس: ليس العمل على هذا، فقال عبد الله: "أرأيت إن كثر الجهال، حتى يكونوا هم الحكام، فهم الحجة على السنة؟"، فقال ربيعة: "أشهد أن هذا كلام أبناء الأنبياء".
“Dan telah berkata Abul-‘Abbaas Ahmad bin Yahyaa[12] : ‘Telah menceritakan kepadaku Muhammad bin ‘Ubaid bin Maimuun : Telah menceritakan kepadaku ‘Abdullah bin Ishaaq Al-Ja’fariy, ia berkata : Adalah ‘Abdullah bin Al-Hasan banyak bermajelis dengan Rabii’ah. Suatu hari, mereka memperbincangkan sunnah-sunnah. Berkata seorang laki-laki dalam majelis itu : ‘Tidak ada amal atas hal ini’. ‘Abdullah berkata : ‘Apa pendapatmu jika banyak orang bodoh yang kemudian menjadi hakim. Apakah mereka ini hujjah di atas sunnah ?’. Maka Rabii’ah berkata : ‘Aku bersaksi bahwa ini adalah perkataan anak-anak para nabi[13]” [selesai perkataan Ibnul-Qayyim].
Aku (Asy-Syaikh ‘Aliy Al-Halabiy) berkata : Seorang muslim sejati adalah orang yang tidak dikalahkan oleh tersebarnya bid’ah, dalam memahami sunnah-sunnah. Sesungguhnya hal-hal yang telah mentradisi, sebagaimana ia membangun satu pokok, sekaligus ia juga menghancurkannya. Ia juga sangat mendominasi. Membebaskan diri darinya membutuhkan latihan jiwa dan komitmen terhadap sunnah[14].
Betapa bagusnya apa yang diriwayatkan Al-Khathiib Al-Baghdaadiy dalam Syarafu Ashhaabil-Hadiits (hal. 7) dengan sanad shahih dari Al-Auzaa’iy rahimahullah :
عليك بآثار من سلف وإن رفضك الناس؛ وإياك وآراء الرجال وإن زخرفوها لك بالقول.
“Wajib atas kamu berpegang pada atsar-atsar salaf meskipun orang-orang menolakmu. Dan waspadailah pendapat orang-orang, meskipun mereka menghiasinya dengan perkataan yang indah”.
Dan Allah lah yang memberikan petunjuk.
[diambil dari buku : ‘Ilmu Ushuulil-Bida’ oleh Asy-Syaikh ‘Aliy Al-Halabiy hafidhahullaah, hal. 271-277; Daarur-Rayyaah, Cet. 2/1417, Riyaadl – oleh Abu Al-Jauzaa’].


[1]      Al-Hawaadits wal-Bida’ (hal. 71). Lihat juga : Marwiyyaatu Du’aa Khatmil-Qur’aan (hal. 66) oleh saudara kami Asy-Syaikh Bakr Abu Zaid. Padanya terdapat tambahan faedah.
[2]      QS. Aali ‘Imraan : 144.
[3]      Semoga Allah ta’ala memudahkan untuk menyelesaikan (penulisan)-nya.
[4]      Judulnya adalah : Al-Baa’its ‘alaa Inkaaril-Bida’ wal-Hawaadits. Perkataannya tersebut ada pada halaman 19-20. Ibnu Abil-‘Izz Al-Hanafiy menukilnya dalam Syarh Ath-Thahaawiyyah (hal. 362).
Abu Syammah wafat pada tahun 665 H. Biografinya ada dalam kitab Tadzkiratul-Huffaadh (4/1460).
[5]      Diriwayatkan oleh Al-Laalikaa’iy dalam As-Sunnah (no. 160). Lihat kitabku : Ad-Da’wah ilallaah…. (hal. 89-95), pasal : Al-Jama’ah, peristilahan dan penjelasannya.
[6]      Wafat tahun 242 H. Biografinya terdapat dalam Siyaru A’laamin-Nubalaa’ (12/195).
[7]      Diriwayatkan oleh Ibnu Maajah (no. 3950), Ibnu Abi ‘Aashim (no. 84), dan Al-Laalikaaiy (no. 153) dari Anas.
Sanadnya sangat lemah (dla’iif jiddan). Padanya terdapat Abu Khalaf Al-Makfuuf, namanya Haazim bin ‘Athaa’; riwayatnya ditinggalkan oleh sekelompok ulama dan didustakan oleh Ibnu Ma’iin.
[8]      Hilyatul-Auliyaa’ (9/238-239), dan dari jalannya Adz-Dzahabiy dalam As-Siyar (12/196).
[9]      Sebagaimana diisyaratkan dalam QS. An-Nisaa’ : 15.
[10]     (2/115)
[11]     Ini adalah perkataan yang benar dan wajib ditulis – sebagaimana dikatakan – dengan tinta emas.
[12]     Ia adalah Tsa’lab, seorang imam ahli bahasa yang masyhur. Wafat tahun 291 H. Biografinya terdapat dalam Siyaru A’laamin-Nubalaa’ (14/5) oleh Al-Imaam Adz-Dzahabiy.
[13]     Al-Baa’its ‘alaa Inkaaril-Bida’ wal-Hawaadits (hal. 51) oleh Abu Syaammah.
[14]     Marwiyyaatu Du’aa Khatmil-Qur’aan (hal. 75) oleh Asy-Syaikh Bakr Abu Zaid.
READ MORE - Antara Banyak dan Sedikit (بَيْنَ الْكَثْرَةِ وَالْقِلَّةِ)

Kamis, 09 Januari 2014

Nama-Nama Malaikat

Termasuk bagian dari rukun iman adalah iman kepada malaikat-malaikat Allah ta’ala, sebagaimana firman-Nya :
آمَنَ الرَّسُولُ بِمَا أُنْزِلَ إِلَيْهِ مِنْ رَبِّهِ وَالْمُؤْمِنُونَ كُلٌّ آمَنَ بِاللَّهِ وَمَلائِكَتِهِ وَكُتُبِهِ وَرُسُلِهِ لا نُفَرِّقُ بَيْنَ أَحَدٍ مِنْ رُسُلِهِ وَقَالُوا سَمِعْنَا وَأَطَعْنَا غُفْرَانَكَ رَبَّنَا وَإِلَيْكَ الْمَصِيرُ
“Rasul telah beriman kepada Al Qur'an yang diturunkan kepadanya dari Tuhannya, demikian pula orang-orang yang beriman. Semuanya beriman kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya dan rasul-rasul-Nya. (Mereka mengatakan): "Kami tidak membeda-bedakan antara seseorang pun (dengan yang lain) dari rasul rasul-Nya", dan mereka mengatakan: "Kami dengar dan kami taat". (Mereka berdoa): "Ampunilah kami ya Tuhan kami dan kepada Engkaulah tempat kembali" [QS. Al-Baqarah : 285].

Dalam hadits Jibriil yang terkenal/masyhuur disebutkan tentang rukun iman :
أَنْ تُؤْمِنَ بِاللهِ وَمَلاَئِكَتِهِ وَكُتُبِهِ وَرُسُلِهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ وَتُؤْمِنَ بِالْقَدَرِ خَيْرِهِ وَشَرِّهِ.
“(Iman itu adalah) engkau beriman kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya, dan hari akhir, serta engkau beriman kepada takdir yang baik maupun yang buruk” [lihat Al-Arba’uun An-Nawawiy no. 2].
Sebagai seorang muslim yang beriman kepada para malaikat-Nya, tentu kita dituntut untuk mengenal dan mengetahuinya. Minimal, kita kenal dan tahu nama-namanya. Setiap malaikat mempunyai nama, akan tetapi hanya sedikit di antaranya yang diketahui melalui perantaraan nash. Berikut akan kami tuliskan nama-nama malaikat yang terdapat dalam nash :
Jibriil (جبريل)
Allah ta’ala berfirman :
إِنْ تَتُوبَا إِلَى اللَّهِ فَقَدْ صَغَتْ قُلُوبُكُمَا وَإِنْ تَظَاهَرَا عَلَيْهِ فَإِنَّ اللَّهَ هُوَ مَوْلاهُ وَجِبْرِيلُ وَصَالِحُ الْمُؤْمِنِينَ وَالْمَلائِكَةُ بَعْدَ ذَلِكَ ظَهِيرٌ
“Jika kamu berdua bertaubat kepada Allah, maka sesungguhnya hati kamu berdua telah condong (untuk menerima kebaikan); dan jika kamu berdua bantu-membantu menyusahkan Nabi, maka sesungguhnya Allah adalah Pelindungnya dan (begitu pula) Jibril dan orang-orang mukmin yang baik; dan selain dari itu malaikat-malaikat adalah penolongnya pula” [QS. At-Tahriim : 4].
Jibriil ‘alaihis-salaam juga disebut sebagai Ar-Ruuh, sebagaimana firman-Nya :
تَنَزَّلُ الْمَلائِكَةُ وَالرُّوحُ فِيهَا بِإِذْنِ رَبِّهِمْ مِنْ كُلِّ أَمْرٍ
“Pada malam itu turun malaikat-malaikat dan Ar-Ruuh (Jibriil) dengan ijin Tuhannya untuk mengatur segala urusan” [QS. Al-Qadar : 4].
Juga sebagai Ar-Ruuhul-Amiin, sebagaimana firman-Nya :
نَزَلَ بِهِ الرُّوحُ الأمِينُ * عَلَى قَلْبِكَ لِتَكُونَ مِنَ الْمُنْذِرِينَ
“Dia dibawa turun oleh Ar-Ruuh Al-Amin (Jibriil), ke dalam hatimu (Muhammad) agar kamu menjadi salah seorang di antara orang-orang yang memberi peringatan” [QS. Asy-Syu’araa’ : 193-194].
