Tampilkan postingan dengan label Contoh Makalah Pendidikan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Contoh Makalah Pendidikan. Tampilkan semua postingan

Kamis, 16 Januari 2014

MAKALAH MEDIA PEMBELAJARAN PAI MEDIA PROYEKSI

KATA PENGANTAR

            Puji dan syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa penulis panjatkan karena penulis dapat menyelesaikan karya tulis ini dengan judul “MEDIA PROYEKSI”. Karya tulis ini disusun guna memenuhi salah satu tugas mata kuliah MEDIA PEMBELAJARAN PAI.
            Penulis juga mengucapkan terima kasih kepada pihak-pihak yang telah membantu dalam menyelesaikan makalah ini, yang tidak bisa saya sebutkan namanya satu persatu. Penulis juga menyadari masih terdapat banyak kekurangan. Kekurangan dan jauh dari sempurna. Oleh karena itu, diharapkan kritik dan saran yang sifatnya membangun. Akhir kata penulis mengucapkan terima kasih.




DAFTAR ISI

Halaman Judul.........................................................................................        i
Kata pengantar........................................................................................        ii
Daftar isi..................................................................................................        iii
BAB I PENDAHULUAN.....................................................................        1
  1. Latar Belakang............................................................................        1
  2. Rumusan masalah........................................................................        1
  3. Tujuan .........................................................................................        2
BAB II PEMBAHASAN.......................................................................        3
  1. Pengetian Overhead proyektor....................................................        3
  2. Karakteristik Media OHP...........................................................        4
  3. Cara menggunakan OHP.............................................................        5
  4. Daerah dan tempat duduk OHP.................................................        7
  5. Teknik pembuatan OHT..............................................................        10
BAB III PENUTUP...............................................................................        16
  1. Kesimpulan .................................................................................        16
  2. Saran............................................................................................        16
DAFTAR PUSTAKA





BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Sistem overhead projector menunjukkan kemajuan yang pesat sekali dalam masa dasawarsa terakhir, sehingga perangkat audiovisual ini banyak dipakai di mana-mana. Overhead transparan yang merupakan media proyeksi yang memerlukan ba­han transparan untuk diproyeksikan, dan memerlukan perangkat un­tuk memproyeksikan media pengajaran transparan, yang disebut juga overhead projector. Tiap media memiliki kelebihan dan keterbatasan­nya sendiri, demikian pula halnya dengan media transparan ini. Salah satu faktor yang perlu diperhatikan dalam memilih media pengajaran yang tepat adalah dengan mengkaji kelebihan dan keterbatasan suatu media. Oleh karenanya penulis akan membahasan permasalahan ini dengan jugul “media proyeksi”
B. Rumusan masalah
Pada makalah ini penulis merumuskan masalah pada hal-hal sebagai berikut:
1. Pengertian Overhead Projector
2. Karakteristik media OHP
3. Cara menggunakan OHP
4. Daerah dan tempat duduk OHP
5. Teknik pembuatan OHT


C. Tujuan
Pembuatan makalah ini bertujuan:
1. Untuk mengetahui Pengertian Overhead Projector
2. Untuk mengetahui Karakteristik media OHP
3. Untuk mengetahui Cara menggunakan OHP
4. Untuk mengetahui Daerah dan tempat duduk OHP
5. Untuk mengetahui Teknik pembuatan OHT







