Tampilkan postingan dengan label Hadits. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Hadits. Tampilkan semua postingan

Senin, 13 Januari 2014

Hadits Jaariyyah Riwayat Maalik bin Anas rahimahullah

Melanjutkan pembahasan di artikel Shahih Hadits Mu’aawiyyah bin Al-Hakam Tentang ‘Dimana Allah, pada kesempatan kali ini saya akan membawakan jalan riwayat lain yang dibawakan oleh Maalik bin Anas rahimahullaah dalam kitab Al-Muwaththa’ tentang hadits Jaariyyah. Sebagaimana diketahui, bahwa kitab Al-Muwaththa’ mempunyai kedudukan yang tinggi di kalangan muhadditsiin, bahkan ia disebut sebagai pokok pertama dalam kitab-kitab hadits sebelum Shahih Al-Bukhaariy – sebagaimana dikatakan Ibnul-‘Arabiy [‘Aaridlatul-‘Ahwadziy, 1/5]. Hadits-hadits yang disebutkan dalam Al-Muwaththa’ merupakan hujjah yang dipakai oleh Al-Imaam Maalik bin Anas rahimahullah.
Berikut yang tertera dalam Al-Muwaththa’ (4/35 no. 1601, tahqiq : Saalim Al-Hilaaliy & 5/1128-1129 no. 2875, tahqiq : Muhammad Mushthafa Al-A’dhamiy) :
حَدَّثَنِي مَالِك عَنْ هِلَالِ بْنِ أُسَامَةَ عَنْ عَطَاءِ بْنِ يَسَارٍ عَنْ عُمَرَ بْنِ الْحَكَمِ أَنَّهُ قَالَ : أَتَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنَّ جَارِيَةً لِي كَانَتْ تَرْعَى غَنَمًا لِي فَجِئْتُهَا وَقَدْ فُقِدَتْ شَاةٌ مِنْ الْغَنَمِ فَسَأَلْتُهَا عَنْهَا فَقَالَتْ أَكَلَهَا الذِّئْبُ فَأَسِفْتُ عَلَيْهَا وَكُنْتُ مِنْ بَنِي آدَمَ فَلَطَمْتُ وَجْهَهَا وَعَلَيَّ رَقَبَةٌ أَفَأُعْتِقُهَا فَقَالَ لَهَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَيْنَ اللَّهُ فَقَالَتْ فِي السَّمَاءِ فَقَالَ مَنْ أَنَا فَقَالَتْ أَنْتَ رَسُولُ اللَّهِ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَعْتِقْهَا
Telah menceritakan kepadaku Maalik, dari Hilaal bin Usaamah, dari ‘Atha’ bin Yasaar, dari ‘Umar bin Al-Hakam, bahwasannya ia berkata : "Aku menemui Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam dan berkata : "Wahai Rasulullah, budak perempuanku mengembala kambing milikku. Saat aku mendatanginya, ternyata kambingku telah hilang satu ekor. Lalu aku tanyakan kepadanya (tentang hal tersebut), ia menjawab : ‘Kambing itu telah dimakan serigala’. Aku merasa menyesal dengan kejadian tersebut, dan aku hanyalah manusia biasa, maka aku pun menampar wajahnya. Aku memiliki seorang budak, maka apakah aku harus memerdekakannya?". Rasulullah shallallaahu 'alaihi wa sallam lantas bertanya kepada budak tersebut : "Di mana Allah?". Ia menjawab : "Di langit". Beliau bertanya lagi : "Siapakah aku?". Ia menjawab : "Engkau Rasulullah". Lalu Rasulullah shallallaahu 'alaihi wa sallam bersabda : "Bebaskanlah ia !” [selesai].
Ada hal yang perlu diperhatikan dalam sanad riwayat di atas. Al-Imam Maalik rahimahullah telah keliru saat menyebutkan ujung sanad hadits di atas dengan ‘Umar bin Al-Hakam. Dan ini telah dikoreksi oleh sejumlah ulama, di antaranya :
1.    Al-Imaam Asy-Syaafi’iy rahimahullah.
Beliau juga meriwayatkan hadits ini dari jalan Imam Maalik, lalu berkata terkait penyebutan ‘Umar bin Al-Hakam :
وهو معاوية بن الحكم، وكذلك رواه غير مالك، وأظنه مالك لم يحفظ اسمه
“Ia adalah Mu’aawiyyah bin Al-Hakam. Dan seperti itulah yang diriwayatkan perawi lain selain Maalik. Aku kira, Maalik tidak hapal nama perawi itu” [lihat Ar-Risaalah, hal. 76 no. 243, tahqiq Ahmad Syaakir. Lihat pula Al-Umm, 6/707 no. 2617, tahqiq : Rif’at Fauziy ‘Abdul-Muthallib].
2.    Imaam Muslim rahimahullah.
Beliau dalam At-Tamyiiz sebagaimana terdapat dalam Athraaf Al-Muwaththa’ berkata :
ومعاوية بن الحكم مشهور برواية هذا الحديث في قصة الجارية والكهان والطيرة، قال : ولا نعلم أحدًَا سماه (عمر) إلا مالك، حتى وهم فيه
“Dan Mu’aawiyah bin Al-Hakam masyhuur dengan riwayat hadits ini dalam kisah Jaariyyah, dukun, dan thiyarah. Kami tidak mengetahui seorang pun yang menamakannya ‘Umar kecuali Maalik, sehingga ia mengalami keraguan di dalamnya”.
3.    Al-Imaam Ad-Daaruquthniy rahimahullah.
Beliau berkata saat mengomentari beberapa perselisihan dan tarjih jalan-jalan riwayat Mu’aawiyyah bin Al-Hakam berkata :
ورواه مالك بن أنس عن هلال، ووهم فيه فقال : عن عطاء بن يسار عن عمر بن الحكم، وذلك مما يعتد به على مالك في الوهم
“Dan diriwayatkan oleh Maalik bin Anas dari Hilaal, dan ia mengalami keraguan di dalamnya. Ia berkata : ‘Dari ‘Athaa’ bin Yasaar, dari ‘Umar bin Al-Hakam’. Itu terhitung sebagai bagian dari keraguan/kekeliruan Maalik (dalam periwayatan)” [Al-‘Ilal, 6/82].
4.    Al-Haafidh Ibnu Hajar rahimahullah.
Beliau berkata :
وأكثر الرواة عن مالك يقولون : عمر بن الحكم، وهو من أوهام مالك في اسمه.
“Kebanyakan para perawi (yang meriwayatkan) dari Maalik berkata : ‘Umar bin Al-Hakam. Ini termasuk keragu-raguan Maalik dalam (penyebutan) namanya” [At-Talkhiishul-Habiir, 3/222].
5.    Dan lain-lain.
Ada pendapat lain, sebagaimana dikatakan oleh Ibnu ‘Abdil-Barr, bahwa kekeliruan/keraguan (wahm) itu berasal dari Hilaal.
Namun yang benar – wallaahu a’lam - , keraguan (wahm) tersebut berasal dari Maalik bin Anas sebagaimana dikatakan jumhur muhadditsiin. Hal ini dikuatkan oleh riwayat Al-Baihaqiy [As-Sunan Al-Kubraa, 7/387] dan ‘Utsmaan bin Sa’iid Ad-Daarimiy [Ar-Radd ‘alal-Jahmiyyah, hal. 38-39 no. 62] – dengan sanad shahih – yang membawakan riwayat Maalik tentang hadits Jaariyyah yang berasal dari Yahyaa bin Yahyaa dari Maalik; dengan menyebutkan Mu’aawiyyah bin Al-Hakam.
Namun, apapun itu, tidaklah membuat hadits ini menjadi lemah karena kekeliruan Maalik dengan menyebut ‘Umar bin Al-Hakam. Tidak ada ulama yang melemahkan hadits Maalik ini, kecuali penyebutan wahm sebagaimana telah dituliskan di atas. Dan itu telah dikoreksi sejumlah ulama. Oleh karena itu, hadits Maalik ini shahih dengan tartib sanad : Maalik bin Anas, dari Hilaal bin Usamah, dari ‘Atha’ bin Yasaar, dari Mu’aawiyyah bin Al-Hakam radliyallaahu ‘anhu.
Al-Imaam Asy-Syaafi’iy berhujjah dengan hadits di atas pada kitab Al-Umm dalam masalah pembebasan budak, tanpa mengatakan adanya kelemahan.
Walhasil, hadits ini adalah shahih, tidak ada idlthiraab di dalamnya sebagaimana klaim As-Saqqaaf dan para muqallid-nya.
Semoga sedikit yang ditulis ini ada manfaatnya.
[abu al-jauzaa’ al-atsariy – sasi ruwah taun 1431 – banyak mengambil faedah dari penjelasan Asy-Syaikh Saliim Al-Hilaaliy hafidhahullah].
READ MORE - Hadits Jaariyyah Riwayat Maalik bin Anas rahimahullah

Kamis, 09 Januari 2014

Hadits Berisyarat ketika Duduk di Antara Dua Sujud

Telah berkata Al-Imaam Ahmad bin Hanbal rahimahullah :
حدثنا عبد الرزاق أخبرنا سفيان عن عاصم بن كليب عن أبيه عن وائل بن حجر قال رأيت النبي صلى الله عليه وسلم كبر فرفع يديه حين كبر يعني استفتح الصلاة ورفع يديه حين كبر ورفع يديه حين ركع ورفع يديه حين قال سمع الله لمن حمده وسجد فوضع يديه حذو أذنيه ثم جلس فافترش رجله اليسرى ثم وضع يده اليسرى على ركبته اليسرى ووضع ذراعه اليمنى على فخذه اليمنى ثم أشار بسبابته ووضع الإبهام على الوسطى وقبض سائر أصابعه ثم سجد فكانت يداه حذاء أذنيه