Juga sebagai Ar-Ruuhul-Qudus, sebagaimana firman-Nya :
قُلْ نَزَّلَهُ رُوحُ الْقُدُسِ مِنْ رَبِّكَ بِالْحَقِّ لِيُثَبِّتَ الَّذِينَ آمَنُوا وَهُدًى وَبُشْرَى لِلْمُسْلِمِينَ
“Katakanlah : "Ruuhul-Qudus (Jibriil) menurunkan Al Quran itu dari Tuhanmu dengan benar, untuk meneguhkan (hati) orang-orang yang telah beriman, dan menjadi petunjuk serta kabar gembira bagi orang-orang yang berserah diri (kepada Allah)" [QS. An-Nahl : 102].
Miikaail (ميكائيل)
Allah ta’ala berfirman :
مَنْ كَانَ عَدُوًّا لِلَّهِ وَمَلائِكَتِهِ وَرُسُلِهِ وَجِبْرِيلَ وَمِيكَالَ فَإِنَّ اللَّهَ عَدُوٌّ لِلْكَافِرِينَ
“Barangsiapa yang menjadi musuh Allah, Malaikat-Malaikat-Nya, Rasul-Rasul-Nya, Jibriil dan Mikaiil, maka sesungguhnya Allah adalah musuh orang-orang kafir” [QS. Al-Baqarah : 98].
عَنْ سَعْدٍ قَالَ رَأَيْتُ عَنْ يَمِينِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَعَنْ شِمَالِهِ يَوْمَ أُحُدٍ رَجُلَيْنِ عَلَيْهِمَا ثِيَابُ بَيَاضٍ مَا رَأَيْتُهُمَا قَبْلُ وَلَا بَعْدُ يَعْنِي جِبْرِيلَ وَمِيكَائِيلَ عَلَيْهِمَا السَّلَام
Dari Sa'd, ia berkata : "Di hari terjadinya perang Uhud, aku melihat dua orang berpakaian putih-putih. Masing-masing berada di kanan dan kiri Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam yang aku tidak pernah melihat keduanya sebelum dan sesudah itu. Mereka ialah Jibriil dan Mikail 'alaihimas-salaam" [Diriwayatkan oleh Muslim no. 2306].
Israafiil (إسرافيل)
عَنْ عَائِشَةَ أَنَّهَا قَالَتْ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ اللَّهُمَّ رَبَّ جِبْرَائِيلَ وَمِيكَائِيلَ وَرَبَّ إِسْرَافِيلَ أَعُوذُ بِكَ مِنْ حَرِّ النَّارِ وَمِنْ عَذَابِ الْقَبْرِ
Dari 'Aaisyah bahwasannya ia berkata : Telah bersabda Rasulullah shallallaahu 'alaihi wa sallam : "Allaahumma Rabba Jibraaiila wa Miikaala wa Rabb Israafiila, A’uudzu bika min Harrin-Naari wa min ‘Adzaabil-Qabri (Ya Allah, Rabb Jibriil dan Mika'il, Rabb Israafiil, aku berlindung kepada-Mu dari panasnya api neraka dan siksa kubur)" [Diriwayatkan oleh An-Nasaa’iy no. 5519; dishahihkan oleh Al-Albaaniy dalam Shahih Sunan An-Nasaa’iy 3/479, Maktabah Al-Ma’aarif, Cet. 1/1419].
Ia lah malaikat yang diberikan tugas oleh Allah ta’ala untuk meniup sangkakala kelak di hari kiamat. Allah ta’ala berfirman :
وَيَوْمَ يُنْفَخُ فِي الصُّورِ فَفَزِعَ مَنْ فِي السَّمَاوَاتِ وَمَنْ فِي الأرْضِ إِلا مَنْ شَاءَ اللَّهُ وَكُلٌّ أَتَوْهُ دَاخِرِينَ
“Dan (ingatlah) hari (ketika) ditiup sangkakala, maka terkejutlah segala yang di langit dan segala yang di bumi, kecuali siapa yang dikehendaki Allah. Dan semua mereka datang menghadap-Nya dengan merendahkan diri” [QS. An-Naml : 87].
Ibnu Katsiir rahimahullah berkata :
يخبر تعالى عن هول يوم نفخة الفَزَع في الصُّور، وهو كما جاء في الحديث: "قرن ينفخ فيه". وفي حديث(الصُّور) أن إسرافيل هو الذي ينفخ فيه بأمر الله تعالى، فينفخ فيه أولا نفخة الفزع ويطولها، وذلك في آخر عمر الدنيا، حين تقوم الساعة على شرار الناس من الأحياء، فيفزع مَنْ في السموات ومَنْ في الأرض { إِلا مَنْ شَاءَ اللَّهُ }......
“Allah ta’ala mengkhabarkan tentang keterkejutan manusia pada hari ditiupnya sangkakala. Hal itu sebagaimana terdapat dalam sebuah hadits : ‘sangkakala ditiup pada waktu itu’. Dan dalam hadits sangkakala tersebut dinyatakan bahwa Israafiil-lah yang meniupnya dengan perintah Allah ta’ala. Tiupan pertama adalah tiupan yang mengejutkan, hingga cukup lama waktunya dan hal itu terjadi di akhir umur dunia ketika kiamat terjadi, menimpa manusia-manusia terburuk. Maka saat itu terkejutah penghuni langit dan bumi. ‘Kecuali siapa yang dikehendaki Allah’…..” [Tafsir Ibni Katsiir, 10/436; Muassasah Qurthubah, Cet. 1/1421].
Maalik (مالك)
Ia adalah malaikat penjaga neraka. Allah ta’ala berfirman :
وَنَادَوْا يَا مَالِكُ لِيَقْضِ عَلَيْنَا رَبُّكَ قَالَ إِنَّكُمْ مَاكِثُونَ
“Mereka berseru : ‘Hai Maalik, biarlah Tuhanmu membunuh kami saja’. Dia menjawab : ‘Kamu akan tetap tinggal (di neraka ini)" [QS. Az-Zukhruf : 77].
عَنْ سَمُرَةَ قَالَ قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ رَأَيْتُ اللَّيْلَةَ رَجُلَيْنِ أَتَيَانِي قَالَا الَّذِي يُوقِدُ النَّارَ مَالِكٌ خَازِنُ النَّارِ وَأَنَا جِبْرِيلُ وَهَذَا مِيكَائِيلُ
Dari Samurah, ia berkata : Telah bersabda Nabi shallallaahu 'alaihi wa sallam : "Aku bermimpi pada suatu malam, ada dua laki-laki yang datang kepadaku. Keduanya berkata : ‘Malaikat yang menyalakan api adalah Maalik sebagai penunggu neraka, sedangkan aku adalah Jibriil dan ini Miikaa'iil" [Diriwayatkan oleh Al-Bukhaariy no. 3236].
Ridlwaan (رضوان)
Ibnu Katsiir rahimahullah berkata :
وخازن الجنة ملك يقال له رضوان، جاء مصرحا به في بعض الأحاديث
“Dan penjaga surga adalah malaikat yang bernama Ridlwaan. Telah ada penjelasannya dalam beberapa hadits” [Al-Bidaayah wan-Nihaayah, 1/53, Maktabah Al-Ma’aarif, Cet. 1/1394].
Akan tetapi, beberapa peneliti (muhaqqiq) mengatakan nama ini tidak tsabt dalam Al-Qur'an maupun As-Sunnah. Wallaahu a'lam.
Zabaniyyah (زبانية)
Allah ta’ala berfirman :
فَلْيَدْعُ نَادِيَهُ * سَنَدْعُ الزَّبَانِيَةَ * كَلا لا تُطِعْهُ وَاسْجُدْ وَاقْتَرِبْ
“Maka biarlah dia memanggil golongannya (untuk menolongnya), kelak Kami akan memanggil malaikat Zabaniyah, sekali-kali jangan, janganlah kamu patuh kepadanya; dan sujudlah dan dekatkanlah (dirimu kepada Tuhan)” [QS. Al-‘Alaq : 17-19].
عَنْ عِكْرِمَةَ عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا { سَنَدْعُ الزَّبَانِيَةَ } قَالَ قَالَ أَبُو جَهْلٍ لَئِنْ رَأَيْتُ مُحَمَّدًا يُصَلِّي لَأَطَأَنَّ عَلَى عُنُقِهِ فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَوْ فَعَلَ لَأَخَذَتْهُ الْمَلَائِكَةُ عِيَانًا
Dari ‘Ikrimah, dari Ibnu Abbaas radliyallaahu 'anhumaa tentang ayat : ‘Kami akan memanggil malaikat Zabaaniyah’ (QS. Al-'Alaq 18), ia berkata : “Abu Jahl berkata : ‘Apabila aku melihat Muhammad sedang melakukan shalat, niscaya akan aku injak lehernya’. Kemudian Nabi shallallaahu 'alaihi wa sallam berkata : ‘Seandainya ia melakukannya niscaya para Malaikat akan menyambarnya dengan jelas" [Diriwayatkan oleh At-Tirmidziy no. 3348; dishahihkan oleh Al-Albaaniy dalam Shahih Sunan At-Tirmidziy 3/373, Maktabah Al-Ma’aarif, Cet. 1/1420].