BAB II
PEMBAHASAN
MEDIA PROYEKSI
A. Pengertian Overhead Projektor
Proyektor Overhead merupakan jenis perangkat keras yang sangat sederhana, terdiri atas sebuah kotak dengan bagian atasnya sebagai landasan yang luas untuk meletakkan materi pengajaran. Cahaya yang amat terang dari lampu proyektor amat kuat menyorot dari dalam kotak kemudian dibiaskan oleh sebuah lensa khusus, yaitu lensa fresnel, melewati sebuah tranparan ukuran 20 x 25 cm yang ditempatkan diatas landasan tersebut. Sebuah sistem pemantul cahaya dari cerrnin dan lensa, yang ditempatkan di atas kotak landasan, meng­hasilkan berkas cahaya berbelok 90° melewati bahu pengajar.
Dengan lampunya yang amat terang dan sistem optiknya yang efisien, menghasilkan banyak sekali cahaya pada layar sehingga memung­kinkan overhead bisa dipergunakan di ruangan biasa tanpa peng­gelapan. Penggunaan proyektornya ditempatkan di depan kelas se­hingga pengajar bisa bertatap muka langsung dengan siswa. Berbagai materi pengajaran bisa diproyeksikan, termasuk potang­an karton, objek kecil dan berbagai jenis transparan.
Materi pengajaran dapat dimanipulasi oleh pengajar, rincian pen­ting materi dapat ditunjuk, diperjelas rnemakai warna, dibubuhkan catatan, diagram, sket dengan mempergunakan spidol, meliputi bagi­an pesan dan penambahan informasi secara bertahap sementara ceramah berlangsung. Penggambaran yang kompleks dapat dipertunjukkan melalui rangkaian teknik turnpang tindih atau overlay.
B. Karakteristik media OHP
Overhead transparan termasuk media proyeksi yang memerlukan ba­han transparan untuk diproyeksikan, dan memerlukan perangkat un­tuk memproyeksikan media pengajaran transparan, yang disebut overhead projector. Tiap media memiliki kelebihan dan keterbatasan­nya sendiri, demikian pula halnya dengan media transparan ini. Salah satu faktor yang perlu diperhatikan dalam memilih media pengajaran yang tepat adalah dengan mengkaji kelebihan dan keterbatasan suatu media.
Beberapa keterbatasan media OHP antara lain sebagai berikut:
1) Media ini memerlukan perangkat keras (hard ware) yang khusus untuk memproyeksikan pesan yang ada pada transparan. Alat itu adalah OHP (Overhead Projection)
2) Mernerlukan persiapan yang matang dan terencana, terutama bi­la dipergunakan teknik-teknik penyajian yang kompleks
3) Dalam penggunaannya diperlukan keterampilan khusus
4) Menuntut penataan ruang yang baik
5) Menuntut perhatian untuk menghilangkan distorsi proyeksi
6) Menuntut Cara kerja yang sisternatis dan terarah
7) Membutuhkan keterampilan menuliskan pesan yang baik pada transparan sehingga mudah dicerna oleh siswa (penerima pesan).
Walaupun ada keterbatasan, media ini juga mempunyai kelebihan yang mungkin tidak dimiliki oleh jenis media lain, yakni:
1) Praktis, karena, dapat dipergunakan untuk semua ukuran kelas atau ruang.
2) Memberi kemungkinan tatap, muka dan mengamati respons dari penerima pesan (siswa).
3) Memberi kemungkinan pada penerima pesan (siswa) untuk men­catat.
4) Mempunyai variasi teknik penyajian yang menarik dan tidak membosankan.
5) Memungkinkan penyajian dengan berbagai alternatif kombinasi warna.
6) Dapat dipergunakan kembali secara berulang-ulang.
7) Dapat disusun kembali berdasarkan urutan-urutan atau sekuens belajar.
8) Dapat dihentikan pada setiap sekuens belajar yang dikehendaki karena pacing control sepenuhnya di tangan komunikator (dosen, guru, penyaji bahan, dan lain-lain).
9) Tidak diperlukan operator pembantu khusus.
C. Cara menggunakan OHP
Cara menggunakan OHP, pertama-tama perlu diperhatikan situasi ruangan yang akan dipergunakan. Ini berarti harus memperhatikan situasi ruangan yang akan dipakai, antara lain adanya aliran listrik yang memadai, sesuai dengan kebutuhan alat tersebut.
Proyektor Overhead mempunyai bermacam-macam tipe. di an­taranya:
Overhead Projector Model 5088 (portable)
Overhead Projector Model 213 (large body)
Overhead Projector Model 213 (semi portabel)
Overhead Projector Model 6202 (portable)
Alat ini tidak bersuara tapi membutuhkan tegangan listrik antara 110/220 volt dengan daya 480 watt/50Hz. Berat keseluruhan = 9,07 kg, dengan panjang kabel = 4,5 m.
Alat ini hampir tidak bersuara (suara kipas sangat halus) Tegangan listrik yang diperlukan 220 Volt/5011z, dengan daya yang dibutuhkan sekitar 360 Watt. Berat keseluruhan 13,9 kg; panjang kabel 5 m, de­ngan tempat penyimpanan secara khusus. Ukuran badan 380 x 405 x 240 mm, juga dapat ditambah dengan memasang roll attachment. Sistem penyinaran dan pendinginan tidak langsung dari lampu ke atas transparansi film. Panas ruangan dinetralisasi oleh adanya kipas angin. Penyinaran menggunakan sistem articulate head optic yang menghasilkan cahaya terang dan rata, dengan focal length 355 mm (14,2"). Terangnya cahaya sekitar 2300 lumens. Pengaturan cahaya dapat memproyeksikan transparansi film Bari 0°- 30° dengan jarak an­tara 1,5 m - 3,5 m. Projection stage = 267 x 267 mm dengan sistem pengaman ganda. Kipas angin sebagai alat pendinginan dilengkapi de­ngan thermostat otomatis; dan dilengkapi pula dengan switch peng­aman lampu sewaktu penggantian lampu. Penggantian lampu mudah dilakukan serta kontak ON - OFF juga mudah dijangkau.
Alat ini tidak bersuara. Menggunakan aliran listrik sebesar 220 Volt,
360 Watt, 50 Hz, panjang kabel = 5 m dan ada tempat penyimpanan
khusus, berat = 13,3 kg, ukuran 355 x 400 x 200 mm dengan tambahan dipasang roll attachernent. Sistem pendinginan lampu tidak langsung ke alas transparansi, ruang panas dilokalisasi, pada ruangan tersebut ada kipas angin. Standard doublet optic yang menghasilkan cahaya terang dan rata. Focal length 355 mm (14,2"), terang cahaya 2300 lumens, dan rata. Ada pengatur cahaya yang dapat memproyek­sikan trans aransi film 0 - 25° proyeksi amat baik antara 1,5 sampai dengan 4,5 m.
Alat ini membutuhkan tegangan listrik.-220 Volt, daya 200 watt, de­ngan berat 10,4 kg. Panjang kabel = 3,05 m. Sistern pendinginan tidak diperlukan sebab lampu langsung berhubungan dengan udara luar dan pernakaian daya kecil. Triplet optical projection head = 317 ram, projection stage 255 x 285 mm, terang 2100 lumens. Berbagai macam overhead ini harus diproyeksikan setelah sinar menyala dari overhead projector. Sinar dari overhead projector akan diterima oleh layar atau yang disebut layar portable matte white; dan akan tampak jelas bahàn-bahan yang ditulis dalam transparansi.
D. Daerah tempat duduk (OHP)
Daerah tempat duduk untuk kedua jenis ruangan, baik untuk ruang­an luas a maupun untuk ruangan sempit b, jarak tempat duduk ter­dekat adalah sama yaitu 3 meter. Demikian juga jarak tempat duduk terjauh untuk kedua jenis ruangan itu lama, yaitu 10 meter.
Layar portable matte white mempunyai bahan yang memiliki ciri di an­taranya:
- Sudut tajam 140°
- Tidak akan rusak atau cacat permukaan layarnya walaupun sering digulung
- Daya terang yang dipergunakan lama, baik dari jarak dekat maupun dari jarak jauh
- Bisa dibersihkan dengan mudah
- Dilengkapi dengan
· Keystone Elinzinator, alat untuk membuat basil gambar lebih rata dan proporsional
· Pengunci kaki dari magnet, mernbuat seluruh layar tak mu­dah lepas atau terbuka
, ,
- Tripod dari baja anti karat
· Ukuran layar :150 cm x 150 cm (60" x 60")
· Ukuran jika dilipat :175 x 15 cm
· Berat tipe lainnya = ukuran layar 175 x 175 cm (70" x 70"), ukuran jika dilipat :100 cm x 30 cm. berat: 13,5 kg.
Merancang media OHP
Langkah-langkah disain media OHP dalam proses belajar-mengajar:
- Telaah TIK pokok bahasan yang akan diajarkan
- Telaah materi pelajaran untuk menentukan jenis media yang di­perlukan
- Telaah keadaan siswa untuk mempertimbangkan kesulitan pela­jaran, kecepatan penyerapan, tingkat perbendaharaan kata yang dipakai, penggunaan media yang paling tepat
- Buatlah media transparansi
Beberapa prinsip umum untuk disain program media, yaitu:
Kesederhanaan (simplicity)
Kekompakkan (unity)
Penonjolan (emphasis)
Keseimbangan (balance)
Kesederhanaan (Simplicity)
Untuk OHP, maka peta gambar maupun diagram harus disederhana- kan dan dibatasi pada hal-hal yang penting saja. Konsep materinya (isi pesan) harus mudah di tangkap dan dipahami. Tulisannya harus jelas dan mudah dibaca, mudah ditangkap dan mudah dipahami. Kalimat sederhana tapi bermakna.
Oleh karena huruf yang dipakai biasanya huruf yang sederhana tetapi jelas dan bukan huruf artistik tetapi dapat membingungkan.
Kekompakkan (Unity)
Kekompakkan mengandung makna yang harrnonis antara bagian-bagian visual da lam kesatuan fungsinya secara keseluruhan. Ja linan hubungan bagian. dapat dinyatakan dalam bentuk tanda-tanda penunjuk seperti panah, dan tanda-tanda visual seperi garis, bentuk, warna, dan ruangan,
Penonjolan (Emphasis)
Kadang-kadang diperlukan penonjolan tertentu sehingga menjadi pusat perhatian. Ini dapat dilakukan dengan berbagai cara misalnya dengan memperbesar, memperjelas, mewarnai, menghilangkan informasi pada unsur atau bagian lain. Dalam teknik penyajian hal ini juga dapat dilakukan dengan Cara menutup bagian yang lain, meletakkan pointer dan sebagainya.
Keseimbangan (Balance)
Ada dua bentuk keseirnbangan, yaitu keseimbangan formal dan keseimbangan informal.
Suatu disain dikatakan mempunyai keseimbang­an formal bila dapat dibayangkan adanya garis as yang rnembagi bentuk vi­sual secara simetris. Ke­seimbangan formal mem­beri kesan statis dan resmi. Karena untuk me­nata huruf pada caption atau titling.
E. Teknik pernbuotan OHT (Overhead Transparency)
Ada dua teknik pembuatan OHT yaitu secara langsung, dan tidak lansung. Cara langsung adalah dengan mengerjakan langsung pada bahan transparansi yang ada. Sedangkan proses tidak langsung adalah dengan memindahkan gambar yang sudah ada atau yang telah diper­siapkan. pada bahan lain dengan cara membuat kopinya terlebih dahulu.
Proses langsung
1) Mempergunakan feltpen khusus untuk transparansi. Ada dua macam pena transparansi ini, yang satu mudah dihapus dan larut dalam air, lainnya sukar dihapus dan bersifat lebih permanen. Perlengkapan yang diperlukan:
- Film OHT
- Pena Transparansi
- Alkohol
- Kapas
- Rotring pena
- Tinta gambar
- Penggaris
- Cutter
- Masking tape
- Mounting frame
- Kertas millimeter
2) Mempergunakan letterpress atau lettraset. Perlengkapan sama dengan yang digunakan feltpen khusus untuk transparansi, kecuali dengan menambahkan letterpress dari mecanorma dan alat penggosoknya agar huruf dapat melekat pada transparansi
Proses tidak langsung
1) Mempergunakan alat thermafox buatan 3-M. gambar visual terlebih dahulu dibuat pada kertas HVS dan difotocopy. Fotocopy ini dipindahkan ke infra red transparency melalui thermal process 3-M
2) Proses diazo, adalah proses yang menggunakan uap ammonia. Master yang akan dicopy dipindahkan ke transparansi khusus untuk diazo ini dengan cara penyinaran dengan sinar ultra violet.
Transparansi untuk OHP biasanya diberi bingkai yang berukuran 10" x 12". Sudah tentu tidak ada keharusan untuk mernberi bingkai setiap transparansi, tetapi bila berbingkai rnempunyai banyak keuntungan antara lain:
a. Tidak mudah sobek dan mudah dalam pemakaiannya.
b. Bisa menyusun beberapa transparansi sekaligus dalam satu bing­kai, sehingga mempersingkat waktu dalam penyajiannya (overlay).
c. Mudah dalam penyimpanan, meskipun berhimpitan tidak akan melekat satu dengan yang lainnya.
d. Memudahkan dalam pembuatan klasifikasi dan katalog dari transparansi sendiri, yang bisa membedakan mata pelajaran, topik, sub-bahasan dan lain-lain untuk pemakaian berikutnya.
Mounting (menempelkan transparansi pada bingkai)
1) Bingkai untuk transparansi dapat dibuat sendiri dengan mudah, yaitu dengan memotong karton dupleks yang tebal dengan ukuran 10" x 12" (25 x 30 cm) dan bagian tengahnya dibuang sehingga merupakan bingkai (frame).
2) Untuk transparansi tunggal (single transparancy) yang sederha­na, cara menempelkannya sangat mudah yaitu dengan tape plastic atau kertas, keempat sisinya ditempelkan di bagian bawah bingkai dengan masking tape tadi. Transparansi atau plastic bening tembus cahaya ukurannya harus lebih besar 1 cm dari pada lubang bingkai, untuk memudahkan pemasangannya.
3) Jika transparansi terdiri atas transparansi film dasar dengan lebih dari satu lemabar ganda, tempellah lembaran dasar atau pertama di abgian bawah bingkai dan lembar ganda atas bingkai, dan seterusnya. Usahakanlah agar dengan mudah dapat dibuka dan ditutup, jadi yang direkat hanya satu sisinya saja.
Masking (teknik menutup)
Menutup sebagian lembar transparansi untuk memperlihatkan langkah-langkah suatu proses, akan dapat mengarahkan perhatian murid atau hadirin ke bagian yang sedang diterangkan.
1) Teknik jendela (spot mask). Penutupnya dibuat dari karton manila yang ditempelkan pada kedua sisinya, dua bagian atau lebih. Teknik spot masking sesuai dengan teknik penyajian yang memusatkan terhadap bidang, konsep atau gagasan pokok masing-masing berbeda. Di sini para siswa dituntun oleh guru untuk memusatkan (spot) perhatian terhadap satu konsep saja yang dibicarakan secara bertahap.
2) Tutup yang bisa digeser (sliding mask). Pada teknik tutup bergeser ini bisa diperliahatkan baris demi baris sesuai dengan apa yang sedang diterangkan, sehingga perhatian murid terarah. Teknik sliding mask ini sangat sesuai dengan teknik penyajian bahan pelajaran yang disampaikan secara bertahap, mengemukakan urut-urutan pola piker, gagasan pokok atau sistematika konsep dasar. Teknik ini tidak bertujuan untuk menjelasakan rincian gagasan, konsep atau pola piker secara cermat. 
,
Teknik penyajian
Teknik penyajian dengan media OHT ini berkembang dari pengalaman dan daya iminasi tiap guru. Bentuk penyjian yang lazim dipakai antara lain adalah:
ü Mempergunakan pointer, ya­itu penunjuk pada transpa­ransi untuk mengarahkan perhatian langsung pada ba­gian tertentu yang sedang dijelaskan. Bayangan dari po­inter ini akan tampak pada layar.
ü Mempergunakan penutup, transparansi lain yang belum dipakai untuk menambah catatan-catatan selama pre­sentasi tanpa merusakkan OHT aslinya. Penutup ter­sebut dapat dibersihkan kembali sehabis pakai de­ngan mempergunakan alkohol.
ü Mempergunakan alas penu­tup yang tidak ternbus cahaya untuk mengontrol perkem­bangan dan kecepatan pre­sentasi. Pada penutup dapat dituliskan catatan-catatan guru. Maksud ditaruhkannya sebagai alas adalah supaya tertahan beratnya OHT dan tidak mudah jatuh.
ü Mempergunakan overlay ya­itu transparansi lain yang berisi bagian dari proses yang akan dijelaskan dengan OHT secara keseluruhan. Dengan demikian proses atau konsep yang sulit diberikan secara bertahap selama memberikan persentasi.
ü Menggunakan polarizes untuk memberikan stimulasi dampak gerak dan warna de­ngan mempergunakan plastik khusus untuk membuat po­larizer projectuals. Dapat di­pakai, untuk menjelaskan cara kerja mesin bakar, peredaran darah dan sebagainya.
ü Mempergunakan benda-ben­da tiga dimensi untuk mem­proyeksikan siluetnya, atau benda-benda dari plastik ber­warna seperti segitiga, alat penggambar teknik dan se­bagainva
ü Menggunakan kopi dari transparansi sebagai hand-out, Dengan mem­bagikan fotokopi dari OHT yang dipersenta­sikan tersebut, perhatian siswa tidak perlu terbagi dengan mendengarkan dan mencatat.



BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Dari pembahasan diatas maka dapat disimpulkan bahwa: Proyektor Overhead merupakan jenis perangkat keras yang sangat sederhana, terdiri atas sebuah kotak dengan bagian atasnya sebagai landasan yang luas untuk meletakkan materi pengajaran. Tiap media memiliki kelebihan dan keterbatasan­nya sendiri, demikian pula halnya dengan media transparan ini. Salah satu faktor yang perlu diperhatikan dalam memilih media pengajaran yang tepat adalah dengan mengkaji kelebihan dan keterbatasan suatu media. Cara menggunakan OHP, pertama-tama perlu diperhatikan situasi ruangan yang akan dipergunakan. Ini berarti harus memperhatikan situasi ruangan yang akan dipakai, antara lain adanya aliran listrik yang memadai, sesuai dengan kebutuhan alat tersebut. Daerah tempat duduk untuk kedua jenis ruangan, baik untuk ruang­an luas a maupun untuk ruangan sempit b, jarak tempat duduk ter­dekat adalah sama yaitu 3 meter. Demikian juga jarak tempat duduk terjauh untuk kedua jenis ruangan itu lama, yaitu 10 meter.
B. Saran
Pada pembuatan makalah ini penulis menyadari bahwa masih adanya kesalahan dan kekurangan. Oleh karenanya penulis mohon kritik dan saran guna perbaikan penulisan pada pembuatan makalah selanjutnya.


DAFTAR PUSTAKA


Dr. Nana Sudjana. 1993. Media Pengajaran. LSIK. Jakarta.
Drs. Ahmad Rifa’i. 1997. Media Pengajaran. CV. Sinar Baru. Bandung
READ MORE - MAKALAH MEDIA PEMBELAJARAN PAI MEDIA PROYEKSI

SEJARAH PERADABAN ISLAM “PERANG JAMAL”





BAB I
PENDAHULUAN


Latar Belakang
Dalam pembuatan makalah ini didasari untuk memenuhi syarat untuk lulus dari mata kuliah Sejarah Peradaban Islam. Makalah ini menceritakan tentang “PERANG JAMAL” yang terjadiantara kholifah Ali bin Abi Tholib dan pengikutnya disatu pihak dengan Ummul Mukminin Aisyah, Tolhah dan Zubair Rodhiallohu Anhum serta pengikutnya dipihak lain. Pada pertengahan bulan Jumadil Akhir tahun tiga puluh enam Hijriyah.
Rumusan Masalah
Makalah ini membahas dan mengupas tentang “PERANG JAMAL” kronologi sampai terjadinya perang jamal. Serta mengajak khususnya mahasiswa dalam mempelajari dan menambil hikmah apa yamg tersirat dalam perang jamal dan supaya kita tidak melupakan sejarah Islam.
Tujuan
sebagai salah satu usaha mempelajari serta mengetahui sejarah terjadinya perang jamal
sebagai salah satu syarat mata kuliah
supaya kita dapat mengambil hikmah dari perang jamal