Telah menceritakan kepada kami ‘Abdurrazaaq : Telah mengkhabarkan kepada kami Sufyaan, dari ‘Aashim bin Kulaib, dari ayahnya, dari Waail bin Hujr, ia berkata : Aku pernah melihat Nabi shallallaahu ‘alaihi wa salam bertakbir, lau mengangkat kedua tangannya ketika bertakbir – yaitu dalam permulaan shalat - . Beliau mengangkat kedua tangannya ketika rukuk, dan mengangkat kedua tangannya ketika berkata : ‘sami’alaahu liman hamidah’. Dan (kemudian) sujud, lalu meletakkan kedua tanganya sejajar engan dua telinganya, kemudian duduk iftirasy dengan membentangkan kakinya kaki kirinya, kemudian meletakkan tangan kirinya di atas lutut kirinya dan meletakan hasta kanannya di atas paha kanannya, kemudian berisyarat dengan jari telunjuknya, dan meletakkan ibu jari di atas jari tengah dan menggenggam jari-jari yang lain, kemudian sujud dimana kedua tangannya sejajar dengan dua telinga beliau” [Al-Musnad, 4/317].
‘Abdurazzaaq bin Hammaam bin Naafi’ Al-Humairiy Abu Bakr Ash-Shan’aaniy; seorang yang tsiqah, haafidh, penulis yang terkenal, akan tetapi mengalami kebutaan di akhir usianya sehingga hapalannya berubah (126-211 H). Dipakai Al-Bukhaariy dan Muslim dalam Shahih-nya [Taqribut-Tahdziib, hal. 607 no. 4092]. Akan tetapi Ahmad bin Hanbal meriwayatkan dari ‘Abdurrazzaaq sebelum ia mengalami kebutaan dan berubah hapalannya. Ahmad berkata : “Kami menemui ‘Abdurrazzaaq sebelum tahun 200 H yang waktu itu penglihatannya masih baik/sehat. Barangsiapa yang mendengar darinya setelah hilang penglihatannya (buta), maka penyimakan haditsnya itu lemah (dla’iifus-samaa’)” [Taariikh Abi Zur’ah, hal. 215 no.  1160, ta’liq : Khaliil Al-Manshuur; Cet. Daarul-Kutub Al-‘Ilmiyyah, Cet. 1/1417]. Pendek kata, tinggallah pensifatan yang ada pada diri ‘Abdurrazzaaq : “tsiqah lagi haafidh”.
Sufyaan di sini adalah Ats-Tsauriy, bukan Ibnu ‘Uyainah, sebagaimana terdapat dalam Al-Mushannaf milik ‘Abdurrazzaaq (2/68 no. 2522). Sufyaan bin Sa’iid bin Masruuq Ats-Tsauriy; seorang yang tsiqah, haafidh, lagi faqih (97-161 H). Dipakai Al-Bukhaariy dan Muslim dalam Shahih-nya [At-Taqriib, hal. 394 no. 2458].
‘Aashim bin Kulaib bin Syihaab bin Al-Majnuun Al-Jarmiy. Ibnu Hajar berkomentar : “Shaduuq, dituduh berpemahaman irjaa’” (w. 137 H). Dipakai Muslim dalam Shahih-nya [idem, hal. 473 no. 3092]. Namun yang benar ia seorang yang tsiqah. Telah ditsiqahkan oleh Ibnu Ma’in, An-Nasaa’iy, Ibnu Hibbaan, Ibnu Syaahiin, Ahmad bin Shaalih Al-Mishriy, dan Ibnu Sa’d. Ahmad bin Hanbal berkata : “Tidak mengapa dengan haditsya”. Abu Haatim berkata : “Shaalih”. Abu Daawud berkata : “Ia orang yang paling utama di kota Kuufah” [selengkapnya lihat : Tahdziibut-Tahdziib, 5/55-56 no. 89].
Kulaib bin Syihaab bin Al-Majnuun Al-Jarmiy Al-Kuufiy. Ibnu Hajar berkata : “Shaduuq” [At-Taqrib, hal. 813 no. 5696]. Ia telah ditsiqahkan oleh Abu Zur’ah, Ibnu Sa’d, dan Ibnu Hibbaan [lihat selengkapnya : Tahdziibut-Tahdziib, 8/445-446 no. 808].
Sanad hadits ini shahih, dan para perawinya tsiqaat.
Sebagian ulama ada yang menilai hadits ini syaadz karena ‘Abdurrazzaaq telah menyelisihi Muhammad bin Yuusuf Al-Firyaabiy, dimana Al-Firyaabiy tidak menyebutkan lafadh : “tsumma sajada (kemudian sujud)” – setelah lafadh isyarat. Inilah jarh paling penting terhadap hadits ini. Di antara mereka yang paling utama adalah Al-Imaam Al-Muhaadits di jaman ini, Muhammad Naashiruddiin Al-Albaaniy rahmahullah dalam Silsilah Ash-Shahihah (5/309) dan Tamaamul-Minnah (hal. 214-216). Di antaranya beliau berkata :
بل هذا مما تفرد به عبد الرزاق عن الثوري , و خالف به محمد بن يوسف الفريابي و كان ملازما للثوري , فلم يذكر السجود المذكور . رواه عنه الطبراني. و قد تابعه عبد الله بن الوليد حدثني سفيان  به . أخرجه أحمد ( 4 / 318 ) . وابن الوليد صدوق ربما أخطأ , فروايته بمتابعة الفريابي له أرجح من رواية عبد الرزاق
“Akan tetapi, tambahan ini (yaitu lafadh : tsumma sajada) termasuk lafadh yang ‘Abdurazzaaq bersendirian dengannya dalam periwayatan dari Ats-Tsauriy. Muhammad bin Yuusuf Al-Firyaabiy telah menyelisihinya, dan ia seorang yang bermulzamah kepada Ats-Tsauriy, tanpa menyebutkan lafadh sujud. Diriwayatkan oleh Ath-Thabaraaniy. Al-Firyaabiy mempunyai mutaba’ah dari ‘Abdullah bin Al-Walid : Telah menceritakan kepada kami Sufyaan, dan seterusnya seperti hadits Al-Firyaabiy. Diriwayatkan oleh Ahmad 4/318. Dan Ibnul-Walid ini shaduuq, namun terkadang keliru. Maka riwayatnya dengan adanya mutaba’ah Al-Firyaabiy lebih kuat daripada riwayat ‘Abdurazzaaq” [Ash-Shahiihah, 5/309].
Perkataan beliau (Al-Albaaniy) dalam Tamaamul-Minnah lebih panjang lagi. Silakan merujuk ke sana, namun intinya sama.
Hal itu dijawab sebagai berikut :
Asy-Syaikh Al-Albaaniy rahimahullah sendiri telah menjelaskan tentang hadits syaadz dalam muqaddimah Tamaamul-Minnah sebagai berikut :
والحديث الشاذ ما رواه الثقة المقبول مخالفا لمن هو أولى منه على ما هو المعتمد عند المحدثين1 وأوضح ذلك ابن الصلاح في "المقدمة" فقال ص 86
"إذا انفرد الراوي بشيء نظر فيه فإن كان مما انفرد به مخالفا لما رواه من هو أولى منه بالحفظ أو أضبط كان ما انفرد به شاذا مردودا وإن لم تكن فيه مخالفة لما رواه غيره وإنما رواه هو ولم يروه غيره فينظر في هذا الراوي المنفرد فإن كان عدلا حافظا موثوقا بإتقانه وضبطه قبل ما انفرد به ولم يقدح الانفراد به وإن لم يكن ممن يوثق بحفظه وإتقانه لذلك الذي انفرد به كان انفراده خارما له مزحزحا له عن حيز الصحيح ثم هو بعد ذلك دائر بين مراتب متفاوتة بحسب الحال فإن كان المنفرد به غير بعيد من درجة الحافظ الضابط المقبول تفرده استحسنا حديثه ذلك ولم نحطه إلى قبيل الحديث الضعيف وإن كان بعيدا من ذلك رددنا ما انفرد به وكان من قبيل الشاذ المنكر..".
“Dan hadits syaadz adalah hadits yang diriwayatkan oleh seorang perawi tsiqah yang maqbul (diterima), namun bertentangan dengan orang yang lebih utama darinya menurut pendapat yang mu’tamad  di kalangan ahli hadits. Ibnu Shalaah telah menjelaskan hal tersebut dalam Al-Muqaddimah hal. 86 : ‘Jika seorang perawi menyendiri dengan sesuatu, perlu diamati. Jika riwayat tunggalnya bertentangan dengan riwayat orang yang lebih baik dan kuat hafalannya, maka tergolong riwayat syaadz dan tertolak. Jika riwayat tunggalnya tidak bertentangan dengan hadits yang diriwayatkan oleh orang lain, tetapi hanya dia sendiri yang meriwayatkan, sedang orang lain tidak, maka perlu diamati. Apakah perawi tunggal itu kuat hafalannya dan dapat dipercaya. (Jika yang terjadi seperti itu), maka diterimalah ia (dengan tambahan lafadhnya tersebut). Dan apabila ia tidak baik dan tidak kuat hafalannya, maka terputus dan terlempar jauh dari wilayah keshahihan. Dan setelah itu berada pada tingkat yang berbeda-beda sesuai keadaan. Artinya, jika perawi tunggal itu tidak jauh dari tingkat perawi lain yang kuat hafalan dan diterima kesendiriannya, maka kami golongkan hadits hasan dan kami tidak menjatuhkan pada kelompok hadits dla’iif. Tetapi jika tidak, kami golongkan riwayat tunggal itu kepada hadits syaadz lagi munkar (teringkari)” [Tamaamul-Minnah, hal. 16].
Riwayat Al-Firyaabiy yang dikatakan oleh Asy-Syaikh Al-Albaaniy rahimahullah dalam Al-Mu’jamul-Kabiir sebagai berikut :
حدثنا عبد الله بن محمد بن سعيد بن أبي مريم ثنا محمد بن يوسف الفريابي ثنا سفيان عن عاصم بن كليب عن أبيه عن وائل بن حجر قال رأيت النبي  صلى الله عليه وسلم  يضع يده اليمنى على اليسرى وإذا جلس افترش رجله اليسرى ووضع ذراعيه على فخذيه وأشار بالسبابة
Telah menceritakan kepada kami ‘Abdulah bin Muhammad bin Sa’id bin Abi Maryam : Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Yuusuf Al-Firyaabiy : Telah menceritakan kepada kami Sufyaan, dari ‘Aashim bin Kulaib, dari ayahnya, dari Waail bin Hujr, ia berkata : “Aku pernah melihat Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam meletakkan tangan kanannya di atas tangan kirinya. Dan jika duduk, beliau membentangkan kaki kirinya, dan meletakkan kedua hastanya di atas kedua pahanya dan berisyarat dengan jari telunjuk” [22/33 no. 78].
Perlu diketahui, riwayat Al-Firyaabiy yang dibawakan oleh Ath-Thabaraaniy di atas sangat lemah karena ‘Abdulah bin Muhammad bin Sa’id bin Abi Maryam. Ia seorang yang dla’iif jiddan [lihat : Irsyaadul-Qaadliy wad-Daaniy, hal. 386-387 no. 598].
Namun An-Nasaa’iy dengan sanad shahih membawakan riwayat Al-Firyaabiy tersebut dari Muhammad bin ‘Aliy bin Maimuum :
أخبرنا محمد بن علي بن ميمون الرقي قال حدثنا محمد وهو بن يوسف الفريابي قال حدثنا سفيان عن عاصم بن كليب عن أبيه عن وائل بن حجر :   أنه رأى النبي صلى الله عليه وسلم جلس في الصلاة فافترش رجله اليسرى ووضع ذراعيه على فخذيه وأشار بالسبابة يدعو بها 
Telah mengkhabarkan kepada kami Muhammad bin ‘Aliy bin Maimuun Ar-Raqiy, ia berkata : Telah menceritakan kepada kami Muhamad bin Yuusuf Al-Firyaabiy : Telah menceritakan kepada kami Sufyaan, dari ‘Aashim bin Kulaib, dari ayahnya, dari Waail bin Hujr : Bahwasanya ia pernah melihat Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam duduk ketika shalat, lalu membentangkan kaki kirinya dan meletakkan kedua hastanya di atas kedua pahanya, dan berisyarat dengan telunjuk, berdoa dengannya” [Al-Mujtabaa no. 1264 dan Al-Kubraa no. 1187; shahih].
Apakah lafadh yang dibawakan oleh Al-Firyaabiy di atas bertentangan dengan lafadh yang dibawakan ‘Abdurazzaaq sesuai dengan definisi hadits syaadz yang dikemukakan oleh Asy-Syaikh Al-Albaaniy ? Jawabnya : Tidak, karena ‘Abdurrazzaaq hanya membawakan lafadh tambahan yang tidak dibawakan oleh Al-Firyaabiy. Oleh karena itu, ini termasuk dalam katagori ziyaadatuts-tsiqaat. Riwayat Al-Firyaabiy (dan juga ‘Abdulah bin Al-Waliid) adalah lafadh-lafadh yang umum, yaitu sifat duduk ketika shalat. Duduk ketika shalat itu terdiri dari duduk di antara dua sujud dan duduk tasyahud. Oleh karena itu, tidak bertentangan dengan lafadh ‘Abdurazzaaq.
Selain itu, mengenai kedudukan antara Al-Firyaabiy dengan ‘Abdurazzaaq, Al-Mizziy berkata :
قال أبو بكر بن أبى خيثمة : سمعت يحيى بن معين و سئل عن أصحاب الثوري ، فقال : أما عبد الرزاق ، والفريابي ، وعبيد الله بن موسى ، وأبو أحمد الزبيري ، وأبو عاصم ، وقبيصة و طبقتهم فهم كلهم في سفيان قريب بعضهم من بعض، وهم دون يحيى بن سعيد وعبد الرحمن بن مهدي ، ووكيع ، وابن المبارك ، وأبى نعيم
Telah berkata Abu Bakr bin Abi Khaitsamah : Aku mendengar Yahyaa bin Ma’iin dan ia pernah ditanya tentang ashhaab Ats-Tsauriy, ia berkata : “Adapun ‘Abdurrazzaq, Al-Firyaabiy, ‘Ubaidullah bin Muusaa, Abu Ahmad Az-Zubairiy, Abu ‘Aashim, Qabiishah, dan tingkatan mereka, semuanya dalam periwayatan dari Sufyaan dekat antara satu dengan yang lainnya. Mereka itu di bawah Yahyaa bin Sa’iid, ‘Abdurrahmaan bin Mahdiy, Wakii’, Ibnul-Mubaarak, dan Abu Nu’aim” [selesai].
Jadi, kedudukan secara umum antara ‘Abdurrazzaaq dan Al-Firyaabiy adalah berdekatan, yang bersamaan dengan itu Al-Firyaabiy lebih didahulukan dari ‘Abdurrazzaaq sebagaimana dikatakan Ibnu Hajar dalam At-Taqriib (hal. 911 no. 6455).
Sebagian ulama ada juga yang melemahkan hadits isyarat pada waktu duduk di antara dua sujud karena kebersendirian ‘Aashim bin Kulaib. Ibnul-Madiiniy berkata tentang ‘Aashim bin Kulaib :
لا يحتج بما انفرد به.
“Tidak boleh berhujjah dengan riwayat yang ia bersendirian dengannya” [selesai].
Namun, perkataan Ibnul-Madiiniy tersebut boleh kita kritisi, sebab penyendirian perawi tsiqah tidak merusak riwayat yang dibawakannya. Ini adalah madzhab jumhur ulama. Muslim dalam Shahih-nya berhujjah dengan kebersendirian ‘Aashim bin Kulaib (lihat Shahih Muslim no. 2725, 2992).
Seandainya kita berpegang pada keumuman hadits Al-Firyaabiy, maka As-Syaikh Ibnu ‘Utsaimin rahimahullah telah mensahkan hal itu. Adapun beberapa riwayat yang menyebutkan isyarat itu pada duduk tasyahud, maka sesuai dengan kaedah ushul bahwa penyebutan sebagian lafadh dari yang umum dengan hukum yang berkesesuian dengan yang umum, maka tidak dihitung sebagai takhshiish. Contoh : Jika kita berkata : “Muliakan para murid”. Di lain kesempatan kita berkata : “Muliakan Muhammad”. Dan Muhammad itu termasuk di antara para murid tersebut. Maka, Muhammad itu tidak dihitung sebagai satu pentakhshish bagi yang pertama (murid) [lihat : http://www.taimiah.org/index.aspx?function=item&id=948&node=3984].
Jika kita perhatikan secara lebih luas, maka hadits-hadits tentang isyarat ini ada tiga macam :
1.    Hadits yang menyebutkan isyarat pada waktu duduk ketika shalat secara mutlak.
2.    Hadits yang menyebutkan isyarat pada waktu duduk tasyahud.
3.    Hadits yang menyebutkan isyarat pada waktu duduk di antara dua sujud.
Ini saja yang dapat dituliskan. Untuk bahasan yang lebih panjangnya, silakan dirujuk buku Jalaaul-‘Ainain fii Mas-alati Isyarah Bainas-Sajdatain oleh Abu ‘Abdirrahmaan Ahmad Rafiq Ath-Thaahir (silakan unduh di : http://books.bdr130.net/1847.html) atau bahasannya di : http://www.almeshkat.net/index.php?pg=stud&ref=142. Artikel ini merupakan kelanjutan artikel yang lalu di blog ini : Isyarat Dengan Telunjuk Ketika Duduk Di Antara Dua Sujud.
Wallaahu a’lam bish-shawwaab.
[abul-jauzaa’ – wonogiri, 21-10-2010].
READ MORE - Hadits Berisyarat ketika Duduk di Antara Dua Sujud