Munkar dan Nakiir (المنكر والنكير)
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا قُبِرَ الْمَيِّتُ أَوْ قَالَ أَحَدُكُمْ أَتَاهُ مَلَكَانِ أَسْوَدَانِ أَزْرَقَانِ يُقَالُ لِأَحَدِهِمَا الْمُنْكَرُ وَالْآخَرُ النَّكِيرُ فَيَقُولَانِ مَا كُنْتَ تَقُولُ فِي هَذَا الرَّجُلِ فَيَقُولُ مَا كَانَ يَقُولُ هُوَ عَبْدُ اللَّهِ وَرَسُولُهُ أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ فَيَقُولَانِ قَدْ كُنَّا نَعْلَمُ أَنَّكَ تَقُولُ هَذَا ثُمَّ يُفْسَحُ لَهُ فِي قَبْرِهِ سَبْعُونَ ذِرَاعًا فِي سَبْعِينَ ثُمَّ يُنَوَّرُ لَهُ فِيهِ ثُمَّ يُقَالُ لَهُ نَمْ فَيَقُولُ أَرْجِعُ إِلَى أَهْلِي فَأُخْبِرُهُمْ فَيَقُولَانِ نَمْ كَنَوْمَةِ الْعَرُوسِ الَّذِي لَا يُوقِظُهُ إِلَّا أَحَبُّ أَهْلِهِ إِلَيْهِ حَتَّى يَبْعَثَهُ اللَّهُ مِنْ مَضْجَعِهِ ذَلِكَ وَإِنْ كَانَ مُنَافِقًا قَالَ سَمِعْتُ النَّاسَ يَقُولُونَ فَقُلْتُ مِثْلَهُ لَا أَدْرِي فَيَقُولَانِ قَدْ كُنَّا نَعْلَمُ أَنَّكَ تَقُولُ ذَلِكَ فَيُقَالُ لِلْأَرْضِ الْتَئِمِي عَلَيْهِ فَتَلْتَئِمُ عَلَيْهِ فَتَخْتَلِفُ فِيهَا أَضْلَاعُهُ فَلَا يَزَالُ فِيهَا مُعَذَّبًا حَتَّى يَبْعَثَهُ اللَّهُ مِنْ مَضْجَعِهِ ذَلِكَ
Dari Abu Hurairah, ia berkata : Telah bersabda Rasulullah shallallaahu 'alaihi wa sallam : "Jika salah seorang dari kalian dikuburkan, maka akan datang kepadanya dua malaikat yang hitam dan kedua mata mereka biru. Salah satunya bernama Munkar dan yang lainnya bernama Nakiir. Keduanya bertanya : 'Apakah pendapatmu mengenai lelaki ini ?'. Lalu dia menjawab sebagaimana yang pernah dikatakan dahulu : 'Dia adalah hamba Allah dan Rasul-Nya. Aku bersaksi bahwa tidak ada tuhan yang hak selain Allah dan Muhammad adalah hamba-Nya dan Rasul-Nya'. Keduanya berkata : 'Kami sudah mengetahui bahwa kamu akan mengucapkan demikian'. Kemudian kuburnya dilapangkan seluas tujuh puluh hasta dikali tujuh puluh hasta. Lalu diterangi dan dikatakan kepadanya : 'Tidurlah'. Dia berkata : 'Biarkanlah aku kembali kepada keluargaku untuk mengabarkan kepada mereka'. Keduanya berkata : 'Tidurlah seperti pengantin yang tidak dibangunkan kecuali oleh orang yang paling dia cintai'. Hingga Allah membangkitkannya dari tempat tidurnya. Adapun seorang munafik berkata : 'Aku hanya mendengar orang-orang mengatakanya lalu aku ikut mengatakannya. Aku tidak tahu’. Keduanya berkata : 'Kami sudah tahu mengatakan demikian’. Lalu dikatakan kepada bumi : 'Himpitlah dia !'. Lantas bumi menghimpitnya hingga persendiannya hancur. Dan dia terus diadzab di dalamnya hingga Allah membangkitkan dari tempat tidurnya" [Diriwayatkan oleh At-Tirmidziy no. 1071; dihasankan oleh Al-Albaaniy dalam Shahih Sunan At-Tirmidziy 1/544].
Haaruut dan Maaruut (هاروت وماروت)
Allah ta’ala berfirman :
وَاتَّبَعُوا مَا تَتْلُو الشَّيَاطِينُ عَلَى مُلْكِ سُلَيْمَانَ وَمَا كَفَرَ سُلَيْمَانُ وَلَكِنَّ الشَّيَاطِينَ كَفَرُوا يُعَلِّمُونَ النَّاسَ السِّحْرَ وَمَا أُنْزِلَ عَلَى الْمَلَكَيْنِ بِبَابِلَ هَارُوتَ وَمَارُوتَ وَمَا يُعَلِّمَانِ مِنْ أَحَدٍ حَتَّى يَقُولا إِنَّمَا نَحْنُ فِتْنَةٌ فَلا تَكْفُرْ فَيَتَعَلَّمُونَ مِنْهُمَا مَا يُفَرِّقُونَ بِهِ بَيْنَ الْمَرْءِ وَزَوْجِهِ وَمَا هُمْ بِضَارِّينَ بِهِ مِنْ أَحَدٍ إِلا بِإِذْنِ اللَّهِ وَيَتَعَلَّمُونَ مَا يَضُرُّهُمْ وَلا يَنْفَعُهُمْ وَلَقَدْ عَلِمُوا لَمَنِ اشْتَرَاهُ مَا لَهُ فِي الآخِرَةِ مِنْ خَلاقٍ وَلَبِئْسَ مَا شَرَوْا بِهِ أَنْفُسَهُمْ لَوْ كَانُوا
“Dan mereka mengikuti apa yang dibaca oleh syaitan-setan pada masa kerajaan Sulaiman (dan mereka mengatakan bahwa Sulaiman itu mengerjakan sihir), padahal Sulaiman tidak kafir (tidak mengerjakan sihir), hanya setan-setan itulah yang kafir (mengerjakan sihir). Mereka mengajarkan sihir kepada manusia dan apa yang diturunkan kepada dua orang malaikat di negeri Babil yaitu Haaruut dan Maaruut, sedang keduanya tidak mengajarkan (sesuatu) kepada seorang pun sebelum mengatakan : ‘Sesungguhnya kami hanya cobaan (bagimu), sebab itu janganlah kamu kafir’. Maka mereka mempelajari dari kedua malaikat itu apa yang dengan sihir itu, mereka dapat menceraikan antara seorang (suami) dengan istrinya. Dan mereka itu (ahli sihir) tidak memberi mudarat dengan sihirnya kepada seorang pun kecuali dengan izin Allah. Dan mereka mempelajari sesuatu yang memberi mudarat kepadanya dan tidak memberi manfaat. Demi, sesungguhnya mereka telah meyakini bahwa barang siapa yang menukarnya (kitab Allah) dengan sihir itu, tiadalah baginya keuntungan di akhirat dan amat jahatlah perbuatan mereka menjual dirinya dengan sihir, kalau mereka mengetahui” [QS. Al-Baqarah : 102].
Catatan :
1.         Tidak ada riwayat shahih yang menyebutkan nama malaikat dengan ‘Izraaiil.
2.         Sebagian ulama ada yang mengatakan bahwa di antara malaikat ada yang bernama Raqiib dan ‘Atiid dengan bersandar ayat :
إِذْ يَتَلَقَّى الْمُتَلَقِّيَانِ عَنِ الْيَمِينِ وَعَنِ الشِّمَالِ قَعِيدٌ * مَا يَلْفِظُ مِنْ قَوْلٍ إِلا لَدَيْهِ رَقِيبٌ عَتِيدٌ
“(Yaitu) ketika dua orang malaikat mencatat amal perbuatannya, seorang duduk di sebelah kanan dan yang lain duduk di sebelah kiri. Tiada suatu ucapan pun yang diucapkannya melainkan ada di dekatnya Raqiib ‘Atiid (malaikat pengawas yang selalu hadir)” [QS. Qaaf : 17-18].
Namun itu tidak benar, sebab raqiib ‘atiid merupakan sifat bagi dua malaikat pencatat amal yang selalu hadir dan menyaksikan apa apa yang diperbuat manusia dalam kehidupannya.
3.         Para ulama berbeda pendapat tentang asal muasal iblis. Dinisbatkan kepada jumhur ulama bahwa mereka berpendapat iblis merupakan keturunan malaikat. Sebagian di antara mereka berpendapat bahwa moyang iblis dari kalangan malaikat itu bernama ‘Azaaziil dengan menisbatkan pada perkataan Ibnu ‘Abbaas radliyallaahu ‘anhumaa :
حدثنا ابن حميد، قال: ثنا سلمة، عن ابن إسحاق، عن خلاد بن عطاء، عن طاوس، عن ابن عباس قال: كان اسمه قبل أن يركب المعصية عزازيل، وكان من سكان الأرض، وكان من أشدّ الملائكة
Telah menceritakan kepada kami Ibnu Humaid, ia berkata : Telah menceritakan kepada kami Salamah, dari Ibnu Ishaaq, dari Khalaad bin ‘Athaa’, dari Thaawuus, dari Ibnu ‘Abbaas, ia berkata : “Namanya sebelum bergelimang maksiat adalah ‘Azaaziil, termasuk golongan malaikat yang tinggal di bumi dan malaikat yang paling bersungguh-sungguh (dalam beribadah kepada Allah)” [Tafsir Ath-Thabariy, 18/39].
Namun riwayat ini sangat lemah, karena Ibnu Humaid. Selain itu bertentangan dengan firman Allah ta’ala :
فَسَجَدُوا إِلا إِبْلِيسَ كَانَ مِنَ الْجِنِّ
“…Maka sujudlah mereka kecuali iblis. Dia adalah dari golongan jin….” [QS. Al-Kahfiy : 50].