BAB II
PEMBAHASAN

PERANG JAMAL
Perang Jamal telah terjadi antara kholifah Ali bin Abi Tholib kw dan pengikutnya disatu pihak dengan Ummul Mukminin Aisyah, Tolhah dan Zubair Rodhiallohu Anhum serta pengikutnya dipihak lain.
Perang ini terjadi pada pertengahan bulan Jumadil Akhir tahun tiga puluh enam Hijriyah. Pertempuran ini berjalan dari siang hari sampai sorenya, dan menelan korban sepuluh ribu Muslimin, bahkan dalam riwayat yang lain tiga belas ribu orang.
Adapun kronologi sampai terjadinya pertempuran tersebut sebagai berikut:
Setelah Tolhah ra dan Zubair ra membaiat Sayyidina Ali kw sebagai Kholifah, yang berkedudukan di Madinah, maka keduanya meminta ijin dari Kholifah untuk melaksanakan ibadah Umroh.
Kemudian ketika mereka berada di Mekah, keduanya menemui Ummul Mukminin Aisyah ra, yang saat itu sedang berada di Mekah setelah selesai melaksanakan ibadah Haji.
Dalam pertemuan itu mereka bersepakat untuk meminta kepada Sayyidina Ali kw agar secepatnya mengambil Gishos terhadap pembunuh pembunuh Kholifah Usman Ibnu Affan ra.
Selang beberapa hari kemudian, mereka bertiga dan pengikut pengikutnya berangkat menuju kota Basrah.
Kholifah Ali bin Abi Tholib kw begitu mendengar keberangkatan serta tujuan mereka segera memutuskan untuk berangkat ke Kufah. Namun sebelumnya, beliau terlebih dahulu mengirin sahabat sahabatnya termasuk Sayyidina Hasan putranya dan Ammar bin Yasir, guna menggalang kekuatan dan dukungan bagi Kholifah.
Selanjutnya setelah beberapa hari, beliau baru menyusul menuju Kufah bersama pengikut pengikutnya.
Kedatangan Kholifah Ali kw dan rombongannya di Kufah juga didengar oleh Siti Aisyah ra, Tolhah ra dan Zubair ra.
Selanjutnya kedua belah pihak saling mengirim surat dan utusan untuk mengadakan perundingan dan membicarakan langkah apa yang harus ditempuh oleh kedua belah pihak. Dan akhirnya mereka sepakat dan setuju untuk mengadakan Ishlah.
Untuk itu Kholifah Ali kw menunjuk Sahabat Al Go’gok Attamimi sebagai utusan mewakili Kholifah Ali kw, dalam berunding dengan Siti Aisyah ra, Tolhah ra dan Zubair ra.
Pada awalnya mereka berkata, bahwa mereka datang untuk Ishlah dan untuk meminta agar orang orang yang terlibat dalam pembunuhan terhadap Kholifah Usman ra diadili atau dilakukan Gishos terhadap mereka. Sebab mereka ( Siti Aisyah ra cs) berkeyakinan, apabila tidak dilaksanakan Gishos, berarti mereka telah meninggalkan Nas yang tertera dalam Al Qur’an.
Kemudian Al Go’gok menjawab, bahwa semua yang mereka kehendaki tersebut bisa dilaksanakan, apabila suasananya sudah aman dan tenang. Karenanya agar semua kebaikan yang mereka kehendaki tercapai dan terlaksana, maka mereka harus membuat suasana menjadi baik, yaitu dengan langkah mereka membaiat Imam Ali kw sebagai Kholifah. Tapi apabila usulnya tersebut mereka tolak dan justru membesar besarkan masalah tersebut, maka keadaan akan semakin keruh dan tidak terkendali yang akibatnya justru menjauhkan apa apa yang mereka kehendaki.
Rupanya jawaban Al Go’gok tersebut membuat Siti Aisyah ra, Tolhah ra dan Zubair ra merasa senang dan puas dan mereka setuju untuk dilaksanakan. Kemudian mereka berkata; Kembalilah ke Ali dan sampaikan apa yang kamu sarankan. Apabila dia juga menerima saranmu tersebut, maka Ishlah ini akan terlaksana.
Selanjutnya ketika saran Al Go’gok tersebut disampaikan kepada Kholifah Ali kw, beliau setuju
Demikian hasil pertemuan antara fihak Kholifah Ali kw dengan fihak Siti Aisyah ra dan berita perdamaian tersebut disambut gembira oleh penduduk Kufah dan Basrah. Sehingga  malamnya membuat penduduk kedua kota bisa tidur tenang.
Namun bagi orang orang yang terlibat dalam pembunuhan terhadap Kholifah Usman ra, berita perdamaian tersebut sangat tidak menyenangkan bagi mereka. Sebab apabila perdamaian  sampai terlaksana, maka lambat laun mereka pasti akan dikejar kejar dan diadili. Karenanya mereka sekuat tenaga berusaha menggagalkan perdamaian tersebut.
Berbagai usaha mereka lakukan dalam usaha mereka mengeruhkan keadaan, diantaranya pada malam hari disaat kelompok Siti Aisyah ra sedang tidur nyenyak, mereka menyusup ketempat kelompok Siti Aisyah ra, bahkan sengaja meninggalkan senjata.  Dengan tujuan agar fihak Siti Aisyah ra mengira ada musuh yang masuk menyelinap dimalam hari. Bahkan ada yang meriwayatkan ada beberapa kemah yang dibakar.
Hal ini tentu saja membuat fihak Siti Aisyah ra curiga dan marah. Dan itulah yang membuat kesalah pahaman antara kedua belah fihak, sehingga keadaan tidak bisa terkendali dan terjadilah peperangan.
Peperangan ini dikenal dengan perang Jamal, karena saat pertempuran, Siti Aisyah ra memimpin peperangan dengan mengendarai unta atau Jamal.
Dalam peperangan ini Kholifah Ali kw berpesan kepada pengikutnya agar jangan sampai melukai Siti Aisyah ra dan beliau berkata bahwa Aisyah adalah istri Rosululloh di dunia dan akhirat.
Namun melihat pertempuran terus berjalan, sedang korban dari kedua belah pihak terus berjatuhan, maka Kholifah Ali kw memerintahkan agar unta yang dinaiki Siti Aisyah ra dihantam kakinya sampai roboh.
Ternyata strategi Imam Ali kw ini berhasil, sebab begitu unta yang dinaiki Siti Aisyah ra roboh, pengikutnya yang selalu mendampinginya berlarian ketakutan.
Akhirnya peperangan ini dimenangkan oleh kelompok kholifah Ali kw. Terbunuh dalam pertempuran ini Sayyidina Tolhah ra, sedang Sayyidina Zubair ra tidak ikut berperang, dia meninggalkan rombongannya dikarenakan dia teringat akan sabda Rosululloh SAW yang ditujukan kepadanya, bahwa dia (Zubair) akan berselisih dengan Ali, sedang dia difihak yang salah. Karenanya beliau segera meninggalkan medan pertempuran, menuju Wadi Suba’ kira kira lima mil dari Basrah.
Namun ternyata beliau diikuti oleh Amer bin Jurmuz dan disaat akan sholat beliau ditikam sampai meninggal.
Setelah membunuh Sayyidina Zubair ra, Ibnu Jurmuz mengambil kudanya serta senjata dan cincinnya, kemudian dia memberitahu teman temannya akan kejadian tersebut.
Disaat kholifah Ali kw mendengar berita tersebut beliau segera berkata; Saksikanlah bahwa aku pernah mendengar Rosululloh SAW  bersabda:  Pembunuh Zubeir di Neraka. 
Adapun Siti Aisyah ra yang tertawan saat itu, Kholifah Ali kw  memperlakukannya dengan sangat hormat dan baik.
Kemudian Kholifah Ali kw memerintahkan Muhamad bin Abubakar Assiddiq ( saudara seayah dengan Siti Aisyah ra) untuk menemui dan melihat keadaan Siti Aisyah ra.
Selanjutnya Kholifah Ali kw memeriksa orang orang yang terbunuh serta memerintahkan agar semuanya dimakamkan. Dan setelah dikumpulkan, Kholifah Ali kw mensholati semua orang yang terbunuh dalam pertempuran tersebut, baik dari fihaknya maupun dari fihak Siti Aisyah ra.
Hal ini membuktikan bahwa semuanya adalah Muslimin, dan andaikata orang orang yang memerangi Imam Ali kw dianggap keluar dari Islam, sebagaimana golongan Syi’ah menghukum mereka, niscaya Kholifah Ali kw tidak mau mensholati mereka.
Kemudian Kholifah Ali kw menghampiri Siti Aisyah ra seraya  berkata : 
“Bagaimana  keadaanmu  Ya  Ummah ?.”
Siti Aisyah ra Menjawab:     “Baik.”
Kemudian Kholifah Ali kw berkata;
“Semoga Alloh Mengampunimu.”
Siti Aisyah ra menjawab:  “ Begitu pula kamu.”
Selanjutnya begitu Kholifah Ali kw memasuki kota Basrah, semua pengikut Siti Aisyah ra dan semua penduduk  kota Basrah membaiat Kholifah Ali bin Abi Tholib kw.
Selang berapa hari Kholifah Ali kw mempersiapkan pemberangkatan Siti Aisyah ra ke Mekah. Sebab Siti Aisyah ra berkeinginan untuk melaksanakan ibadah Haji. Namun dalam riwayat yang lain diceritakan bahwa Siti Aisyah akan kembali ke Madinah.
Semua orang yang datang bersama Siti Aisyah ra dari Mekah (pengikut Siti Aisyah) jika mau kembali ke Mekah dipersilahkan, dan yang akan menetap di Basrah dan Kufah juga diperbolehkan.
Kemudian Kholifah Ali kw memerintahkan Muhahamad bin Abubakar untuk mengawal saudaranya, serta memerintahkan empat puluh wanita dari kota Basrah untuk mendampingi Siti Aisyah ra dalam perjalanannya menuju Mekah.
Pada waktu rombongan akan meninggalkan kota Basrah Kholifah Ali kw dan beberapa orang ikut melepas mereka. Dan saat itu Ummul Mukminin Aisyah ra berkata; “Wahai anakku janganlah diantara kita saling menyalahkan”.
Kemudian Kholifah Ali ra berkata; Sesungguhnya beliau adalah istri Rosululloh didunia dan di akhirat.
Demikian telah kami sampaikan secara ringkas peristiwa Perang Jamal, yang terjadi antara Kholifah Ali bin Abi Tholib kw dan pengikutnya disatu fihak dengan Ummul Mukminin Aisyah, Tolhah dan Zubeir Rodhiallohu Anhum dan pengikutnya.