Selasa, 08 Januari 2013

Shahih Hadits : “Ayahku dan Ayahmu di Neraka”

Al-Imaam Muslim rahimahullah berkata :
وحَدَّثَنَا أَبُو بَكْرِ بْنُ أَبِي شَيْبَةَ، حَدَّثَنَا عَفَّانُ، حَدَّثَنَا حَمَّادُ بْنُ سَلَمَةَ، عَنْ ثَابِتٍ، عَنْ أَنَسٍ، أَنَّ رَجُلًا، قَالَ: يَا رَسُولَ اللَّهِ، أَيْنَ أَبِي؟ قَالَ: فِي النَّارِ، فَلَمَّا قَفَّى، دَعَاهُ، فَقَالَ: " إِنَّ أَبِي وَأَبَاكَ فِي النَّارِ "
Dan telah menceritakan kepada kami Abu Bakr bin Abi Syaibah : Telah menceritakan kepada kami ‘Affaan : Telah menceritakan kepada kami Hammaad bin Salamah, dari Tsaabit, dari Anas : Bahwasannya ada seorang laki-laki bertanya kepada Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam : “Wahai Rasulullah, dimanakah tempat ayahku (yang telah meninggal) sekarang berada ?”. Beliau menjawab : “Di neraka”. Ketika orang tersebut menyingkir, maka beliau memanggilnya lalu berkata : “Sesungguhnya ayahku dan ayahmu di neraka”. [Diriwayatkan oleh Muslim no. 203].