عَنْ عَائِشَةَ قَالَتْ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ خُلِقَتْ الْمَلَائِكَةُ مِنْ نُورٍ وَخُلِقَ الْجَانُّ مِنْ مَارِجٍ مِنْ نَارٍ وَخُلِقَ آدَمُ مِمَّا وُصِفَ لَكُمْ
Dari ‘Aaisyah, ia berkata : Telah bersabda Rasulullah shallallaahu 'alaihi wa sallam : "Malaikat diciptakan dari cahaya, jin diciptakan dari api yang menyala-nyala dan Adam diciptakan dari sesuatu yang telah disebutkan (ciri-cirinya) untuk kalian" [Diriwayatkan oleh Muslim no. 2996].
Wallaahu a’lam bish-shawwaab.
[abul-jauzaa’, 4 Ramadlaan 1431 – banyak mengambil faedah dari buku ‘Alaamul-Malaaikah Al-Abraar oleh Dr. ‘Umar bin Sulaimaan Al-Asyqar, hal. 16-18; Maktabah Al-Falaah, Cet. 3/1403, Kuwait; dengan beberapa tambahan].
READ MORE - Nama-Nama Malaikat

Dosa Besar (Al-Kabaair)

Allah ta’ala berfirman :
إِنْ تَجْتَنِبُوا كَبَائِرَ مَا تُنْهَوْنَ عَنْهُ نُكَفِّرْ عَنْكُمْ سَيِّئَاتِكُمْ وَنُدْخِلْكُمْ مُدْخَلا كَرِيمًا
“Jika kamu menjauhi dosa-dosa besar di antara dosa-dosa yang dilarang kamu mengerjakannya, niscaya Kami hapus kesalahan-kesalahanmu (dosa-dosamu yang kecil) dan Kami masukkan kamu ke tempat yang mulia (surga)” [QS. An-Nisaa’ : 31].
Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda :
الصَّلَوَاتُ الْخَمْسُ وَالْجُمْعَةُ إِلَى الْجُمْعَةِ وَرَمَضَانُ إِلَى رَمَضَانَ مُكَفِّرَاتٌ مَا بَيْنَهُنَّ إِذَا اجْتَنَبَ الْكَبَائِرَ
“Shalat fardlu yang lima, shalat Jum’at hingga shalat Jum’at berikutnya, dan puasa Ramadlaan hingga puasa Ramadlaan berikutnya adalah penghapus dosa-dosa yang ada di antaranya, apabila orang tersebut meninggalkan dosa-dosa besar” [Diriwayatkan oleh Muslim no. 233].
Dosa besar dalam dua nash di atas disebutkan dengan kabaair (كَبَائِرٌ).

Ibnul-Mandhuur rahimahullah berkata :
ابن سيده: والكِبْرُ الإِثم الكبير وما وعد الله عليه النار. والكِبْرَةُ: كالكِبْرِ، التأْنيث على المبالغة. وفي التنزيل العزيز: الذين يَجْتَنِبُون كبائرَ الإِثم والفَواحشَ. وفي الأَحاديث ذكر الكبائر في غير موضع، واحدتها كبيرة، وهي الفَعْلةُ القبيحةُ من الذنوب المَنْهِيِّ عنها شرعاً، العظيم أَمرها كالقتل والزنا والفرار من الزحف وغير ذلك
“Ibnu Sayyidih berkata : ‘Dan al-kibru adalah dosa besar yang Allah ancam dengan siksa neraka. Dan al-kibratu adalah seperti al-kibru, dimana penambahan huruf ta’ ta’niits (ة) menunjukkan makna mubalaghah (sangat)’. Dalam Al-Qur’an disebutkan : ‘Yaitu) orang yang menjauhi dosa-dosa besar (kabaair) dan perbuatan keji’ (QS. An-Najm : 32). Dan dalam hadits-hadits, penyebutan kata kabaair terdapat dalam beberapa tempat. Bentuk tunggal dari kabaair adalah kabiirah (كَبِيْرَةٌ), maknanya : perbuatan jelek dari dosa-dosa yang dilarang oleh syari’at karena begitu besarnya perkara tersebut, seperti : pembunuhan, zina, melarikan diri dari pertempuran (jihad), dan yang lainnya” [Lisaanul-‘Arab, hal. 3809, tahqiq : ‘Abdullah bin ‘Aliy Al-Kabiir dkk.; Daarul-Ma’aarif, Kairo].
Banyak ulama yang mendefinisikan makna dosa besar (kabaair) menurut terminologi syari’at.
Ibnu Jarir rahimahullah membawakan riwayat sebagai berikut :
حدثني يعقوب، حدثنا ابن علية، أخبرنا أيوب، عن محمد بن سيرين قال: نبئت أن ابن عباس كان يقول: كل ما نهى الله عنه كبيرة
Telah menceritakan kepada kami Ya’quub[1] : Telah menceritakan kepada kami Ibnu ‘Ulayyah[2] : Telah mengkhabarkan kepada kami Ayyuub[3], dari Muhammad bin Siiriin[4], ia berkata : “Aku diberi tahu bahwa Ibnu ‘Abbaas berkata : ‘Setiap hal yang dilarang Allah adalah dosa besar” [Tafsir Ibnu Jariir 8/244 no. 9202 dan Tafsiir Ibni Katsiir 2/283; shahih].
حدثنا أبو كريب قال، حدثنا هشيم، عن منصور، عن ابن سيرين، عن ابن عباس قال: ذكرت عنده الكبائر فقال: كل ما نهى الله عنه فهو كبيرة.
Telah menceritakan kepada kami Abu Kuraib[5], ia berkata : Telah menceritakan kepada kami Husyaim[6], dari Manshuur[7], dari Ibnu Siiriin, dari Ibnu ‘Abbaas, ia berkata : Disebutkan di sisinya tentang dosa-dosa besar (al-kabaair), lalu ia berkata : Setiap hal yang dilarang Allah, maka ia adalah dosa besar” [Tafsiir Ibni Jariir 8/244 no. 9201; dla’if karena ‘an’anah Husyaim, akan tetapi ia hasan karena riwayat sebelumnya].
حدثني يعقوب بن إبراهيم قال، حدثنا ابن علية قال، أخبرنا هشام بن حسان، عن محمد بن واسع قال، قال سعيد بن جبير: كل موجبة في القرآن كبيرة.
Telah menceritakan kepada kami Ya’quub bin Ibraahiim, ia berkata : Telah menceritakan kepada kami Ibnu ‘Ulayyah, ia berkata : Telah mengkhabarkan kepada kami Hisyaam bin Hassaan[8], dari Muhammad bin Waasi’[9], ia berkata : Telah berkata Sa’iid bin Jubair[10] : “Semua hal yang menyebabkan/mengkonsekuensikan (ancaman neraka) dalam Al-Qur’an adalah dosa besar” [idem, 8/246-247 no. 9213; shahih].
حدثنا ابن وكيع قال، حدثنا أبي، عن محمد بن مِهْزَم الشعاب، عن محمد بن واسع الأزدي، عن سعيد بن جبير قال: كل ذنب نسبه الله إلى النار، فهو من الكبائر
Telah menceritakan kepada kami Ibnu Wakii’[11], ia berkata : Telah menceritakan kepada kami ayahku[12], dari Muhammad bin Mihzam Asy-Sya’’aab[13], dari Muhammad bin Waasi’ Al-Azdiy, dari Sa’iid bin Jubair, ia berkata : “Setiap dosa yang Allah nisbatkan pelakunya (masuk) ke dalam neraka, maka itu termasuk dosa besar” [idem, 8/247 no. 9214; dla’if karena Ibnu Wakii’, namun ia hasan dengan riwayat sebelumnya yang semakna].
حدثني محمد بن عمرو قال، حدثنا أبو عاصم، عن عيسى، عن ابن أبي نجيح، عن مجاهد في قول الله:"إن تجتنبوا كبائر ما تنهون عنه"، قال: الموجبات.
Telah menceritakan kepadaku Muhammad bin ‘Amru[14], ia berkata : Telah menceritakan kepada kami Abu ‘Aashim[15], dari ‘Iisaa[16], dari Ibnu Abi Najiih[17], dari Mujaahid tentang firman Allah ta’ala : ‘Jika kamu menjauhi dosa-dosa besar di antara dosa-dosa yang dilarang kamu mengerjakannya’; ia berkata : “Hal-hal yang menyebabkan/mengkonsekuensikan (ancaman neraka)” [idem, 8/247 no. 9216; shahih].
Ar-Raafi’iy rahimahullah berkata dalam Asy-Syarhul-Kabiir :
الكبيرة هي الموجبة للحد، وقيل ما يلحق الوعيد بصاحبه بنص كتاب أو سنة
“Dosa besar adalah sesuatu yang mengkonsekuensikan adanya hadd. Dikatakan pula, segala sesuatu yang menetapkan adanya ancaman bagi pelakunya berdasarkan nash Al-Qur’an dan As-Sunnah” [Fathul-Baariy, 12/183].
Al-Maawardiy rahimahullah berkata dalam Al-Haawiy :
هي ما يوجب الحد أو توجه إليها الوعيد
“Dosa besar adalah segala sesuatu yang mewajibkan adanya hadd atau ditujukan kepadanya ancaman” [idem, 12/184].