BAB III
PENUTUP

  1. Kesimpulan
Setelah kita membaca makalah tentang perang jamal kita dapat mengetahui apa yang sebenarnya telah terjadi pada saat itu. Dari situ kita dapat mengambil hikmah dan membuang segala keburukan yang terjadi. Semoga dengan mengetahui kronologi terjadinya perang jamal, kita akan menjadi semakin baik dalam menjalani kehidupan.
  1. Saran
Penulis telah menyelesaikan makalah ini dengan sebaik-baiknya, akan tetapi penuls menyadari bahwa dalam pembuatan makalah ini masih banyak terdapat kekurangan, maka penulis sangat mengharapkan saran dan masukan dari pembaca yang bersifat membangun demi pembuatan makalah yang akan datang.



DAFTAR PUSTAKA
Ø  Al Aqqad, Abbas Mahmud. 2002. Kejeniusan Ali bin Abi Tholib. Jakarta: Pustaka Azzam.

Ø  Harun. Madur dan Firdaus. 2001. Sejarah Peradaban Islam, Padang: IAIN-IB Press.
Ø  http://.mediaislam.www.com. Sejarah Islam.



READ MORE - SEJARAH PERADABAN ISLAM “PERANG JAMAL”

“PELAKSANAAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI LINGKUNGAN KELUARGA, SEKOLAH, DAN MASYARAKAT”




KATA PENGANTAR

Puji syukur kita panjatkan ke hadirat Allah swt, karena atas   limpahan rahmatnya, sehingga penulisan makalah ini dapat terselesaikan dan telah rampung.
Makalah ini berjudulPELAKSANAAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI LINGKUNGAN KELUARGA, SEKOLAH, DAN MASYARAKAT”. Dengan tujuan penulisan sebagai sumber bacaan yang  dapat digunakan untuk memperdalam pemahaman dari materi ini.
Selain itu, penulisan makalah ini tak terlepes pula dengan tugas mata kuliah Pendidikan Agama Islam.
 Namun penulis cukup menyadari bahwa makalah ini jauh dari kata sempurna. Oleh karena itu, penulis sangat mengharapkan kritik dan saran pembaca yang bersifat membangun.

                                                                                          Kendari, Oktober 2012
                                                                                                                                         

                                                                                           Penulis.          








DAFTAR ISI

Kata Pengantar
Daftar Isi
BAB I PENDAHULUAN
A.  Latar Belakang      
B.  Rumusan Masalah
C.  Tujuan
BAB II PEMBAHASAN                     
A.    Pelaksanaan Pendidikan Agama Islam dalam Keluarga
B.     Pelaksanaan Pendidikan Agama Islam dalam Sekolah
C.     Pelaksanaan Pendidikan Agama Islam dalam Masyarakat
BAB III PENUTUP
A.     Kesimpulan
B.     Saran
DAFTAR PUSTAKA              










BAB  I
PENDAHULUAN

A.   Latar Belakang Masalah
Semakin canggihnya ilmu pengetahuan, semakin majunya peredaran zaman dan manusiapun beragam. kemewahan di bidang harta tidak akan menjamin kebahagiaan seseorang jika orang tersebut tidak bisa menikmati kekayaan itu, apalagi bagi orang yang serba kekurangan atau merasa kurang cukup terus-menerus. Banyak anak-anak yang tidak patuh lagi kepada orang tuanya, tentunya sangat dikhawatiran yang mengakibatkan perasaan tidak tenang dan selalu gelisah, bahkan banyak orang yang mengalami penyakit stress yang mereka sendiri tidak tahu obatnya, mencari tempat berpegang kepada siapa dan bagaimana cara menenangkan perasaan yang stress itu, bahkan mereka sering bingung, dihinggapi rasa takut dan rasa bersalah yang tidak tahu sebabnya.
Oleh karena itu, tentu sangat perlu dijelaskan bagaimana pendidikan anak sebelum lahir, masa bayi, masa kanak-kanak, dewasa, bahkan sampai mereka tua. Pendidikan anak pada usia dini juga sangat dianjurkan, hal ini dimaksudkan untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan. Karena pendidikan agama islam sejak dini sengat berpengaruh terhadap pembentukan karakter dan kepribadian peserta didik. Proses belajar dan pembelajaran bisa dilakukan pada jalur formal maupun informal.
B.     Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang diatas, maka rumusan masalah yang dibahas dalam makalah ini terinci sebagai berikut.
1.      Bagimana pelaksanaan pendidikan agama Islam dalam keluarga?
2.      Bagaimanna pelaksanaan pendidikan agama Islam dalam sekolah?
3.      Bagaimana pelaksanaan pendidikan agama Islam dalam masyarakat?

C.   Tujuan Penulisan

1.      Mengetahui pelaksanaan pendidikan agama Islam dalam keluarga.
2.      Mengetahui pelaksanaan pendidikan agama Islam dalam sekolah.
3.      Mengetahui pelaksanaan pendidikan agama Islam dalam.