READ MORE - Shahih Hadits : “Ayahku dan Ayahmu di Neraka”

Sabtu, 05 Januari 2013

Faedah Hadits Abu Waaqid Al-Laitsiy : ‘Udzur karena Baru Masuk Islam

Al-Imaam At-Tirmidziy rahimahullah berkata :
حدثنا سعيد بن عبد الرحمن المخزومي حدثنا سفيان عن الزهري عن سنان بن أبي سنان عن أبي واقد الليثي : أن رسول الله صلى الله عليه وسلم لما خرج إلى خيبر مر بشجرة للمشركين يقال لها ذات أنواط يعلقون عليها أسلحتهم فقالوا يا رسول الله اجعل لنا ذات أنواط كما لهم ذات أنواط فقال النبي صلى الله عليه وسلم سبحان الله هذا كما قال قوم موسى أجعل لنا إلها كما لهم آلهة والذي نفسي بيده لتركبن سنة من كان قبلكم

Telah menceritakan kepada kami Sa’iid bin ‘Abdirrahmaan Al-Makhzuumiy : Telah menceritakan kepada kami Sufyaan, dari Az-Zuhriy, dari Sinaan bin Abi Sinaan, dari Abu Waaqid Al-Laitsiy : Bahwasannya Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam ketika keluar menuju Khaibar, beliau melewati sebuah pohon milik orang-orang musyrik yang bernama Dzaatu Anwaath yang digantungkan padanya pedang-pedang mereka. Mereka (para shahabat) berkata : “Wahai Rasulullah, buatkanlah untuk kami Dzaatu Anwaath sebagaimana mereka mempunyai Dzaatu Anwaath”. Maka Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda : “Subhaanallaah (Maha Suci Allah), ini adalah seperti perkataan kaum Musa : ‘Buatkanlah untuk kami tuhan sebagaimana mereka mempunyai tuhan-tuhan’. Demi Dzat yang jiwaku ada di tangan-Nya, sungguh kalian benar-benar mengikuti jalan orang-orang sebelum kalian” [Sunan At-Tirmidziy no. 2180. At-Tirmidziy berkata : “Hasan shahih”].
Diriwayatkan juga oleh Ath-Thayaalisiy no. 1443, ‘Abdurrazzaaq no. 20763, Al-Humaidiy no. 871, Ibnu Abi Syaibah 15/101, Ahmad 5/218, Al-Bukhaariy dalam Al-Kabiir 4/no. 2338, Ibnu Abi ‘Aashim dalam As-Sunnah no. 76, An-Nasaa’iy dalam Al-Kubraa no. 11185, Abu Ya’laa no. 1441, Ibnu Jariir dalam Tafsir-nya 9/45, Ibnu Hibbaan no. 6702, dan Ath-Thabaraaniy dalam Al-Kabiir no. 3290-3294.
Dalam riwayat lain disebutkan peristiwa itu adalah ketika keberangkatan pasukan menuju Hunain, bukan Khaibar.
Ada beberapa faedah yang dapat diambil dari hadits tersebut, antara lain :
1.     Para shahabat yang bertanya kepada beliau shallallaahu ‘alaihi wa sallam baru masuk Islam, dimana ada pada mereka keimanan dan iltizam kepada ketauhidan yang bersifat umum (mujmal). Ini nampak pada perkataan Abu Waaqid yang disebutkan dalam sebagian riwayat :
كنا مع رسول الله صلى الله عليه وسلم بحنين، ونحن حدثو عهد بكفر
“Kami pernah bersama Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam dalam peperangan Hunain yang waktu itu kami baru saja lepas dari kekufuran” [Diriwayatkan oleh Ath-Thayaalisiy no. 1443].
2.     Perkataan mereka untuk minta dibuatkan Dzaatu Anwaath adalah perkataan kekufuran. Maka, Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersumpah bahwa perkataan mereka itu sama dengan perkataan yang diucapkan kaum Nabi Musa (Bani Israaiil); namun mereka (para shahabat) tidaklah dikafirkan karena mereka baru saja masuk Islam. Belum sampai kepada mereka penjelasan tentang ketauhidan yang dapat menghindarkan mereka dari perbuatan syirik tersebut.
Asy-Syaikh ‘Abdurrahmaan bin Hasan rahimahulllah berkata :
إن الاعتقاد والأحكام بالمعاني لا بالأسماء، ولهذا جعل النبي صلى الله عليه وسلم طلبهم كطلب بني إسرائيل، ولم يلتفت إلى كونهم سمّوها ذات أنواط، فالمشرك مشرك وإن سمّى شركه ما سمّاه. كمن يسمّي دعاء الأموات والذبح والنذر لهم ونحو ذلك تعظيما ومحبة، فإن ذلك هو الشرك وإن سمّاه ما سمّاه
“Sesungguhnya i’tiqad dan hukum-hukum berdasarkan pada maknanya, bukan sekedar namanya. Oleh karenanya, Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam menamakan permintaan mereka (para shahabat) seperti permintaan Bani Israaiil. Beliau shallallaahu ‘alaihi wa sallam tidak melihat keadaan mereka yang menamakannya dengan Dzaatu Anwaath. Orang musyrik tetaplah musyrik meskipun mereka menamakan berhala yang mereka jadikan sekutu itu dengan nama apa saja yang mereka kehendaki. Seperti halnya orang yang menamakan doa, sembelihan, nadzar mereka atau yang lainnya kepada orang yang telah mati dengan sebutan pengagungan dan kecintaan, karena itu semua merupakan kesyirikan meskipun mereka menamakannya dengan nama apa saja yang mereka kehendaki” [Fathul-Majiid, hal. 145].
Asy-Syaikh Ibnu Baaz rahimahullah berkata :
ليس ما طلبوه من الشرك الأصغر، ولو كان منه، لما جعله النبي صلى الله عليه وسلم نظير قول بني إسرائيل {اجْعَل لَنَا إِلَهاًَ} وأقسم على ذلك، بل هو من الشرك الأكبر، كما أن لا طلبه بنو إسرائيل من الأكبر، وإنما لم يكفروا بطلبهم؛ لأنهم حدثاء عهد الإسلام
“Apa yang mereka (para shahabat) minta itu bukanlah syirik ashghar - meskipun hal itu termasuk bagian darinya – karena ketika Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam menyamakannya dengan perkataan Bani Israaiil ‘buatkanlah kami tuhan-tuhan’, dan beliau bersumpah mengenai hal itu. Bahkan, perbuatan mereka itu termasuk syirik akbar – sebagaimana permintaan Bani Israaiil juga termasuk syirik akbar. Hanya saja mereka (para shahabat) tidak dikafirkan dengan permintaannya karena mereka termasuk orang-orang yang baru saja masuk Islam” [Fathul-Majiid, hal. 146].
3.     Adanya ketetapan untuk melaksanakan kesyirikan setelah ditegakkannya hujjah adalah kekufuran. Seandainya orang yang melakukan kesyirikan telah dilarang dari perbuatan tersebut dan juga telah dijelaskan kepadanya tentang hukum melakukan perbuatan tersebut termasuk kesyirikan, namun ia tidak berhenti darinya; maka ia dikafirkan. Berhenti dari perbuatan syirik dengan menerima hujjah setelah adanya kebodohan, merupakan sebab peniadaan pengkafiran.
Asy-Syaikh Muhammad bin ‘Abdil-Wahhaab rahimahullah berkata :
لا خلاف في أن الذين نهاهم النبي صلى الله عليه وسلم لو لم يطيعوه واتخذوا ذات أنواط بعد نهيه، لكفروا، وهذا هو المطلوب. ولكن القصة تفيد أن المسلم بل العالم قد يقع في أنواع من الشرك وهو لا يدري عنها، فتفيد لزوم التعلّم والتحرّر.... وتفيد أيضاًَ أن المسلم المجتهد إذا تكلّم بكلام كفر وهو لا يدري فنُبه على ذلك فتاب من ساعته، أنه لا يكفر، كما فعل بنو إسرائيل والذين سألوا النبي صلى اللهي عليه وسلم
“Tidak ada khilaaf (perbedaan pendapat) pada orang-orang yang telah Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam larang, seandainya mereka tidak mentaati beliau dan malah menjadikan Dzaatu Anwaath (sebagai tuhan) setelah adanya larangan beliau tersebut, akan menjadi kafir. Inilah yang dituntut. Akan tetapi kisah ini mengandung faedah, bahwasannya seorang muslim – bahkan seorang ‘aalim sekalipun – kadangkala terjatuh dalam kesyirikan tanpa disadari/diketahuinya, sehingga sangatlah penting untuk belajar dan membebaskan diri dari kebodohan….. Kisah ini juga memberikan faedah bahwasannya seorang muslim mujtahid apabila berkata-kata dengan perkataan yang mengandung kekufuran tanpa ia sadari/ketahui, lalu ia diperingatkan darinya sehingga ia bertaubat pada waktu itu juga; maka tidak dikafirkan, sebagaimana hal itu pernah dilakukan oleh Bani Israaiil dan orang-orang yang meminta kepada Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam (agar dibuatkan Dzaatu Anwaath)” [Kasyfusy-Syubuhaat (Majmuu’atut-Tauhiid), hal. 285].