Al-Baghawiy rahimahullah berkata :
فكل ما يوجب الحد من المعاصي فهو كبيرة، وقيل ما يلحق الوعيد بصاحبه بنص كتاب أو سنة
“Semua kemaksiatan yang mewajibkan adanya hadd, maka ia dinamakan dosa besar. Dikatakan pula, segala sesuatu yang menetapkan adanya ancaman bagi pelakunya berdasarkan nash Al-Qur’an dan As-Sunnah” [idem].
Ibnu ‘Abdis-Salaam rahimahullah berkata :
لم أقف على ضابط الكبيرة يعني يسلم من الاعتراض، قال: والأولى ضبطها بما يشعر بتهاون مرتكبها إشعار أصغر الكبائر المنصوص عليها، قال وضبطها بعضهم بكل ذنب قرن به وعيد أو لعن
“Aku tidak mengetahui adanya satu batasan tentang dosa besar yang selamat dari sanggahan/kritik. Yang lebih tepat adalah membatasinya dengan sesuatu yang mengandung sikap peremehan orang yang melakukannya, sebagaimana sikap orang terhadap dosa besar yang paling kecil yang telah ditetapkan (dosa/hukuman) padanya. Sebagian lagi membatasinya dengan setiap dosa yang dihubungkan dengan ancaman atau laknat” [idem].
Ibnu Shalaah rahimahullah berkata :
لها أمارات منها إيجاب الحد، ومنها الإيعاد عليها بالعذاب بالنار ونحوها في الكتاب أو السنة، ومنها وصف صاحبها بالفسق، ومنها اللعن
“Ia mempunyai beberapa tanda/alamat, antara lain mengkonsekuensikan adanya hadd, adanya ancaman adzab neraka dan yang lainnya yang terdapat dalam Al-Qur’an dan As-Sunnah, disifatinya pelaku dengan kefasikan, dan adanya laknat” [idem].
Ibnu Hajar rahimahullah berkata :
ومن أحسن التعاريف قول القرطبي في المفهم " كل ذنب أطلق عليه بنص كتاب أو سنة أو إجماع أنه كبيرة أو عظيم أو أخبر فيه بشدة العقاب أو علق عليه الحد أو شدد النكير عليه فهو كبيرة "
“Dan definisi yang paling baik adalah perkataan Al-Qurthubiy[18] dalam Al-Mufhim : Setiap dosa yang telah dimutlakkan dengannya melalui Al-Qur’an, As-Sunnah, dan ijma’ bahwasannya ia sebagai dosa besar dengan lafadh kabiirah atau ‘adhiim; atau dikhabarkan padanya dengan kerasnya siksa (bagi pelaku); atau dikaitkan padanya hadd; atau kerasnya pengingkaran; maka itu semua adalah dosa besar” [idem].
Al-Qurthubiy Al-Mufassir rahimahullah berkata :
فكل ذنب عظم الشرع التوعد عليه بالعقاب وشدده، أو عظم ضرره في الوجود كما ذكرنا فهو كبيرة وما عداه صغيرة. فهذا يربط لك هذا الباب ويضبطه، والله أعلم.
“Maka setiap dosa yang ditetapkan syari’at dengan besar atau kerasnya ancaman padanya, atau besarnya bahaya/kerusakan perbuatan tersebut sebagaimana telah kami sebutkan, adalah dosa besar. Adapun selain dari itu disebut dosa kecil. Inilah yang mengikatmu dalam bab ini beserta batasannya. Wallaahu a’lam” [Tafsir Al-Qurthubiy, 5/160-161].
Adapun nash-nash yang menyebutkan tentang dosa besar, jumlahnya, jenisnya, dan lafadh-lafadhnya dapat disebutkan sebagai berikut :
Allah ta’ala berfirman :
إِنَّ الَّذِينَ يَكْتُمُونَ مَا أَنْزَلْنَا مِنَ الْبَيِّنَاتِ وَالْهُدَى مِنْ بَعْدِ مَا بَيَّنَّاهُ لِلنَّاسِ فِي الْكِتَابِ أُولَئِكَ يَلْعَنُهُمُ اللَّهُ وَيَلْعَنُهُمُ اللاعِنُونَ * إِلا الَّذِينَ تَابُوا وَأَصْلَحُوا وَبَيَّنُوا فَأُولَئِكَ أَتُوبُ عَلَيْهِمْ وَأَنَا التَّوَّابُ الرَّحِيمُ
“Sesungguhnya orang-orang yang menyembunyikan apa yang telah Kami turunkan berupa keterangan-keterangan (yang jelas) dan petunjuk, setelah Kami menerangkannya kepada manusia dalam Al-Kitab, mereka itu dilaknati Allah dan dilaknati (pula) oleh semua (makhluk) yang dapat melaknati, kecuali mereka yang telah taubat dan mengadakan perbaikan dan menerangkan (kebenaran), maka terhadap mereka itu Aku menerima taubatnya dan Akulah Yang Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang” [QS. Al-Baqarah : 159-160].
حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ مُنِيرٍ سَمِعَ وَهْبَ بْنَ جَرِيرٍ وَعَبْدَ الْمَلِكِ بْنَ إِبْرَاهِيمَ قَالَا حَدَّثَنَا شُعْبَةُ عَنْ عُبَيْدِ اللَّهِ بْنِ أَبِي بَكْرِ بْنِ أَنَسٍ عَنْ أَنَسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ سُئِلَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنْ الْكَبَائِرِ قَالَ الْإِشْرَاكُ بِاللَّهِ وَعُقُوقُ الْوَالِدَيْنِ وَقَتْلُ النَّفْسِ وَشَهَادَةُ الزُّورِ
Telah menceritakan kepada kami ‘Abdullah bin Muniir, ia mendengar Wahb bin Jariir dan ‘Abdul-Malik bin Ibraahiim, mereka berdua berkata : Telah menceritakan kepada kami Syu’bah, dari ‘Ubaidullah bin Abi Bakr bin Anas, dari Anas radliyallaahu ‘anhu, ia berkata : Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam pernah ditanya tentang dosa besar (al-kabaair). Beliau bersabda : “Syirik kepada Allah, durhaka kepada dua orang tua, membunuh jiwa (tanpa hak), dan persaksian palsu” [Diriwayatkan oleh Al-Bukhaariy no. 2653].
حَدَّثَنَا أَحْمَدُ بْنُ يُونُسَ حَدَّثَنَا إِبْرَاهِيمُ بْنُ سَعْدٍ عَنْ أَبِيهِ عَنْ حُمَيْدِ بْنِ عَبْدِ الرَّحْمَنِ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرٍو رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّ مِنْ أَكْبَرِ الْكَبَائِرِ أَنْ يَلْعَنَ الرَّجُلُ وَالِدَيْهِ قِيلَ يَا رَسُولَ اللَّهِ وَكَيْفَ يَلْعَنُ الرَّجُلُ وَالِدَيْهِ قَالَ يَسُبُّ الرَّجُلُ أَبَا الرَّجُلِ فَيَسُبُّ أَبَاهُ وَيَسُبُّ أُمَّهُ
Telah menceritakan kepada kami Ahmad bin Yuunus : Telah menceritakan kepada kami Ibraahiim bin Sa’d, dari ayahnya, dari Humaid bin ‘Abdirrahmaan, dari ‘Abdullah bin ‘Amru radliyallaahu ‘anhumaa, ia berkata : Telah bersabda Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam : “Sesungguhnya termasuk di antara dosa besar yang paling besar adalah seseorang yang melaknat kedua orang tuanya”. Dikatakan kepada beliau : “Wahai Rasulullah, bagaimana bisa seseorang melaknat kedua orang tuanya ?”. Beliau menjawab : “Orang itu memaki ayah orang lain, sehingga orang  lain itu balas memaki ayah dan ibunya (orang pertama)” [Diriwayatkan oleh Al-Bukhaariy no. 5973].
حدثني هارون بن سعيد الأيلي. حدثنا ابن وهب. قال: حدثني سليمان بن بلال، عن ثور بن زيد، عن أبي الغيث، عن أبي هريرة؛ أن رسول الله صلى الله عليه وسلم قال : "اجتنبوا السبع الموبقات" قيل: يا رسول الله! وما هن؟ قال: "الشرك بالله. والسحر. وقتل النفس التي حرم الله إلا بالحق. وأكل مال اليتيم. وأكل الربا. والتولي يوم الزحف. وقذف المحصنات الغافلات المؤمنات".
Telah menceritakan kepadaku Haaruun bin Sa’iid Al-Ailiy : Telah menceritakan kepada kami Ibnu Wahb, ia berkata : Telah menceritakan kepadaku Sulaimaan bin Bilaal, dari Tsaur bin Zaid, dari Abul-Ghaits, dari Abu Hurairah : Bahwasannya Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda : “Jauhilah oleh kalian tujuh perkara yang membinasakan. Dikatakan : “Wahai Rasulullah, apakah itu ?”. Beliau menjawab : “Syirik kepada Allah, sihir, membunuh jiwa yang diharamkan Allah kecuali dengan hak, memakan harta anak yatim, memakan riba, melarikan diri dari peperangan, dan menuduh wanita mukminah baik-baik lagi suci telah berbuat zina” [Diriwayatkan oleh Muslim no. 89].