BAB  II
PEMBAHASAN


A.   Pelaksanaan Pendidikan Agama Islam dalam Keluarga
Agama Islam di lingkungan keluarga berlangsung antara orang-orang dewasa yang bertanggung jawab atas terselenggaranya pendidikan agama, dan anak-anak sebagai sasaran pendidikannya. Sedang ibu dalam kaitannya dengan pendidikan agama di lingkungan keluarga, maka kedudukannya sebagai pendidik yang utama dan pertama, dalam kedudukannya sebagai pendidik, maka seorang ibu tidak cukup hanya memanggil seorang guru agama dari luar untuk mendidik anaknya di rumah, dan bukan dalam pengertian yang demikianlah yang dimaksud dengan pendidikan agama di lingkungan keluarga. Akan tetapi lebih ditekankan adanya bimbingan yang terarah dan berkelanjutan dari orang-orang dewasa yang bertanggung jawab di lingkungan keluarga untuk membimbing anak.
Pengertian yang jelas tentang pendidikan agama yang dilakukan di lingkungan keluarga interaksi yang teratur dan diarahkan untuk membimbing jasmani dan rohani anak dengan ajaran Islam, yang berlangsung di lingkungan keluarga. Dalam pelaksanaannya, maka proses pendidikan
Pendidikan pada umumnya terbagi pada dua bagian besar, yakni pendidikan sekolah dan pendidikan luar sekolah. Hal ini berdasar pada: “Maka proses belajar itu bagi seseorang dapat terus berlangsung dan tidak terbatas pada dunia sekolah saja.
Dorongan atau motivasi kewajiban moral, sebagai konsekwensi kedudukan orang tua terhadap keturunannya. Tanggung jawab moral ini meliputi nilai-nilai religius spiritual yang dijiwai Ketuhanan Yang Maha Esa dan agama masing-masing, di samping didorong oleh kesadaran memelihara martabat dan kehormatan keluarga.
Dalam kutipan yang pertama di atas dikemukakan bahwa lingkungan keluarga itu amat dominan dalam memberikan pengaruh-pengaruh keagamaan terhadap anak-anak, sehingga dapat dikatakan bahwa lingkungan keluarga dalam kaitannya dengan pendidikan agama sangat menentukan baik keberhasilannya. Sehingga amat disayangkan kalau kesempatan yang baik dari lingkungan pertama yaitu keluarga itu disia-siakan atau dilalui anak tanpa pendidikan agama dari pihak ibu dan bapak serta orang-orang yang bertanggung jawab di sekitarnya.
Dalam hubungannya dengan kelanjutan pendidikan atau kehidupan anak di masa mendatang, maka pendidikan di lingkungan keluarga, termasuk di dalamnya pendidikan agama, hal itu merupakan sebagai tindakan pemberian bekal-bekal kemampuan dari orang tua terhadap anak-anaknya, dalam menghadapi masa-masa yang akan dilaluinya.
Dalam hubungannya dengan pendidikan di sekolah maka sebagai persiapan untuk mengikuti pendidikan atau sebagai pelengkap dari pendidikan yang berlangsung di bangku sekolah. Dan dalam hubungannya dengan kehidupan bermasyarakat, maka sebagai upaya untuk mempersiapkan diri agar anak dapat menyesuaikan diri dengan lingkungannya.

Secara sepintas pembahasan tentang dasar pelaksanaan pendidikan agama di lingkungan keluarga ini telah disebutkan di atas, yaitu atas dasar cinta kasih seseorang terhadap darah dagingnya (anak), atas dasar dorongan sosial dan atas dasar dorongan moral.
Akan tetapi dorongan yang lebih mendasar lagi tentang pendidikan agama di lingkungan keluarga ini bagi umat Islam khususnya adalah karena dorongan syara (ajaran Islam), yang mewajibkan bagi orang tua untuk mendidik anak-anak mereka, lebih-lebih pendidikan agama.
Selain hal-hal yang telah disebutkan di atas, yang dapat mendorong orang tua agar mendidik anak-anak di lingkungan keluarga, ada lagi satu hal yang perlu diperhatikan yaitu; mengingat kondisi anak itu sendiri, baik secara fisik maupun mental ia mutlak memberikan bimbingan dan pengembangan ke arah yang positif. Kalau tidak maka dikhawatirkan fitrah yang tersimpan, yang merupakan benih-benih bawaan itu akan terlantar atau akan menyimpang.
Perlu diingat bahwa pada diri anak itu terdapat kecenderungan-kecenderungan ke arah yang baik, akan tetapi dilengkapi dengan kecenderungan ke arah yang jahat. Maka tugas pendidik dalam hubungan ini adalah menghidup-suburkan kecenderungan ke arah yang baik.
Oleh karena itu benih-benih potensial yang mampu mendorong anak untuk mengembangkan pribadinya dalam alternatif pemilihan lapangan hidup manusia di masa dewasanya sesuai bakat dan kemampuan. Pendidikan Agama dimaksudkan untuk peningkatan potensi spiritual dan membentuk peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Allah SWT dan berakhlak mulia. Akhlak mulia menyangkut etika, budi pekerti, dan moral sebagai manifestasi dari pendidikan Agama. Peningkatan potensi spiritual mencakup pengenalan, pemahaman, dan penanaman nilai-nilai keagamaan, serta pengamalan nilai-nilai tersebut dalam kehidupan individual ataupun kolektif kemasyarakatan. Peningkatan potensi spiritual tersebut pada akhirnya bertujuan pada optimalisasi berbagai potensi yang dimiliki manusia yang aktualisasinya mencerminkan harkat dan martabatnya sebagai makhluk Allah SWT.
Pendidikan Islam diberikan dengan mengikuti tuntunan bahwa agama diajarkan kepada manusia dengan visi untuk mewujudkan manusia yang bertakwa kepada Allah SWT dan berakhlak mulia, serta bertujuan untuk menghasilkan manusia yang jujur, adil, berbudi pekerti, etis, saling menghargai, disiplin, harmonis dan produktif, baik personal maupun social.

Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa dasar pelaksanaan pendidikan agama di lingkungan keluarga adalah karena didorong oleh beberapa hal yaitu:
1.            Karena dorongan cinta kasih terhadap keturunan
2.            Karena dorongan atau tanggung jawab sosial
3.            Karena dorongan moral
4.            Karena dorongan kewajiban agamis
Dan dorongan agama inilah yang membuat kedudukan orang tua lebih besar tanggung jawabnya dalam pendidikan karena dorongan kewajiban ini langsung diperintahkan Allah.
Pendidikan keluarga adalah pendidikan yang diproses oleh seseorang di dalam lingkungan rumah tangga atau keluarga. Sistem pendidikan ini merupakan unsur utama dalam pendidikan seumur hidup, terutama karena sifatnya yang tidak memerlukan formalitas waktu, cara, usia, fasilitas, dan sebagainya. Pada dasarnya, masing-masing orang tua adalah orang yang paling bertanggung jawab atas pendidikan bagi anak-anaknya. Mereka tidak hanya berkewajiban mendidik atau menyekolahkan anaknya ke sebuah lembaga pendidikan. Akan tetapi mereka juga diamanati Allah SWT untuk menjadikan anak-anaknya bertaqwa serta taat beribadah sesuai dengan ketentuan yang telah diatur dalam Al-Qur’an dan Hadits..
Dalam mendidik dan menumbuh kembangkan anak-anak, orang tua atau tokoh ibu dan bapak sangat memegang peranan yang sangat penting, baik-buruknya kelakuan anak, orang tualah yang memegang peranan. Pendidikan rumah tangga ini disebut juga dengan pendidikan informal. Peranan ibu dan bapak antara lain :
1.            Ibu bapak sebagai pengatur  kebersihan anak
2.            Ibu bapak sebagai teladan bagi anak
3.            Ibu bapak sebagai pendorong dalam tindakan anak
4.            Ibu bapak sebagai teman bermain
5.            Ibu bapak sebagai pengayom jika anak merasa takut
6.            Ibu sebagai penjaga utama kesehatan anak dan sebagai teman bermainan kepribadian
Dalam hubungan ini orang tua perlu menyadari betapa pentingnya pendidikan agama bagi anggota keluarga. Khususnya anak, karena akan sangat berpengaruh positif terhadap pertumbuhan dan perkembangan budi pekerti dan anak. Oleh sebab itu orang tua berkewajiban untuk memberikan bimbingan dan contoh konkrit berupa suri tauladan kepada anak agar mereka dapat hidup selamat dan sejahtera.
Sasaran Pendidikan Agama ditujukan kepada semua manusia sesuai dengan misi nabi Muhammad SAW yaitu untuk seluruh alam. Ditujukan mulai kepada anak usia dini, remaja, dewasa dan lanjut usia dalam istilah pendidikan disebut Long Live Education (pendidikan seumur hidup).
Pendidikan anak usia dini (0-6 tahun) dimulai dari anak dilahirkan sampai berumur 6 tahun dengan tahapan sebagai berikut :
1.            Masa bayi (0-2 tahun), di telinga sebelah kanan bagi anak laki-laki dan diqamatkan di telinga sebelah kiri bagi perempuan.
2.            Aqiqah, pada hari ke tujuh kelahiran seorang bayi disunnahkan bagi orang tua atau walinya untuk melakukan aqiqah yakni menyembelih satu ekor kambing bagi anak perempuan dan dua ekor kambing bagi anak laki-laki.
3.            Khitanan, peranan ibu sangat dominan dalam menanamkan pendidikan agama kepada anak di usia ini. Setiap hari seorang ibu perlu memperhatikan perkembangan yang terjadi pada anaknya baik secara biologis maupun psikisnya. Perkembangan anak sesuai dengan tahap-tahap umur tertentu yang perlu diketahui orang tua agar bisa memperlakukan anak dengan benar. Anak berumur 6  tahun tidak disebut bayi lagi, tetapi sudah disebut anak-anak masanya pun disebut masa kanak-kanak.