Hukum bagi orang-orang yang baru masuk Islam ini berlaku umum, karena yang menjadi acuan adalah keumuman lafadhnya, bukan kekhususan sebabnya. Oleh karena itu, hukum bagi mereka juga disamakan dengan orang-orang yang tinggal di daerah terpencil atau pedalaman yang jauh dari ilmu dan diliputi kebodohan. Di antara dalil yang menunjukkan hal ini adalah :
حدثنا محمد بن داود بن سفيان ثنا عبد الرزاق أخبرنا معمر عن الزهري عن عروة عن عائشة : أن النبي صلى الله عليه وسلم بعث أبا جهم بن حذيفة مصدقا فلاجه رجل في صدقته فضربه أبو جهم فشجه فأتوا النبي صلى الله عليه وسلم فقالوا القود يا رسول الله فقال النبي صلى الله عليه وسلم لكم كذا وكذا فلم يرضوا فقال لكم كذا وكذا فلم يرضوا فقال لكم كذا وكذا فرضوا فقال النبي صلى الله عليه وسلم إني خاطب العشية على الناس ومخبرهم برضاكم فقالوا نعم فخطب رسول الله صلى الله عليه وسلم فقال إن هؤلاء الليثيين أتوني يريدون القود فعرضت عليهم كذا وكذا فرضوا أرضيتم قالوا لا فهم المهاجرون بهم فأمرهم رسول الله صلى الله عليه وسلم أن يكفوا عنهم فكفوا ثم دعاهم فزادهم فقال أرضيتم فقالوا نعم قال إني خاطب على الناس ومخبرهم برضاكم قالوا نعم فخطب النبي صلى الله عليه وسلم فقال أرضيتم قالوا نعم
Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Daawud bin Sufyaan : Telah menceritakan kepada kami ‘Abdurrazzaaq : Telah mengkhabarkan kepada kami Ma’mar, dari Az-Zuhriy, dari ‘Urwah, dari ‘Aaisyah : Bahwasannya Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam mengutus Abu Jahm bin Hudzaifah untuk memungut shadaqah (zakat). Maka, ada seorang laki-laki menolak untuk memberikan shadaqah sehingga Abu Jahm memukulnya yang mengakibatkannya terluka. Kemudian mereka mendatangi Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam dan berkata : “Ia harus diqishash wahai Rasulullah”. Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda : “Bagi kalian adalah demikian dan demikian”. Namun mereka menolaknya. Beliau kembali bersabda : “Bagi kalian adalah demikian dan demikian”. Mereka masih menolaknya. Beliau kembali bersabda : "Kalau begitu, bagi kalian adalah demikian dan demikian". Mereka akhirnya menerimanya. Nabi shallalaahu ‘alaihi wa sallam bersabda : “Sesungguhnya aku akan berkhutbah nanti sore kepada orang-orang dan mengkhabarkan kepada mereka tentang keridlaan kalian”. Mereka berkata : “Ya”. Lalu Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam pun berkhutbah dan bersabda : “Sesungguhnya mereka orang-orang Bani Laits mendatangiku menuntut ditegakkannya qishash. Lalu aku menawarkan kepada mereka demikian dan demikian. Mereka menerimanya. Apakah kalian menerimanya[1] ?”. Mereka menjawab : “Tidak”. Maka orang-orang Muhaajirin berniat akan melakukan sesuatu kepada mereka. Namun Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan mereka (Muhaajirin) untuk menahan diri agar tidak melakukan sesuatu kepada mereka. Orang-orang Muhaajirin pun menahan diri. Kemudian beliau memanggil mereka dan menambahkan kepada mereka (diyaat-nya). Beliau bertanya : “Apakah kalian menerimanya ?”. Mereka menjawab : “Ya”. Beliau bersabda : “Sesungguhnya aku akan berkhutbah kepada orang-orang dan mengkhabarkan kepada mereka tentang keridlaan kalian”. Mereka menjawab : “Ya”. Lalu Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam berkhutbah dan bersabda : “Apakah kalian menerimanya ?”. Mereka menjawab : “Ya” [Diriwayatkan oleh Abu Daawud no. 4534; shahih].
Ibnu Hazm rahimahullah berkata :
في هذا الخبر عذر الجاهل، وأنه لا يخرج من الإسلام بما لو فعله العالم الذي قامت عليه الحجة لكان كافراًَ؛ لأن هؤلاء الليثيين كذبوا النبي صلى اله عليه وسلم، وتكذيبه كفر مجرّد بلا خلاف، لكنهم بجهلهم وأعرابيتهم عذروا بالجهالة، فلم يكفروا
“Dalam hadits ini terdapat penjelasan tentang ‘udzur bagi orang yang jaahil, dan bahwasannya ia tidak keluar dari Islam dengan sesuatu yang jika hal itu dilakukan oleh seorang ‘aalim yang telah ditegakkan padanya hujjah niscaya akan menjadi kafir. Hal itu dikarenakan orang-orang Bani Laits telah mendustakan Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam, padahal mendustakan beliau itu adalah kekufuran tanpa ada perselisihan. Akan tetapi mereka, dikarenakan kejahilan mereka dan juga mereka termasuk orang-orang Arab pedalaman, diberikan ‘udzur karena faktor kejahilan, sehingga tidak dikafirkan” [Al-Muhallaa, 10/410-411].
Syaikhul-Islaam Ibnu Taimiyyah rahimahullah berkata :
وكثير من الناس قد ينشأ في الأمكنة والأزمنة الذي يندرس فيها كثير من علوم النبوات، حتى لا يبقى من يبلغ ما بعث الله به رسوله من الكتاب والحكمة، فلا يعلم كثيرًا مما يبعث الله به رسوله ولا يكون هناك من يبلغه ذلك، ومثل هذا لا يكفر، ولهذا اتفق الأئمة على أن من نشأ ببادية بعيدة عن أهل العلم والإيمان، وكان حديث العهد بالإسلام، فأنكر شيئًا من هذه الأحكام الظاهرة المتواترة فإنه لا يحكم بكفره حتى يعرف ما جاء به الرسول، ولهذا جاء في الحديث‏:‏ ‏(‏يأتي على الناس زمان لا يعرفون فيه صلاة ولا زكاة ولا صومًا ولا حجًا إلا الشيخ الكبير، والعجوز الكبيرة، يقول‏:‏ أدركنا آباءنا وهم يقولون‏:‏ لا إله إلا الله. فقيل ِلحذيفة بن اليمان : ما تغني عنهم لا إله إلا الله ؟. فقال : تنجيهم من النار‏)‏‏.‏
“Dan banyak sekali di antara manusia hidup pada tempat dan jaman dimana banyak ilmu-ilmu nubuwwaat banyak yang hilang, hingga tidak ada orang yang menyampaikan apa-apa yang Allah utus dengannya kepada Rasul-Nya dari Al-Qur’an dan As-Sunnh. Maka, mereka tidak mengetahui banyak hal tentang apa-apa yang Allah utus dengannya Rasul-Nya karena tidak ada orang yang menyampaikannya. Orang yang semacam ini tidaklah dikafirkan. Oleh karena itu, umat telah sepakat (ijma’) bahwa orang yang hidup di daerah yang jauh dari ahlul-‘ilmi wal-iman, dan ia juga termasuk orang yang baru masuk Islam, kemudian ia mengingkari sesuatu dari hukum-hukum dhahir dan mutawatir, maka ia tidak dihukumi dengan kekafiran hingga ia mengetahui apa yang dibawa oleh Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam. Hal itu sesuai dengan dengan hadits : “Akan datang satu jaman di tengah-tengah manusia yang tidak diketahui padanya shalat, zakat, puasa, dan haji, kecuali seorang laki-laki tua dan lemah yang mengatakan : ‘Kami mendapati bapak-bapak kami mengatakan : Laa ilaha illallaah (tidak ada tuhan yang berhak untuk disembah kecuali Allah)”. Dikatakan kepada Hudzaifah bin Al-Yamaan : “Apakah Laa ilaha illallaah itu mencukupi mereka (untuk selamat dari neraka) ?”. Hudzaifah menjawab : “Kalimat itu akan menyelamatkan mereka dari neraka” [Majmuu’ Al-Fataawaa, 11/408].
Hal yang sangat dekat dengan ketentuan tersebut adalah orang yang hidup pada lingkungan yang didominasi bid’ah, jauh dari pemahaman agama yang benar berdasarkan Al-Qur’an dan As-Sunnah, serta tidak ditemukan padanya selain ulama yang melakukan bid’ah dan penyimpangan sehingga tidak diketahui syari’at agama dan peribadahan melainkan dari mereka. Kenyataan ini banyak terjadi di negeri-negeri muslim pada saat ini…..
[selesai – dibaca, diterjemahkan, serta sedikit peringkasan dan penambahan dari buku Al-Jahl bi-Masaailil-I’tiqaad wa Hukmuhu oleh ‘Abdurrazzaaq bin Thaahir bin Ahmad Al-Ma’aasy, hal. 424-428, isyraaf : Asy-Syaikh ‘Abdurrahmaan bin Naashir Al-Barraak; Daarul-Wathan, Cet. 1/1417].