حدثنا أبو عبد الرحمن ثنا حيوة قال أخبرني أبو هانئ أن أبا على عمرو بن مالك الجنبي حدثه فضالة بن عبيد عن رسول الله صلى الله عليه وسلم انه قال : ثلاثة لا تسأل عنهم رجل فارق الجماعة وعصى إمامه ومات عاصيا وأمة أو عبد أبق فمات وامرأة غاب عنها زوجها قد كفاها مؤنة الدنيا فتبرجت بعده فلا تسأل عنهم وثلاثة لا تسأل عنهم رجل نازع الله عز وجل رداءه فان رداءه الكبرياء وإزاره العزة ورجل شك في أمر الله والقنوط من رحمه الله
Telah menceritakan kepada kami Abu ‘Abdirrahmaan[19] : Telah menceritakan kepada kami Haiwah[20], ia berkata : Telah mengkhabarkan kepadaku Abu Haani’[21] : Bahwasannya Abu ‘Aliy ‘Amru bin Maalik Al-Janbiy[22] telah menceritakan kepadanya Fudlaalah bin ‘Ubaid[23] dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, bahwasannya beliau bersabda : Ada tiga orang yang jangan engkau tanyakan tentang keadaan mereka : (1) seorang laki-laki yang memisahkan diri dari jama’ah dan durhaka kepada imamnya dan ia pun akirnya mati dalam keadaan durhaka, (2) budak wanita atau laki-laki yang melarikan diri, dan kemudian mati (dalam keadaan tersebut), serta (3) wanita yang ditinggal pergi suaminya dimana suaminya itu telah mencukupinya dengan nafkah dunia, lalu ia bertabarruj setelahnya (untuk selain suaminya). Jangan engkau tanya keadaan mereka !. Ada tiga orang lagi yang jangan engkau tanyakan tentang keadaan mereka : (1) seorang laki-laki yang menyaingi selendang Allah ‘azza wa jallaa, sedangkan selendang-Nya itu adalah kesombongan dan sarungnya adalah kemuliaan, (2) seorang laki-laki yang ragu akan kekuasaan Allah, serta (3) putus asa dari rahmat Allah” [Diriwayatkan oleh Ahmad 6/19; shahih].
حدثنا عثمان بن أبي شيبة وإسحاق بن إبراهيم. قال إسحاق: أخبرنا جرير. وقال عثمان: حدثنا جرير عن منصور، عن أبي وائل، عن عمرو بن شرحبيل، عن عبدالله قال :  سألت رسول الله صلى الله عليه وسلم: أي الذنب أعظم عند الله؟ قال "أن تجعل لله ندا وهو خلقك" قال قلت له: إن ذلك لعظيم. قال قلت: ثم أي؟ قال: "ثم أن تقتل ولدك مخافة أن يطعم معك" قال قلت: ثم أي؟ قال "ثم أن تزاني حليلة جارك".
Telah menceritakan kepada kami ‘Utsmaan bin Abi Syaibah dan Ishaaq bin Ibraahiim. Ishaaq berkata : Telah mengkhabarkan kepada kami Jariir. ‘Utsmaan berkata : Telah menceritakan kepada kami Jariir; dari Manshuur, dari Abu Waail, dari ‘Amru bin Syarahbiil, dari ‘Abdullah (bin Mas’uud), ia berkata : “Aku pernah bertanya kepada Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam : ‘Dosa apakah yang paling besar di sisi Allah ?”. Beliau menjawab : “Engkau membuat tandingan bagi Allah, padahal Dia yang menciptakanmu”. Aku berkata : “Sesungguhnya hal itu memang dosa yang sangat besar. Kemudian apa ?”. Beliau menjawab : “Kemudian, engkau membunuh anakmu karena khawatir ia akan makan bersamamu”. Aku berkata : “Kemudian apa ?”. Beliau menjawab : “Kemudian, engkau berzina dengan istri tetanggamu” [Diriwayatkan oleh Muslim no. 86].
حدثنا ابن سلام: أخبرنا عبيدة بن حميد أبو عبد الرحمن، عن منصور، عن مجاهد، عن ابن عباس قال : خرج النبي صلى الله عليه وسلم من بعض حيطان المدينة، فسمع صوت إنسانين يعذبان في قبورهما، فقال: (يعذبان، وما يعذبان في كبير، وإنه لكبير، كان أحدهما لا يستتر من البول، وكان الآخر يمشي بالنميمة). ثم دعا بجريدة فكسرها بكسرتين أو ثنتين، فجعل كسرة في قبر هذا، وكسرة في قبر هذا، فقال: (لعله يخفف عنهما ما لم ييبسا).
Telah menceritakan kepada kami Ibnu Salaam : Telah mengkhabarkan kepada kami ‘Ubaidah bin Humaid Abu ‘Abdirrahmaan, dari Manshuur, dari Mujaahid, dari Ibnu ‘Abbaas, ia berkata : Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam pernah keluar dari sebagian pekuburan di Madinah. Lalu beliau mendengar suara dua orang manusia yang sedang diadzab di kuburnya. Beliau bersabda : ‘Keduanya sedang diadzab. Tidaklah keduanya diadzab karena dosa besar (menurut prasangka keduanya), padahal itu merupakan dosa besar. Salah satu di antara keduanya diadzab karena tidak membersihkan diri/bersuci dari kencing, dan yang lain karena selalu melakukan namiimah (adu domba)”. Kemudian beliau meminta pelepah daun kurma yang masih basah dan membelahnya menjadi dua bagian. Satu bagian potongan ditancapkan di salah satu kubur tersebut, dan satu bagian lagi di kubur yang lain. Lalu beliau bersabda : “Semoga hal ini dapat meringankan siksa keduanya selama pelepah itu belum kering” [Diriwayatkan oleh Al-Bukhaariy no. 6055].
Al-Bukhaariy meletakkan hadits di atas pada bab : Termasuk dosa besar tidak berlindung diri dari air kencingnya  (من الكبائر أن لا يستتر من بوله) dan bab : Namiimah termasuk dosa besar (النميمة من الكبائر).
حدثنا أبو بكر بن أبي شيبة، ومحمد بن المثنى، وابن بشار، قالوا: حدثنا محمد بن جعفر، عن شعبة، عن علي ابن مدرك، عن أبي زرعة، عن خرشة بن الحر، عن أبي ذر، عن النبي صلى الله عليه وسلم قال" ثلاثة لا يكلمهم الله يوم القيامة، ولا ينظر إليهم، ولا يزكيهم، ولهم عذاب أليم" قال فقرأها رسول الله صلى الله عليه وسلم ثلاث مرار. قال أبو ذر: خابوا وخسروا. من هم يا رسول الله؟ قال" المسبل والمنان والمنفق سلعته بالحلف الكاذب".
Telah menceritakan kepada kami Abu Bakr bin Abi Syaibah, Muhammad bin Al-Mutsannaa, dan Ibnu Basyaar, mereka berkata : Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Ja’far, dari Syu’bah, dari ‘Aliy bin Mudrik, dari Abu Zur’ah, dari Kharsyah bin Al-Hurr, dari Abu Dzarr, dari Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda : Ada tiga golongan yang tidak akan diajak bicara oleh Allah di hari kiamat, tidak dilihat, dan tidak pula disucikan serta baginya adzab yang sanga pedih.  Abu Dzar berkata : “Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam mengucapkannya tiga kali”. Kemudian Abu Dzarr bertanya : “Sungguh sangat jelek dan meruginya, Siapakah mereka itu wahai Rasulullah ?”. Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda : “(Mereka adalah) Musbil (orang yang melakukan isbal), orang yang gemar mengungkit-ungkit kebaikan yang telah diberikan, dan orang yang menjual barang dagangannya dengan sumpah palsu” [Diriwayatkan oleh Muslim no. 106].
حدثنا محمد بن بشار، قال: حدثنا عبد الرحمن قال، حدثنا سفيان، عن الأعمش، عن أبي الضحى، عن مسروق، عن عبد الله قال: الكبائر، من أول"سورة النساء" إلى ثلاثين منها.
Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Basyaar[24], ia berkata : Telah menceritakan kepada kami ‘Abdurrahmaan[25], ia berkata : Telah menceritakan kepada kami Sufyaan[26], dari Al-A’masy[27], dari Abudl-Dluhaa[28], dari Masruuq[29], dari ‘Abdullah bin Mas’uud, ia berkata : “Dosa-dosa besar (al-kabaair) adalah yang tercantum di awal surat An-Nisaa’ sampai ayat tigapuluh” [Diriwayatkan oleh Ath-Thabariy dalam At-Tafsiir, 8/233 no. 9168; sanadnya dla’if karena ‘an’anah Al-A’masy, dan ia seorang mudallis. Akan tetapi ia shahih dengan banyaknya jalan periwayatan].
حدثني ابن المثنى قال، حدثني وهب بن جرير قال، حدثنا شعبة، عن عبد الملك، عن أبي الطفيل، عن عبد الله قال: الكبائر أربع: الإشراك بالله، والأمن من مكر الله، والإياس من رَوْح الله، والقنوط من رحمة الله
Telah menceritakan kepada kami Ibnul-Mutsannaa[30], ia berkata : Telah menceritakan kepadaku Wahb bin Jariir[31], ia berkata : Telah menceritakan kepada kami Syu’bah[32], dari ‘Abdul-Malik[33], dari Abuth-Thufail[34], dari ‘Abdullah (bin Mas’uud), ia berkata : “Dosa-dosa besar (al-kabaair) itu ada empat, yaitu syirik kepada Allah, merasa aman dari makar Allah, putus asa dari kemudahan/karunia Allah, dan putus asa dari rahmat Allah” [Diriwayatkan oleh Ath-Thabariy dalam At-Tafsiir, 8/243 no. 9196; shahih].