B.   Pelaksanaan Pendidikan Agama Islam dalam Sekolah
Pendidikan agama adalah unsur terpenting dalam pendidikan moral dan pembinaan mental. Pendidikan moral yang paling baik sebenarnya terdapat dalam agama karena nilai-nilai moral yang dapat dipatuhi dengan kesadaran sendiri dan penghayatan tinggi tanpa ada unsur paksaan dari luar, datangnya dari keyakinan beragama. Pendidikan agama di sekolah mendapat beban dan tanggung jawab moral yang tidak sedikit apalagi jika dikaitkan dengan upaya pembinaan mental remaja. Usia remaja ditandai dengan gejolak kejiwaan yang berimbas pada perkembangan mental dan pemikiran, emosi, kesadaran sosial, pertumbuhan moral, sikap dan kecenderungan serta pada akhirnya turut mewarnai sikap keberagamaan yang dianut (pola ibadah).
Pada sekolah-sekolah yang menyiapkan peserta didiknya menjadi ahli agama atau pemimpin agama seperti di madrasah atau seminari, seluruh kegiatan pembelajaran umumnya benar-benar diarahkan untuk mendukung tujuan pendidikan yang ada.
Terdapat tiga karakter sekolah yang terkait dengan pendidikan agama di sekolah. Pertama sekolah negeri, kedua sekolah swasta umum non yayasan agama dan sekolah swasta yayasan agama dan sekolah calon ahli atau pimpinan agama seperti madrasah dan seminari. Varian karakter ini awalnya terbentuk karena perbedaan sumber pembiayaan, pengawasan dan otonomi sekolah,  serta misi dan  intervensi pada kurikulum. Dalam perkembangannya dinamika sekolah juga turut mempengaruhi karakter sekolah. Tiga karakter ini pada akhirnya juga terkait dengan persoalan multikulturalisme dalam masyarakat.
Pada sekolah negeri dan sekolah swasta umum non yayasan keagamaan, pada jam pelajaran agama siswa dipisah menurut agama yang berbeda-beda. Selama puluhan tahun praktek pendidikan agama di sekolah seperti ini belum ada yang memberikan perhatian secara serius bahwa pemisahan siswa pada jam pelajaran agama adalah sebuah pembiasaan dan penanaman kesadaran bahwa agama adalah sesuatu yang memisahkan (kebersamaan) manusia.
Di kalangan peserta didik di sekolah Negeri pelajaran agama berlangsung lebih teratur dan siswa beragam agama hampir selalu mendapatkan guru pelajaran agama sesuai dengan keyakinan para siswa karena secara umum pemerintah mengusahakan guru agama bagi semua peserta didik. Sebagai milik pemerintah, semua aktifitas pembelajaran di sekolah negeri mengikuti secara penuh apa yang menjadi kebijakan pemerintah di bidang pendidikan.
Pada sekolah-sekolah yang menyiapkan peserta didiknya menjadi ahli agama atau pemimpin agama seperti di madrasah atau seminari, seluruh kegiatan pembelajaran umumnya benar-benar diarahkan untuk mendukung tujuan pendidikan yang ada. Sayangnya keseriusan pada satu bidang ini menyebabkan kecenderungan kurang terbuka bagi pergaulan yang lebih luas, yang dengan demikian membatasi pengalam dengan keragaman juga. Minimnya pengalaman akan keragaman perlu dikaji apakah ada kaitannya dengan sensitivitas pada yang berbeda. Sensitivitas pada yang berbeda hanya akan berkembang ketika ada pengalaman dengan yang berbeda dan menggerti adanya perspektif yang berbeda juga. 
Di sekolah umum yayasan keagamaan di mana biaya operasional secara umum ditanggung oleh yayasan dan wali murid, terdapat kebijakan sekolah yang menunjukkan keunikan yayasan. Keunikan ini tampak dalam penerimaan guru, hingga tambahan pelajaran maupun kegiatan ekstrakurikuler yang mewadahi pemenuhan misi yayasan keagamaan melalui pendidikan.

Pengawasan yang dilakukan oleh pemerintah lebih banyak pada soal jaminan kualitas pendidikan, tetapi umumnya tidak menyentuh pada soal keunikan sekolah yayasan keagamaan. Baru menjelang penetapan Undang-Undang no.20 tentang Sistem Pendidikan Nasional tahun 2003, banyak sekolah di bawah yayasan keagamaan yang merasa otonominya diganggu terutama berkaitan dengan pasal 13 yang mewajibkan semua sekolah memberikan pelajaran agama yang sesuai dengan agama yang dianut oleh siswa. Hingga tahun 2009 ini banyak sekolah yayasan keagamaan yang tidak bisa memenuhi tuntutan pasal 13 UU no,20 tahun 2003 itu karena alasan teknis pembiayaan guru dan alasan lain adalah menolak pelanggaran otonomi yayasan yang merasa tidak memaksa siswa untuk masuk ke sekolah yang mempunyai keunikan tertentu. 
Menurut teori pendidikan Islam, teori pendidikan anak dimulai jauh sebelum anak diciptakan. Dalam hubungan ini orang tua perlu menyadari betapa pentingnya pendidikan agama islam setiap anggota keluargakhususnya bagi anak-anak. Pendidikan agama yang ditanamkan sedini mungkin kepada anak-anak akan sangat berpengaruh positif terhadap pertumbuhan dan perkembangan budi pekerti dan kepribadian mereka.
Oleh sebab itu orang tua berkewajiban untuk memberikan bimbingan dan contoh konkrit berupa suri tauladan kepada anak-anak bagaimana seseorang harus melaksanakan ajaran agama dalam kehidupan keluarga dan masyarakat, agar mereka dapat hidup selamat dan sejahtera. Jadi, keluarga mempunyai fungsi sebagai berikut :
1.      Keluarga Sebagai Wadah Utama Pendidikan
2.      Pembentukan Keluarga
3.      Keluarga ialah masyarakat terkecil sekurang kurangnya terdiri dari pasangan suami isri sebagai sumber intinya berikut anak-anak yang lahir dari mereka. Agar tujuan terlaksana maka perlu meningkatkan tentang bagaimana membina kehidupan keluarga sesuai dengan tuntutan agama dan ketentuan hidup bermasyarakat .
4.      Pembinaan Keluarga
5.      Maksudnya adalah segala upaya pengelolaan atau penanganan berupa merintis, meletakkan dasar, melatih, membiasakan, memelihara, mencegah, mengawasi, menyantuni, mengarahkan serta mengembangkan kemampuan suami istri untuk mencapai tujuanmewujudkan keluarga bahagia sejahtera dengan mengadakan dan menggunakan segala dana dan daya yang dimiliki.
Sekolah umum di bawah yayasan non keagamaan dan keagamaan mempunyai peluang yang lebih besar untuk membuat eksperimentasi pendidikan agama yang salah satunya bisa menjadi tanggapan atas masyarakat yang multikultural.