[1]      Beliau shallallaahu ‘alaihi wa sallam kembali menanyakan kepada mereka (orang-orang Bani Laits) tentang keridlaan yang telah mereka nyatakan sebelumnya.– Abul-Jauzaa’
READ MORE - Faedah Hadits Abu Waaqid Al-Laitsiy : ‘Udzur karena Baru Masuk Islam

Jumat, 21 Desember 2012

Hadits Makan dan Minum Sambil Berdiri

At-Tirmidziy rahimahullah berkata :
حَدَّثَنَا أَبُو السَّائِبِ سَلْمُ بْنُ جُنَادَةَ الْكُوفِيُّ، حَدَّثَنَا حَفْصُ بْنُ غِيَاثٍ، عَنْ عُبَيْدِ اللَّهِ بْنِ عُمَرَ، عَنْ نَافِعٍ، عَنْ ابْنِ عُمَرَ، قَال: " كُنَّا نَأْكُلُ عَلَى عَهْدِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَنَحْنُ نَمْشِي، وَنَشْرَبُ وَنَحْنُ قِيَامٌ "
Telah menceritakan kepada kami Abus-Saaib Salm bin Junaadah Al-Kuufiy : Telah menceritakan kepada kami Hafsh bin Ghiyaats, dari ‘Ubaidullah bin ‘Umar, dari Naafi’, dari Ibnu ‘Umar, ia berkata : “Kami dulu makan sambil berjalan dan minum sambil berdiri di jaman Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam” [As-Sunan no. 1880; ia (At-Tirmidziy) berkata : “Ini hadits hasan shahih gharib”].