حدثني يعقوب بن إبراهيم قال، حدثنا ابن علية قال، أخبرنا زياد بن مخراق، عن طيسلة بن مياس قال: كنت مع النَّجَدات، فأصبت ذنوبًا لا أراها إلا من الكبائر! فلقيت ابن عمر فقلت: أصبتُ ذنوبًا لا أراها إلا من الكبائر! قال: وما هي؟ قلت: أصبت كذا وكذا. قال: ليس من الكبائر = قال: لشيء لم يسمِّه طيسلة = قال: هي تسع، وسأعدُّهن عليك: الإشراك بالله، وقتل النَّسَمة بغير حِلِّها، والفرار من الزحف، وقذفُ المحصنة، وأكل الربا، وأكل مال اليتيم ظلمًا، وإلحادٌ في المسجد الحرام، والذي يستسحر، وبكاء الوالدين من العقوق = قال زياد: وقال طيسلة: لما رأى ابن عمر فَرَقِي قال أتخاف النار أن تدخلها؟ قلت: نعم! قال: وتحب أن تدخل الجنة؟ قلت: نعم! قال: أحيٌّ والداك؟ قلت: عندي أمي. قال: فوالله لئن أنت ألَنْت لها الكلام، وأطعمتها الطعامَ، لتدخلنّ الجنة ما اجتَنَبْتَ الموجِبات
Telah menceritakan kepada kami Ya’quub bin Ibraahiim, ia berkata : Telah berkata kepada kami Ibnu ‘Ulayyah, ia berkata : Telah mengkhabarkan kepada kami Ziyaad bin Mikhraaq[35], dari Thaisalah bin Mayyaas[36], ia berkata : Aku pernah bersama/bergabung dengan kelompok Najdaat (yaitu : kelompoknya Najdah bin ‘Aamir Al-Khaarijiy), lalu kemudian aku tertimpa satu dosa yang aku melihatnya termasuk dosa-dosa besar. Lalu aku menemui Ibnu ‘Umar, lalu kukatakan kepadanya : “Aku tertimpa dosa yang aku melihatnya termasuk dosa-dosa besar”. Ia bertanya : “Apakah itu ?”. Aku berkata : “Aku mengalami demikian dan demikian”. Ia menjawab : “Itu bukan dosa besar. Dosa besar itu ada sembilan macam. Akan aku sebutkan kepadamu : (1) Syirik kepada Allah, (2) membunuh jiwa tanpa kehalalannya, (3) melarikan diri dari pertempuran/jihad, (4) menuduh wanita baik-baik lagi suci telah berzina, (5) memakan riba, (6) memakan harta anak yatim secara dhalim, (7) melakukan pembangkangan di Al-Majidil-Haraam, (8) melakukan sihir, dan (9) tangisan kedua orang tua karena kedurhakaan (anaknya)”. Ziyaad berkata : Thaisalah berkata : Ketika Ibnu ‘Umar melihat ketakutanku (atas dosa yang aku perbuat), ia berkata : “Apakah engkau khawatir masuk neraka ?”. Aku menjawab : “Benar”. Ia berkata : “Dan engkau ingin masuk ke dalam surga ?”. Aku menjawab : “Benar”. Ia berkata : “Apakah kedua orang tuamu masih hidup ?”. Aku berkata : “Aku masih punya seorang ibu”. Ia berkata : “Maka demi Allah, apabila engkau melembutkan perkataanmu terhadapnya dan memberi makan kepadanya, niscaya engkau akan masuk surga, selama engkau meninggalkan mujiibaat/dosa-dosa besar” [Diriwayatkan oleh Ath-Thabariy 8/239-240 no. 9187; shahih].
Apa yang disebutkan dalam jumlah dan jenis dosa besar pada riwayat-riwayat di atas bukanlah pembatas, karena banyak sekali sebagaimana dijelaskan dalam definisi sebelumnya.
Inilah kira-kira penjelasan singkat tentang apa itu dosa besar. Semoga Allah ta’ala selalu melindungi dan menjauhkan kita darinya.
اَللَّهُمَّ بَاعِدْ بَيْنِيْ وَبَيْنَ خَطَايَايَ كَمَا بَاعَدْتَ بَيْنَ الْمَشْرِقِ وَالْمَغْرِبِ اَللَّهُمَ نَقِّنِيْ مِنْ خَطَايَايَ كَمَا يُنَقَّى الثَّوْبُ اْلأَبْيَضُ مِنَ الدَّنَسِ اَللَّهُمَّ اغْسِلْنِيْ مِنْ خَطَايَايَ بِالثَّلْجِ وَالْمَاءِ وَالْبَرَدِ
Ya Allah, jauhkanlah diriku dari dosa-dosaku sebagaimana Engkau telah menjauhkan jarak antara timur dan barat. Ya Allah, bersihkanlah aku dari segala dosa-dosaku seperti baju putih yang dibersihkan dari noda. Ya Allah, cucilah diriku dari segala dosa-dosaku dengan salju, air, dan embun” [Diriwayatkan oleh Al-Bukhaariy no. 744 dan Muslim no. 598].
Wallaahu a’lam bish-shawwaab.
[abu al-jauzaa’ – bogor, 3 syawwaal 1431].


[1]        Ya’quub bin Ibraahiim bin Katsiir bin Zaid bin Aflah Al-‘Abdiy Al-Qaisiy Abu Yuusuf Ad-Dauraqiy; seorang yang tsiqah, termasuk dari kalangan huffaadh (166-252 H). Dipakai Al-Bukhaariy dan Muslim dalam Shahih-nya [Taqriibut-Tahdziib, hal. 1087 no. 7866].
[2]        Ia adalah Ismaa’iil bin Ibraahiim bin Miqsam  Al-Asadiy Abu Bisyr Al-Bashri, dikenal dengan Ibnu ‘Ulayyah; seorang yang tsiqah lagi haafidh (110-193 H). Dipakai Al-Bukhaariy dan Muslim dalam Shahih-nya [idem, hal. 136 no. 420].
[3]        Ayyuub bin Abi Tamiimah As-Sikhtiyaaniy Abu Bakr Al-Bashriy; seorang yang tsiqah, tsabat, lagi hujjah (w. 131 H).Dipakai Al-Bukhaariy dan Muslim dalam Shahih-nya [idem, hal. 158 no. 610].
[4]        Muhammad bin Siiriin Al-Anshaariy, tabi’iy masyhur; seorang yang tsiqah lagi tsabat (w. 110 H). Dipakai Al-Bukhaariy dan Muslim dalam Shahih-nya [idem, hal. 853 no. 5985].
[5]        Ia adalah Muhammad bin Al-‘Alaa’ bin Kuraib Al-Hamdaaniy Abu Kuraib Al-Kuufiy; seorang yang tsiqah lagi haafidh (w. 247/248). Dipakai Al-Bukhaariy dan Muslim dalam Shahih-nya [idem, hal. 885 no. 6244].
[6]        Husyaim bin Basyiir bin Al-Qaasim As-Sulamiy Abu Mu’aawiyyah; seorang yang tsiqah lagi tsabt, namun banyak melakukan tadlis dan irsal khafiy (104/105-183 H). Dipakai Al-Bukhaariy dan Muslim dalam Shahih-nya [idem, hal. 1023 no. 7362].
[7]        Manshuur bin Zaadzaan Al-Waashithiy; seorang yang tsiqah, tsabat, lagi ‘aabid (w. 128/129/131 H). Dipakai Al-Bukhaariy dan Muslim dalam Shahih-nya [idem, hal. 972 no. 6946].
[8]        Hisyaam bin Hassaan Al-Azdiy; seorang yang tsiqah dan merupakan perawi yang paling tsaabit periwayatannya dari Muhammad bin Siiriin (w. 146/147/148 H). Dipakai Al-Bukhaariy dan Muslim dalam Shahih-nya [idem, hal. 1020-1021 no. 7339].
[9]        Muhammad bin Waasi’ bin Jaabir bin Al-Akhnas bin ‘Aaidz bin Khaarijah bin Ziyaad Al-Azdiy Abu Bakr/’Abdillah Al-Bashriy; seorang yang tsiqah (w. 123 H). Dipakai Muslim dalam Shahih-nya [idem, hal. 904 no. 6408].
[10]       Sa’iid bin Jubair bin Hisyaam Al-Asadi; seorang yang tsiqah, tsabat, lagi faqiih (w. 95 H). Dipakai Al-Bukhaariy dan Muslim dalam Shahih-nya [idem, hal. 374-375 no. 2291].
[11]       Sufyaan bin Wakii’ bin Al-Jarraah bin Maliih Ar-Ruaasiy Al-Kuufiy; seorang yang lemah [Natsnun-Nabaal, hal. 598 no. 1304] – namun riwayatnya dapat digunakan sebagai i’tibar sebagaimana yang diterapkan oleh Al-Albaaniy dalam Ash-Shahiihah 5/90.
[12]       Wakii’ bin Al-Jarraah bin Maliih Ar-Ruaasiy Abu Sufyaan Al-Kuufiy; seorang yang tsiqah tsabat, lagi ‘aabid (127/128/129-196/197 H). Dipakai Al-Bukhaariy dan Muslim dalam Shahih-nya [idem, hal. 1037 no. 7464].
[13]       Muhammad bin Mihzam Asy-Sya’’aab Al-‘Abdiy Al-Bashriy; seorang yang tsiqah [Al-Jarh wat-Ta’diil, 8/102 no. 437].
[14]       Muhammad bin ‘Amru bin Al-‘Abbaas Abu Bakr Al-Baahiliy; seorang yang tsiqah (w. 249 H) [Taariikh Baghdaad 4/213-215 no. 1411 dan Rijaal Tafsiir Ath-Thabariy hal. 505 no. 2387].