C.         Pelaksanaan Pendidikan Agama Islam dalam Masyarakat
Dalam kacamata multkulturalisme, kewajiban bagi setiap siswa untuk mengikuti salah satu dari lima macam pendidikan agama, bagi para penganut agama dan kepecayaan di luar agama resmi adalah memutus generasi penerus penganut agama dan kepercayaan tersebut. Dampak dari pendidikan agama yang dibatasi berdasarkan agama yang dianggap resmi oleh pemerintah ini terasa setelah beberapa generasi. Namun hingga saat ini belum ada pihak penganut agama yang termarjinalkan secara sistematis mempersoalkan pelajaran agama yang pada masa pemerintahan Soeharto menjadi salah satu syarat kenaikan kelas.
Namun ketika pelajaran agama tidak lagi menentukan kelulusan dan tidak menjadi mata pelajaran yang diujikan dalam ujian nasional pun tidak ada tanggapan yang kontra.
Saat ini ketika generasi yang mengalami pendidikan agama yang memisahkan siswa karena berbeda agama telah menjadi dewasa, sekat antaranggita masyarakat pun makin terasa. Para orang tua yang tidak puas dengan pendidikan agama di sekolah yang dua jam mengirim anak-anaknya ke sekolah terpadu yang jam pelajaran agamanya jauh lebih banyak. Anak-anak makin berkurang pengalaman bermainnya dan berkurang juga kesempatan bertemu dan mengalami kebersamaan dengan orang-orang yang berbeda.
Sementara di sisi lain Pak Sartana guru agama yang membawakan pelajaran komunikasi iman mendapat sambutan dari para orang tua siswa karena telah menemani anak-anak mereka lebih masuk pada lika-liku kehidupan yang mendewasan bagi anak-anaknya. Meski model pembelajaran pada komunikasi Iman membingungkan bagi pengawas pendidikan, pemerintah tidak bisa menghentikan ekperimentasi yang dilakukan oleh Pak Sartana, terutama karena dukungan masyarakat.   

Pendidikan agama yang dibutuhkan dalam masyarakat multikultur adalah pendidikan agama yang senantiasa menghadirkan kehidupan yang penuh keragaman, baik latar belakang manusia maupun keragaman sudut pandang. Untuk itu pelajaran agama sebaiknya berbasis pengalaman akan memecah kebekuan ajaran agama yang tertutup dan tidak melihat realitas secara hitam putih. Di sekolah yang melakukan pemisahan siswa beda agama pada jam pelajaran agama perlu ada antisipasi agar pemisahan tidak berpengaruh buruk pada rasa aman dan nyaman dengan penganut agama yang berbeda. Hilangnya rasa aman dan nyaman akan merusak saling percaya antar anggota masyarakat yang mana saling percaya ini merupakan modal sosial yang dibutuhkan dalam kehidupan bersama yang adil dan beradab.
Pendidikan agama berbasis pengalaman meniscayakan perubahan paradigma dalam melihat relasi guru-peserta didik maupun dalam melihat sumber belajar serta proses pembelajaran. Pengalaman hanya mungkin menjadi sumber belajar ketika guru dan murid merasa setara, masing-masing merasa mempunyai kelebihan dan kekuarangan untuk mengkaji bersama dengan berbagai sudut pandang. Dalam menilai keberhasilan atau kegagalan belajar, pendidikan agama membutuhkan model evaluasi yang tidak menggunakan angka, tetapi harus didasarkan pada praktek hidup yang partisipatif dan bertanggungjawab pada diri sendiri dan lingkungan. Penilaian bukan dengan angka tetapi narasi yang menunjuk pada kualitas.
Pelajaran agama untuk siswa dari beragam agama bisa dilakukan dengan saling berbagi pengalaman penghayatan keimanan, berbagi informasi dan pengetahuan siswa tentang agamanya. Cara belajar seperti ini mendorong siswa untuk lebih aktif dan bertanggung jawab dalam mendalami agamanya dan pada saat bersamaan membiasakan sikap hormat dan simpati bagi penganut agma yang berbeda.
Masyarakat merupakan kumpulan dari orang banyak yang berbeda-beda yang menyatu dan mematuhi peraturan yang ditetapkan, mempunyai hubungan kekerabatan yang baik, baik antar suku maupun antar bangsa. Untuk memberikan pendidikan agama pada masyarakat, bisa dengan cara mendirikan majlis taklim atau pengajian-pengajian di desa masing-masing. Pengajian ini dilaksanakan dari satu tempat ke tempat lain dengan mendatangkan narasumber yang diminta untuk memberikan suatu materi pendidikan sesuai dengan kebutuhan mereka.
Dalam pendidikan agama Islam ada 3 istilah umum yang digunakan, yaitu al-Tarbiyat, al-Ta’lim dan al-Ta’dib. Tarbiyat mengandung arti memelihara, membesarkan dan mendidik yang kedalamnya sudah termasuk makna mengajar atau allama.  Berangkat dari pengertian ini maka tarbiyat didefinisikan sebagai proses  bimbingan terhadap potensi manusia (jasmani, ruh, dan akal) secara maksimal agar dapat menjadi bekal dalam menghadapi kehidupan dan masa depan.
Selanjutnya, Syed Naguib al-Attas merujuk makna pendidikan darikonsep ta’dib, yang mengacu kepada kata adab dan variatifnya. Dari pemikiran tersebut ia merumuskan definisi pendidik adalah membentuk manusia dalam menempatkan posisinya yang sesuai dengan susunan masyarakat, bertingkah lakusecara proposional dan cocok dengan ilmu serta teknologi yang dikuasainya. Menurut Naguib al-Attas selanjutnya, bahwa pendidikan islamlebih tepat berorientasi pada ta’dib. Sedangkan tarbiyat dalam pandangannya mencakup obyek yang lebih luas , bukan saja terbatas pada pendidikan manusia tetepi juga meliputi dunia hewan. Sedangkan ta’dib hanyamencakuppengertian pendidikan untuk manusia. 
Alasan penyebab manusia (remaja) sebagai makhluk sosial memerlukan pendidikan yaitu:
1) . Dalam tatanan kehidupan masyarakat,  ada upaya pewarisan nilai kebudayaan antara generasi tua ke generasi muda,  dengan tujuan agar nilai hidup masyarakat tetap berlanjut dan terpelihara. Dalam hal ini PAI di masyarakat di harapkan dapat memberikan substansi dalam pembentukan akhlak remaja.
2). PAI di masyarakat merupakan agen sosial yang penting setelah sekolah dalam penanaman nilai, norma serta harapan-harapan dari masyarakat terhadap pembentukan dan penerapan akhlak remaja.
3). PAI di masyarakat merupakan tempat konflik dan solusi dalam keragaman terutama dari aspek keagamaan. Dengan adanya sinergi antara pemahaman konsep PAI dari masyarakat dengan media PAI di masyarakat dapat mengimbangi antara konflik dengan solusi tersebut. Contoh: Perbedaan agama antara sesama remaja, dengan adanya pemahaman PAI di masyarakat oleh para remaja diharapkan mereka dapat menghormati perbedaan tersebut tanpa harus ikut-ikut menyamakan dengan tradisi agama lain di antara teman sebayanya.




BAB  III
PENUTUP

A.       KESIMPULAN
1.            Lingkungan keluarga merupakan media pertama dan utama yang secara langsung berpengaruh terhadap perilaku dan perkembangan anak didik.Keluarga adalah wadah yang pertama dan utama dalam pelaksanaan pendidikan agama Islam.
2.            Sekolah adalah lanjutan dari pendidikan keluarga yang mendidik lebih fokus,teratur dan terarah.
3.           Pendidikan masyarakat merupakan pendidikan anak yang ketiga setelah sekolah. Peran yang dapat dilakukan oleh masyarakat adalah bagaimana masyarakat bisa memberikan dan  menciptakan suasana yang kondusif bagi anak, remaja dan pemuda untuk tumbuh secara baik.

B.      SARAN
Penulis bersedia menerima kritik dan saran yang positif dari pembaca. Penulis akan menerima kritik dan saran tersebut sebagai bahan pertimbangan yang memperbaiki makalah ini di kemudian hari. Semoga makalah berikutnya dapat penulis selesaikan dengan hasil yang lebih baik lagi.






DAFTAR PUSTAKA

     Jalaluddin. 2003. Teologi  Pendidikan. Jakarta: Raja  Grafindo Persada.

READ MORE - “PELAKSANAAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI LINGKUNGAN KELUARGA, SEKOLAH, DAN MASYARAKAT”