Berikut keterangan para perawinya :
1.     Salm bin Junaadah bin Salm bin Khaalid bin Jaabir bin Samurah As-Suwaa’iy Al-‘Aamiriy, Abus-Saaib Al-Kuufiy; seorang yang tsiqah, namun kadang menyelisihi. Termasuk thabaqah ke-10, lahir tahun 174 H, dan wafat tahun 254 H. Dipakai oleh At-Tirmidziy dan Ibnu Maajah [Taqriibut-Tahdziib, hal. 396 no. 2477].
2.     Hafsh bin Ghiyaats bin Thalq bin Mu’aawiyyah bin Maalik An-Nakha’iy, Abu ‘Umar Al-Kuufiy; seorang yang tsiqah lagi faqiih, namun sedikit berubah hapalannya di akhir usianya. Termasuk thabaqah ke-8, wafat tahun 194/195 H. Dipakai oleh Al-Bukhaariy, Muslim, Abu Daawud, At-Tirmidziy, An-Nasaa’iy, dan Ibnu Maajah [Taqriibut-Tahdziib , hal. 260 no. 1439].
3.     ‘Ubaidullah bin ‘Umar bin Hafsh bin ‘Aashim bin ‘Umar bin Al-Khaththaab Al-Qurasyiy Al-‘Adawiy Al-‘Umariy Al-Madaniy, Abu ‘Utsmaan; seorang yang tsiqah lagi tsabat. Termasuk thabaqah ke-5, wafat tahun 140-an H. Dipakai Al-Bukhaariy, Muslim, Abu Daawud, At-Tirmidziy, An-Nasaa’iy, dan Ibnu Maajah [Taqriibut-Tahdziib, hal. 643 no. 4353].
4.     Naafi’ Abu ‘Abdillah Al-Madaniy maula Ibni ‘Umar; seorang yang tsiqah, tsabat,faqiih, lagi masyhuur (w. 117 H). Dipakai oleh Al-Bukhaariy, Muslim, Abu Daawud, At-Tirmidziy, An-Nasaa’iy, dan Ibnu Maajah [Taqriibut-Tahdziib, hal. 996 no. 7136].
5.     ‘Abdullah bin ‘Umar bin Al-Khaththaab Al-Qurasyiy Al-‘Adawiy, Abu ‘Abdirrahmaan Al-Makkiy Al-Madaniy; salah seorang shahabat Nabi yang mulia. Termasuk thabaqah ke-1, dan wafat tahun 73 H/74 H. Dipakai oleh Al-Bukhaariy, Muslim, Abu Daawud, At-Tirmidziy, An-Nasaa’iy, dan Ibnu Maajah [Taqriibut-Tahdziib, hal. 528 no. 3514].
Diriwayatkan pula oleh At-Tirmidziy dalam Al-‘Ilal no. 578, Ibnu Maajah no. 3301, Ibnu Hibbaan no. 5322 & 5325, Al-Bazzaar dalam Al-Bahr no. 5719, Al-Harbiy dalam Al-Fawaaid no. 89, dan Al-Khathiib dalam At-Taariikh 9/67; semuanya dari Salm bin Junaadah, dari Hafsh bin Ghiyaats, dari ‘Ubaidullah bin ‘Umar, dari Naafi’, dari Ibnu ‘Umar secara marfuu’.
Salm bin Junaadah dalam periwayatan dari Hafsh bin Ghiyaats mempunyai mutaba’ah dari :
1.     Ibnu Abi Syaibah; sebagaimana yang ia riwayatkan dalam Mushannaf-nya 8/17-18, dan darinya ‘Abd bin Humaid no. 785, Ad-Daarimiy no. 2172, Ahmad 2/108, dan Ibnu ‘Abdil-Barr dalam Al-Istidzkaar no. 39624.
‘Abdullah bin Muhammad bin Ibraahiim bin ‘Utsmaan Al-‘Absiy, terkenal dengan nama Ibnu Abi Syaibah; seorang imam tsiqah haafidh, shaahibut-tashaanif (mempunyai banyak karangan/tulisan). Termasuk thabaqah ke-10, dan wafat tahun 235 H. Dipakai oleh Al-Bukhaariy, Muslim, Abu Daawud, An-Nasaa’iy, dan Ibnu Maajah. Ibnu Hajar berkata : “Tsiqah haafidh, shaahibut-tashaanif (mempunyai banyak karangan/tulisan)” [Taqriibut-Tahdziib, hal. 540 no. 3600].
2.     Hisyaam bin Yuunus bin Waabil Al-Lu’lu’iy; sebagaimana diriwayatkan oleh Ibnu Hibbaan no. 5322.
Hisyaam bin Yuunus bin Waabil bin Al-Wadldlaah bin Sulaimaan At-Tamiimiy An-Nahsyaliy, Abul-Qaasim Al-Kuufiy Al-Lu’luiy; seorang yang tsiqah. Termasuk thabaqah ke-10, dan wafat tahun 252 H. Dipakai oleh At-Tirmidziy [Taqriibut-Tahdziib, hal. 1023 no. 7361].
3.     Muhammad bin Aadam bin Sulaimaan Al-Mashiisiy; sebagaimana diriwayatkan oleh Ibnu Syaahin dalam An-Naasikh no. 563. Dibawakan juga oleh Ibnu Abi Haatim dalam Al-‘Ilal no. 1500.
Muhammad bin Aadam bin Sulaimaan Al-Juhhaniy Al-Mashiihiy; seorang yang shaduuq. Termasuk thabaqah ke-10, dan wafat tahun 250 H. Dipakai oleh Abu Daawud dan An-Nasaa’iy [Taqriibut-Tahdziib, hal. 824 no. 5756].
4.     Yuusuf bin ‘Adiy; sebagaimana diriwayatkan oleh Ath-Thahawiy dalam Syarh Ma’aanil-Aatsaar no. 4/273.
Yuusuf bin ‘Adiy bin Zuraiq bin Ismaa’iil At-Taimiy, Abu Ya’quub Al-Kuufiy; seorang yang tsiqah. Termasuk thabaqah ke-10, dan wafat tahun 232 H. Dipakai oleh Al-Bukhaariy dan An-Nasaa’iy [Taqriibut-Tahdziib, hal. 1094 no. 7929].
Dhahir sanad hadits ini shahih. Dishahihkan oleh At-Tirmidziy dan Ibnu Hibbaan. Dishahihkan pula oleh Muhammad bin Thaahir dalam Tadzkiratul-Maudluu’aat no. 1079, Al-Albaaniy dalam Misykatul-Mashaabih no. 4275, Al-Arna’uth dalam Takhrij ‘ala Shahih Ibni Hibban 12/141, Abu Ishaaq Al-Huwainiy dalam Ghautsul-Makduud 3/157-158.
Hafsh bin Ghiyaats mempunyai mutaabi’ dari ‘Abdullah bin Al-Mubaarak :
نا الصَّائِغُ، نا يَحْيَى بْنُ عَبْدِ الْحَمِيدِ، نا ابْنُ الْمُبَارَكِ، عَنْ عُبَيْدِ اللَّهِ، عَنْ نَافِعٍ، عَنِ ابْنِ عُمَرَ، قَالَ: " كُنَّا نَشْرَبُ، وَنَحْنُ قِيَامٌ، وَنَأْكُلُ، وَنَحْنُ نَسْعَى "
Telah mengkhabarkan kepada kami Ash-Shaaigh : Telah mengkhabarkan kepada kami Yahyaa bin ‘Abdil-Hamiid : Telah mengkhabarkan kepada kami Ibnul-Mubaarak, dari ‘Ubaidullah, dari Naafi’, dari Ibnu ‘Umar, ia berkata : “Kami dulu minum sambil berdiri dan makan sambil berjalan (di jaman Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam)” [Diriwayatkan oleh Ibnul-A’rabiy dalam Mu’jam-nya no. 214].
Berikut keterangan perawinya :
1.     Ash-Shaaigh, ia adalah : Muhammad bin Ismaa’iil bin Saalim Ash-Shaaigh Al-Kabiir, Abu Ja’far Al-Baghdaadiy tsumma Al-Makkiy; seorang yang shaduuq. Termasuk thabaqah ke-11, lahir tahun 188 H, dan wafat tahun 276 H. Dipakai oleh Abu Daawud [Taqriibut-Tahdziib, hal. 826 no. 5768].
2.     Yahyaa bin ‘Abdil-Hamiid bin ‘Abdirrahmaan bin Maimuun Al-Himmaaniy, Abu Zakariyyaa Al-Kuufiy; seorang yang dikatakan Ibnu Hajar : ‘Haafidh, namun mereka menuduhnya mencuri hadits’. Termasuk thabaqah ke-9, dan wafat tahun 228 [Taqriibut-Tahdziib, hal. 1060 no. 7641].
3.     ‘Abdullah bin Al-Mubaarak bin Waadlih Al-Handhaliy At-Tamiimiy, Abu ‘Abdirrahmaan Al-Marwaziy; seorang yang tsiqah, tsabat, faqiih, lagi ‘aalim. Termasuk thabaqah ke-8, lahir tahun 118 H, dan wafat tahun 181 H. Dipakai Al-Bukhaariy, Muslim, Abu Daawud, At-Tirmidziy, An-Nasaa’iy, dan Ibnu Maajah [Taqriibut-Tahdziib, hal. 540 no. 3595].
Sanad riwayat ini lemah/dla’iif, karena kelemahan Yahyaa bin ‘Abdil-Hamiid.
Namun sejumlah ulama mutaqaddimiin men-ta’lil riwayat ini – terutama dari jalan Hafsh bin Ghiyaats – .
At-Tirmidziy rahimahullah berkata :
فَسَأَلْتُ مُحَمَّدًا عَنْ هَذَا الْحَدِيثِ، فَقَالَ: هَذَا حَدِيثٌ فِيهِ نَظَرٌ
“Dan aku bertanya kepada Muhammad (yaitu : Al-Bukhaariy – Abul-Jauzaa’) tentang hadits ini, lalu ia berkata : ‘Hadits ini perlu diteliti kembali (fiihi nadhar)” [Al-‘Ilal, 1/311].
Al-Bukhaariy rahimahullah berkata :
مُحَمَّد بْن عَبْد الملك أَبُو جَابِر بصري سكن مكة سَمِعَ ابْن عون، وهشام بْن حسان، وَسَمِعَ عِمْرَان بْن حدير، عَنْ أَبِي بزرى، واسمه يزيد بْن عطارد، عَنِ ابْن عُمَر، قَالَ: " كنا نأكل ونحن نمشي، ونشرب ونحن قيام على عهد رَسُول اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ".وقَالَ حفص بْن غياث: عَنْ عُبَيْد اللَّه بْن عُمَر، عَنْ نافع، عَنِ ابْن عُمَر، مثلَهُ.قَالَ أَبُو عَبْد اللَّه: والأول أصح.
“Muhammad bin ‘Abdil-Malik, Abu Jaabir. Orang Bashrah, tinggal di Makkah. Ia mendengar dari Ibnu ‘Aun dan Hisyaam bin Hassaan. Ia juga mendengar riwayat dari ‘Imraan bin Hudair, dari Abu Bazaraa – namanya Yaziid bin ‘Athaarid, dari Ibnu ‘Umar, ia berkata : ‘Kami dulu makan sambil berjalan dan minum sambil berdiri di jaman Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam’. Dan telah berkata Hafsh bin Ghiyaats, dari ‘Ubaidullah bin ‘Umar, dari Naafi’, dari Ibnu ‘Umar hadits yang semisal. Abu ‘Abdillah (Al-Bukhaariy) berkata : “Riwayat yang pertama lebih shahih” [At-Taariikh Al-Kabiir, 1/165].
Ibnu Abi Haatim rahimahullah berkata :
وَسألت أبي عَنْ حديث رَوَاهُ مُحَمَّدُ بْنُ آدَمَ بْنِ سُلَيْمَانَ الْمِصِّيصِيُّ، عَنْ حَفْصِ بْنِ غِيَاثٍ، عَنْ عُبَيْدِ اللَّهِ، عَنْ نَافِعٍ، عَنِ ابْنِ عُمَرَ، قَالَ: " كُنَّا فِي عَهْدِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ نَأْكُلُ، وَنَحْنُ نَمْشِي، وَنَشْرَبُ، وَنَحْنُ قِيَامٌ ". قَالَ أَبِي: قَدْ قَالَ: تَابَعَهُ عَلَى رِوَايَتِهِ ابْنُ أَبِي شَيْبَةَ، عَنْ حَفْصٍ، وإنما هو عن حفص، عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ عُبَيْدِ اللَّهِ الْعَرْزَمِيِّ، وَهَذَا حَدِيثٌ لا أَصْلَ لَهُ بِهَذَا الإِسْنَادِ
“Dan aku bertanya kepada ayahku tentang hadits yang diriwayatkan oleh Muhammad bin Aadam bin Sulaimaan Al-Mashiihiy, dari Hafsh bin Ghiyaats, dari ‘Ubaidullah, dari Naafi, dari Ibnu ‘Umar, ia berkata : ‘Kami dulu makan sambil berjalan dan minum sambil berdiri di jaman Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam’. Ayahku berkata : ‘Riwayatnya (Muhammad bin Sulaimaan) telah diikuti oleh Ibnu Abi Syaibah, dari Hafsh. Hadits itu hanyalah berasal dari Hafsh, dari Muhammad bin ‘Ubaidullah Al-‘Arzamiy. Hadits ini tidak ada asalnya dengan sanad ini” [Al-‘Ilal, no. 1500].
وسُئِلَ أبو زرعة عن حديث رواه يوسف بن عدي عن حفص : ابن غياث - ....، الحديث ؟. قال أبو زرعة : [رواه] حفص وحده
“Abu Zur’ah pernah ditanya tentang hadits yang diriwayatkan Yuusuf bin ‘Adiy dari Hafsh bin Ghiyaats - ....?. Maka Abu Zur’ah menjawab : “(Hadits itu) diriwayatkan Hafsh seorang diri” [idem, no. 1501].