[15]       Ia adalah Adl-Dlahhaak bin Makhlad bin Adl-Dlahhaak bin Muslim bin Adl-Dlahhaak Asy-Syaibaaniy Abu ‘Aashim An-Nabiil Al-Bashriy; seorang yang tsiqah lagi tsabat (121/122-211/212 H). Dipakai Al-Bukhaariy dan Muslim dalam Shahih-nya [Taqriibut-Tahdziib, hal. 459 no. 2994].
[16]       ‘Iisaa bin Maimuun Al-Jurasyiy Al-Makkiy Abu Muusaa; seorang yang tsiqah [idem, hal. 772 no. 5369].
[17]       ‘Abdullah bin Abi Najiih Yasaar Al-Makkiy; seorang yang tsiqah, kadang melakukan tadlis (w. 131 H). Dipakai Al-Bukhaariy dan Muslim dalam Shahih-nya [idem, hal. 552 no. 3686].
Pensifatan tadliis tersebut berasal dari An-Nasaa’iy, yaitu khusus periwayatan tafsir dari Mujaahid. Ibnu Hajar menyebutkannya dalam Ta’riifu Ahlit-Taqdiis hal. 90 no. 77. Yahyaa bin Sa’iid berkata : “Ibnu Abi Najiih tidak mendengar tafsir dari Mujaahid”. Ibnu Hibbaan berkata : “Ibnu Abi Najiih adalah sama dengan Ibnu Juraij dalam kitab Al-Qaasim bin Abi Bazzah dari Mujaahid di bidang tafsir. Keduanya meriwayatkan dari Mujaahid tanpa penyimakan (samaa’)” [Ats-Tsiqaat, 7/5]. Maka dapat diketahui bahwa Ibnu Abi Najiih mendapat riwayat tafsir dari Mujaahid secara wijaadah. Dan riwayat wijaadah-nya ini adalah diterima.
Ad-Duuriy berkata : “Aku mendengar Yahyaa (bin Ma’iin) berkata : Telah berkata Sufyaan bin ‘Uyainah : ‘Tidak ada seorang pun yang mendengar tafsir Mujaahid kecuali Al-Qaasim bin Abi Bazzah”. Aku pun bertanya kepada Yahyaa : “Jadi, Ibnu Abi Najiih tidak mendengar riwayat (tafsir) dari Mujaahid ?”. Yahyaa berkata : “Begitulah yang dikatakan Sufyaan” [Taariikh Ad-Duuriy, 1/80 no. 426]. Sedangkan Sufyaan sendiri menshahihkan tafsir Ibnu Abi Najiih. Telah berkata ‘Abdurrahmaan bin Al-Hakam bin Basyiir bin Sulaimaan, dari Wakii’ : “Sufyaan menshahihkan tafsir Ibnu Abi Najiih” [Tahdziibul-Kamaal, 16/217].
Adapun Ibnu Ma’iin sendiri menerima tafsir Ibnu Abi Najiih dari Mujaahid. Ad-Duuriy berkata : Aku bertanya kepada Yahyaa : “Lalu, tafsir Sa’iid lebih engkau kagumi ataukah tafsir Warqaa’ ?”. Ia menjawab : “Tafsir Warqaa’ lebih aku kagumi, karena ia berasal dari Ibnu Abi Najiih, dari Mujaahid. Sedangkan ini dari Sa’iid dari Qataadah. Mujaahid lebih aku kagumi daripada Qataadah” [Taariikh Ad-Duuriy, 2/233 no. 4499]. Di lain tempat Ad-Duuriy berkata : Dikatakan kepada Ibnu Ma’iin : “Apakah engkau memandang satu kejelekan apabila orang-orang meriwayatkan darinya dan menulis setiap hadits Warqaa’, dari Ibnu Abi Najiih, dari Mujaahid ?”. Ia menjawab : “Tidak mengapa dengannya” [idem, 2/316 no. 5022].
Kesimpulan : Riwayat tafsir Ibnu Abi Najiih dari Mujaahid adalah shahih. Wallaahu ta’ala a’lam.
[18]       Ia bukan Al-Qurthubiy penulis kitab tafsir Al-Jaami’ li-Ahkaamil-Qur’aan. Al-Qurthubiy di sini adalah Abul-‘Abbaas Ahmad bin ‘Umar bin Ibraahiim Al-Haafidh Al-Anshaariy Al-Qurthubiy rahimahumallaah.
[19]       ‘Abdullah bin Yaziid Al-Qurasyiy Al-Makhzuumiy Al-Madaniy Al-Muqri’ Al-A’war; seorang yang tsiqah (w. 148 H). Dipakai Al-Bukhaariy dan Muslim dalam Shahih-nya [Taqriibut-Tahdziib, hal. 558 no. 3737].
[20]       Haiwah bin Syuraih bin Shafwaan bin Malik At-Tajiibiy Abu Zur’ah Al-Mishriy; seorang yang tsiqah, tsabat, faqiih, lagi zaahid (w. 158/159 H). Dipakai Al-Bukhaariy dan Muslim dalam Shahih-nya [idem, hal. 282 no. 1610].
[21]       Humaid bin Haani’ Abu Haani’ Al-Khaulaaniy Al-Mishriy; seorang yang tsiqah, laa ba’sa bih (w. 142 H). Dipakai Muslim dalam Shahih-nya [idem, hal. 276 no. 1571].
[22]       ‘Amru bin Maalik Al-Hamdaaniy Al-Muraadiy Abu ‘Aliy Al-Janbiy Al-Mishriy; seorang yang tsiqah (w. 102/103 H) [idem, hal. 744 no. 5140].
[23]       Fudlaalah bin ‘Ubaid bin Naafidz bin Qais Al-Anshariy; salah seorang shahabat Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam (w. 58 H).
[24]       Muhammad bin Basyaar bin ‘Utsmaan Al-‘Abdiy Abu Bakr Al-Bashriy, dikenal dengan nama Bundaar; seorang yang tsiqah (167-252 H). Dipakai Al-Bukhaariy dan Muslim dalam Shahih-nya [idem, hal. 828 no. 5791].
[25]       ‘Abdurrahman bin Mahdiy bin Hassaan bin ‘Abdirrahmaan Al-‘Anbariy Abu Sa’iid Al-Bashriy; seorang yang tsiqah, tsabat, lagi haafidh (w. 198 H dalam usia 63 tahun). Dipakai Al-Bukhaariy dan Muslim dalam Shahih-nya [idem, hal. 601 no. 4044].
[26]       Sufyaan bin ‘Uyainah bin Abi ‘Imraan Al-Hilaaliy Abu Muhammad Al-Kuufiy; seorang yang tsiqah, haafidh, faqiih, imaam, dan hujjah (107-198 H). Dipakai Al-Bukhaariy dan Muslim dalam Shahih-nya [idem, hal. 395 no. 2464].
[27]       Ia adalah Sulaimaan bin Mihraan Al-Asadiy Al-Kaahiliy; seorang yang tsiqah, haafidh, lagi ‘aalim terhadap qira’aat (w. 147/148 H). Dipakai Al-Bukhaariy dan Muslim dalam Shahih-nya [idem, hal. 414 no. 2630].
[28]       Muslim bin Shubaih Al-Hamdaaniy Abudl-Dluhaa Al-Kuufiy Al-‘Aththaar; seorang yang tsiqah (w. 100 H). Dipakai Al-Bukhaariy dan Muslim dalam Shahih-nya [idem, hal. 939 no. 6676].
[29]       Masruuq bin Al-Ajda’ bin Maalik bin Umayyah Abu ‘Aaisyah Al-Kuufiy (w. 62/63 H); seorang yang tsiqah.  Dipakai oleh Al-Bukhaariy dan Muslim dalam Shahih-nya [idem, hal. 935 no. 6645].
[30]       Muhammad bin Al-Mutsannaa bin ‘Ubaid bin Qais bin Diinaar Al-‘Anziy; seorang yang tsiqah lagi tsabat (w. 252 H). Dipakai Al-Bukhaariy dan Muslim dalam Shahih-nya [idem, hal. 892 no. 6304].
[31]       Wahb bin Jariir bin Haazim bin Zaid bin ‘Abdillah Al-Azdiy Abul-‘Abbaas Al-Bashriy; seorang yang tsiqah (w. 206). Dipakai Al-Bukhaariy dan Muslim dalam Shahih-nya [idem, hal. 1043 no. 7522].
[32]       Syu’bah bin Al-Hajjaaj bin Al-Ward Al-‘Atakiy Al-Azdiy Abul-Busthaam Al-Waasithiy Al-Bashriy; seorang yang tsiqah, haafidh, lagi mutqin (w. 160 H). Dipakai Al-Bukhaariy dan Muslim dalam Shahih-nya [idem, hal. 436 no. 2805].
[33]       ‘Abdul-Malik bin Sa’iid bin Hayyaan bin Abhaar Al-Hamdaaniy; seorang yang tsiqah. Dipakai Al-Bukhaariy dan Muslim dalam Shahih-nya [idem, hal. 623 no. 4209].
[34]       ‘Aamir bin Waatsilah bin ‘Abdillah bin ‘Amru bin Jahsy Al-Laitsiy Abuth-Thufail; salah seorang shahabat Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam.
[35]       Ziyaad bin Mikhraaq Al-Muzanniy Abul-Haarits Al-Bashriy; seorang yang tsiqah [idem, hal. 348 no. 2110].
[36]       Thaisalah bin Mayyaas As-Sulamiy; seorang yang tsiqah [Tahdziibul-Kamaal, 13/467-468 no. 2998-2999].
READ MORE - Dosa Besar (Al-Kabaair)