Ahmad bin Hanbal rahimahullah pernah ditanya oleh Al-Atsram perihal hadits di atas, kemudian menjawab :
أما أنا فلم أسمعه إلا منه، ثُمَّ قَالَ: إنما هو حَدِيث يزيد بن عطارد
“Adapun aku, maka aku tidak pernah mendengar hadits itu kecuali darinya. Hadits itu hanyalah hadits Yaziid bin ‘Athaarid” [Taariikh Baghdaad, 9/77].
Abu Daawud rahimahullah berkata :
قال علي بن المديني : نعس حفص نعسة، يعني حين روى حديث عبيد الله بن عمرو، وإنما هو حديث أبي البرزي، قال أبو داود : كان حفص بأخرة دخله نسيان، وكان يحفظ
“’Aliy bin Al-Madiiniy berkata : ‘Hafsh bin Ghiyaats mengalami kelemahan, yaitu ketika meriwayatkan hadits ‘Ubaidullah bin ‘Amru. Hadits itu hanyalah merupakan hadits Abul-Bazaraa’. Abu Daawud berkata : ‘Hafsh ditimpa kelalaian di akhir hayatnya. Dulu ia termasuk orang yang hapal” [Suaalaat Al-Aajurriy, hal. 205 no. 229].
Riwayat Yaziid bin ‘Athaarid yang dimaksudkan adalah :
حَدَّثَنَا وَكِيعٌ، عَنْ عِمْرَانَ بْنِ حُدَيْرٍ، عَنْ يَزِيدَ بْنِ عُطَارِدٍ السَّدُوسِيِّ، عَنِ ابْنِ عُمَرَ، قَالَ: " كُنَّا نَأْكُلُ وَنَحْنُ نَسْعَى عَلَى عَهْدِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَنَشْرَبُ وَنَحْنُ قِيَامٌ "
Telah menceritakan kepada kami Wakii’, dari ‘Imraan bin Hudair, dari Yaziid bin ‘Uthaarid As-Saduusiy, dari Ibnu ‘Umar, ia berkata : “Kami dulu makan sambil berjalan dan minum sambil berdiri di jaman Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam” [Diriwayatkan oleh Hanaad bin As-Sariy dalam Az-Zuhd no. 812].
Berikut keterangan para perawinya :
1.     Wakii’ bin Al-Jarraah bin Maliih Ar-Ruaasiy, Abu Sufyaan Al-Kuufiy; seorang yang tsiqah, haafidh, lagi ‘aabid. Termasuk thabaqah ke-9, wafat tahun 196/197 H. Dipakai oleh Al-Bukhaariy, Muslim, Abu Daawud, At-Tirmidziy, An-Nasaa’iy, dan Ibnu Maajah [Taqriibut-Tahdziib, hal. 1037 no. 7464].
2.     ‘Imraan bin Hudair As-Saduusiy, Abu ‘Ubaidah Al-Bashriy; seorang yang sangat tsiqah (tsiqatun tsiqah). Termauk thabaqah ke-6, dan wafat tahun 149 H. Dipakai oleh Muslim, Abu Daawud, At-Tirmidziy, dan An-Nasaa’iy [Taqriibut-Tahdziib, hal. 749-750 no. 5183].
3.     Yaziid bin ‘Uthaarid As-Saduusiy/Al-‘Aisiy, Abul-Bazaraa; seorang yang maqbuul. Termasuk thabaqah ke-4, dan wafat saat fitnah Al-Waliid bin Yaziid. Dipakai oleh At-Tirmidziy [Taqriibut-Tahdziib, hal. 1113 no. 8011].
4.     ‘Abdullah bin ‘Umar; telah lewat keterangannya di atas.
Diriwayatkan pula oleh Ahmad 2/12 & 2/24 dan Al-Mizziy dalam Tahdziibul-Kamaal 33/74 dari jalan Wakii’ bin Al-Jarraah.
Wakii’ mempunyai mutaba’ah dari :
1.     Hammaad bin Salamah; sebagaimana diriwayatkan oleh Ath-Thahawiy dalam Syarh Ma’aanil-Aatsaar 4/274, Ath-Thayaalisiy no. 2016, dan Al-Baihaqiy dalam Al-Kubraa 7/285.
2.     ‘Utsmaan bin ‘Umar Al-‘Abdiy; sebagaimana diriwayatkan oleh Ad-Daarimiy no. 2171 dan Ath-Thahawiy dalam Syarh Ma’aanil-Aatsaar 4/273-274.
3.     ‘Abdullah bin Idriis Al-Audiy; sebagaiman diriwayatkan oleh Ahmad 2/12
4.     Mu’aadz bin Mu’aadz; sebagaimana diriwayatkan oleh Ibnu Abi Syaibah 8/17 dan Ahmad 2/19,
5.     Bisyr bin Al-Mufadldlal; sebagaimana diriwayatkan oleh Ibnu Hibbaan 12/49 no. 5243
6.     Yaziid bin Haaruun; sebagaimana diriwayatkan oleh Ibnul-Jaaruud dalam Al-Muntaqaa 3/157-158 no. 867.
7.     Yaziid bin Zurai’; sebagaimana diriwayatkan oleh Ibnu Syaahiin dalam An-Naasiikh no. 562.
8.     ‘Iisaa bin Yuunus; sebagaimana diriwayatkan oleh Al-Baihaqiy dalam Syu’abul-Iimaan no. 5586.
9.     ‘Utsmaan bin Al-Haitsam; sebagaimana diriwayatkan oleh Al-Baihaqiy dalam Syu’abul-Iimaan no. 5587.
10.   Abu ‘Aashim; sebagaimana diriwayatkan oleh Ath-Thahawiy dalam Syarh Ma’aanil-Aatsaar 4/273
11.   Al-Mu’tamir bin Sulaimaan; sebagaimana diriwayatkan oleh Ad-Duulabiy dalam Al-Kunaa no. 696.
Sanad riwayat ini adalah lemah/dla’iif, karena Yaziid bin ‘Uthaarid seorang yang majhuul haal.
Lantas, mana yang raajih di antara dua jalur periwayatan (jalur ‘Ubaidullah dari Naafi dari Ibnu ‘Umar, ataukah jalur ‘Imraan bin Hudair dari Yaziid bin ‘Uthaarid dari Naafi’) ?. Apakah ta’liil dari sebagian ulama mutaqaddimiin di atas diterima, ataukah ditolak ?.
Yang raajihwallaahu a’lam – riwayat Hafsh bin Ghiyaats di atas mahfuudh karena – selain ia sendiri pada asalnya seorang yang tsiqah – , riwayatnya diikuti oleh Ibnul-Mubaarak. Yang jadi permasalahan adalah : Mutaba’ah Ibnul-Mubaarak yang dibawakan oleh Ibnul-A’rabiy tersebut dalam sanadnya terdapat Yahyaa bin ‘Abdil-Hamiid Al-Himmaaniy dimana beberapa ulama menuduhnya mencuri hadits (seperti Ahmad bin Hanbal). Orang yang mencuri hadits, kedudukannya sangat lemah dan haditsnya tidak bisa dijadikan penguat. Namun, beberapa ulama lain menolaknya dan mengatakan jarh tersebut disebabkan karena hasad – sebagaimana dikatakan Yahyaa bin Ma’iin dan Ar-Ramaadiy rahimahumallah. Bahkan Ibnu Ma’iin adalah orang yang paling keras pembelaannya terhadap Yahyaa [selengkapnya baca : Tahdziibul-Kamaal 31/419-434 dan Siyaru A’laamin-Nubalaa’ 10/526-540]. Adz-Dzahabiy memberikan kesimpulan bahwa ia seorang haafidh lagi tsiqah [As-Siyar, 10/526-527]. Namun dalam Al-Mughniy fidl-Dlu’afaa’ (2/522 no. 7007), ia berkata : “Haafidh, munkarul-hadiits”. Al-Albaaniy mempunyai beberapa perkataan tentangnya. Satu kali ia menyebutkan bahwa para ulama menuduhnya mencuri hadits [Adl-Dla’iifah no. 506]. Satu kali ia menyebutkan penyimpulan Al-Haitsaimiy bahwasannya ia dla’iif [As-Syamaail no. 42]. Satu kali ia membuat kesimpulan sendiri : “Dla’iif dari segi hapalannya” [Adl-Dla’iifah 4/232]. Al-Arna’uth dan Basyar ‘Awwaad memberi kesimpulan : “Dla’iif, namun dapat digunakan sebagai i’tibar” [Tahriirut-Taqriib, 4/92 no. 7591] – dan penghukuman keduanya ini tidak mendapatkan kritik oleh Dr. Maahir Al-Fakhl dalam Kasyful-Iihaam. Abu Ishaaq Al-Huwainiy menyimpulkan ia seorang yang dla’iif bersamaan dengan keluasan hapalannya. Di lain tempat ia berkata : “Meskipun ia seorang yang haafidh, namun ia dituduh mencuri hadits” [selengkapnya lihat : Natsnun-Nabaal, hal. 1522-1523 no. 3863]. Dan kesimpulan yang saya condong kepadanya adalah ia seorang yang dla’iif yang riwayatnya tetap dapat dijadikan i’tibar. Memang benar ada beberapa hadits yang ia riwayatkan dan kemudian menurunkan kredibiltasnya karena tuduhan mencuri hadits. Namun itu tidak semua hadits. Hadits yang ia riwayatkan dalam bahasan ini, maka tidak ternukil perkataan para imam mengingkarinya.
Kesimpulannya : Riwayat Ibnu ‘Umar radliyallaahu ‘anhu dari jalan ‘Ubaidullah bin ‘Umar adalah shahih. Adapun riwayat dari jalan ‘Imraan bin Hudair dari Yaziid bin ‘Uthaarid bukan men-ta’liil jalan riwayat sebelumnya, namun justru menguatkannya.
Ada riwayat mauquf yang serupa dari Ibnu ‘Umar radliyallaahu ‘anhumaa :
حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ فُضَيْلٍ، عَنِ الْحَسَنِ بْنِ الْحَكَمِ، عَنِ الْحُرِّ بْنِ صَيَّاحٍ، قَالَ: سَأَلَ رَجُلٌ ابْنَ عُمَرَ، فَقَالَ: مَا تَرَى فِي الشُّرْبِ قَائِمًا؟ "، فَقَالَ ابْنُ عُمَرَ: إِنِّي أَشْرَبُ وَأَنَا قَائِمٌ، وَآكُلُ وَأَنَا أَمْشِي "
Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Fudlail, dari Al-Hasan bin Al-Hakam, dari Al-Hurr bin Shayyaah, ia berkata : Seorang laki-laki pernah bertanya kepada Ibnu ‘Umar. Laki-laki berkata : “Apa pendapatmu tentang minum sambil berdiri ?”. Ibnu ‘Umar menjawab : “Sesungguhnya aku pernah minum sambil berdiri dan makan sambil berjalan” [Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Syaibah, 8/17].
Berikut keterangan para perawinya :
1.     Muhammad bin Fudlail bin Ghazwaan bin Jariir Adl-Dlabbiy, Abu ‘Abdirahmaan Al-Kuufiy; seorang yang shaduuq. Termasuk thabaqah ke-9, wafat tahun 195 H. Dipakai oleh Al-Bukhaariy, Muslim, Abu Daawud, At-Tirmidziy, An-Nasaa’iy, dan Ibnu Maajah [Taqriibut-Tahdziib, hal. 889 no. 6267].
2.     Al-Hasan bin Al-Hakam An-Nakha’iy, Abul-Hakam; seorang yang dikatakan oleh Ibnu Hajar : ‘shaduuq, tapi banyak salahnya’. Namun yang benar ia seorang yang lebih dekat kepada tsiqah. Ia telah ditsiqahkan oleh Ibnu Ma’iin dan Ahmad. Ibnu Syaahiin menyebutkannya dalam Ats-Tsiqaat. Abu Haatim berkata : “Shaalihul-hadiits”. Adapun Ibnu Hibbaan menyendiri dalam jarh-nya dengan mengatakan : “Banyaknya salah dan ragu. Tidaklah membuatku kagum untuk berhujjah dengan haditsnya apabila ia bersendirian”. Termasuk thabaqah ke-6, dan wafat sebelum tahun 150 H. Dipakai oleh Abu Daawud, Muslim, An-Nasaa’iy dalam Musnad ‘Aliy, dan Ibnu Maajah [lihat : Tahdziibut-Tahdziib 2/271 dan Taqriibut-Tahdziib hal. 236 no. 1239].
3.     Al-Hurr bin Ash-Shayyaah An-Nakha’iy Al-Kuufiy; seorang yang tsiqah. Termasuk thabaqah ke-3. Dipakai oleh Abu Daawud, At-Tirmidziy, dan An-Nasaa’iy [Taqriibut-Tahdziib, hal. 227 no. 1168].
Sanad riwayat ini hasan.
Mengenai sebagian fiqh hadits dalam bahasan ini, silakan baca : Pembahasan Minum Sambil Berdiri.
Wallaahu a’lam.
Semoga ada manfaatnya.
[abul-jauzaa’ – perum ciomas permai, ciapus, ciomas, bogor].
READ MORE - Hadits Makan dan Minum Sambil Berdiri