Explore Ilmu "‘Aliy bin Abi Thaalib Berbaiat kepada Abu Bakr radli" Di antara syubhat orang Syi’ah adalah pernyataan ‘Aliy bin Abi Thaalib tidak pernah ridlaa dalam baiatnya kepada Abu Bakr radliyallaahu ‘anhumaa. Mereka juga mereka-reka bahwa ‘Aliy menunda pembaiatannya sampai lewat beberapa bulan.[1] Tentang klaim ketidakridlaan ‘Aliy radliyallaahu ‘anhu, blog ini membuat bahasan tersendiri tentangnya.[2]
Kali ini, saya akan bawakan bukti ketidakbenaran klaim bahwa ‘Aliy bin Abi Thaalib radliyallaahu ‘anhu menunda baiatnya kepada Abu Bakr hingga beberapa bulan lamanya. Berikut riwayatnya :
حدثني عبيد الله بن عمر القواريري حدثنا عبد الأعلى بن عبد الأعلى حدثنا داود بن أبي هند عن أبي نضرة قال لما اجتمع الناس على أبي بكر رضي الله عنه فقال ما لي لا أرى عليا قال فذهب رجال من الأنصار فجاءوا به فقال له يا علي قلت ابن عم رسول الله وختن رسول الله فقال علي رضي الله عنه لا تثريب يا خليفة رسول الله ابسط يدك فبسط يده فبايعه ثم قال أبو بكر ما لي لا أرى الزبير قال فذهب رجال من الأنصار فجاءوا به فقال يا زبير قلت ابن عمة رسول الله وحواري رسول الله قال الزبير لا تثريب يا خليفة رسول الله ابسط يدك فبسط يده فبايعه
Telah menceritakan kepadaku ‘Ubaidullah bin ‘Umar Al-Qawaariiriy : Telah menceritakan kepada kami ‘Abdul-A’laa bin ‘Abdil-A’laa : Telah menceritakan kepada kami Daawud bin Abi Hind, dari Abu Nadlrah, ia berkata : Ketika orang-orang berkumpul (berbaiat) kepada Abu Bakr radliyallaahu ‘anhu, ia (Abu Bakr) berkata : “Ada apa denganku, (mengapa) aku tidak melihat ‘Aliy ?”. Maka pergilah beberapa orang dari kalangan Anshaar yang kemudian kembali bersamanya (‘Aliy). Lalu Abu Bakr berkata kepadanya : “Wahai ‘Aliy, engkau katakan engkau anak paman Rasulullah shalallaahu ‘alaihi wa sallam dan sekaligus menantu beliau”. ‘Aliy radliyallaahu ‘anhu berkata : “Janganlah engkau mencela/marah wahai khalifah Rasulullah. Bentangkanlah tanganmu !”. Lalu ia membentangkan tangannya dan kemudian berbaiat kepadanya. Kemudian Abu Bakr pun berkata : “Ada apa denganku, (mengapa) aku tidak melihat Az-Zubair ?”. Maka pergilan beberapa orang dari kalangan Anshaar yang kemudian kembali bersamanya (Az-Zubair). Abu Bakr berkata : “Wahai Zubair, engkau katakan engkau anak bibi Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam dan sekaligus hawariy beliau”. Az-Zubair berkata : “Janganlah engkau mencela/marah wahai khalifah Rasulullah. Bentangkanlah tanganmu !”. Lalu ia membentangkan tangannya dan kemudian berbaiat kepadanya” [Diriwayatkan oleh ‘Abdullah bin Ahmad dalam As-Sunnah no. 1292].
‘Ubaidullah bin ‘Umar Al-Qawaaririy, seorang yang tsiqah lagi tsabt. ‘Abdul-A’laa bin ‘Abdil-A’laa bin Muhammad Al-Qurasyiy, seorang yang tsiqah. Daawud bin Abi Hind, seorang yang tsiqah lagi mutqin.[3] Abu Nadlrah, namanya adalah Al-Mundzir bin Maalik, seorang yang tsiqah juga. Abu Nadlrah tidak bertemu dengan Abu Bakr radliyallaahu ‘anhu, sehingga riwayat ini mursal.
Namun Al-Haakim menyambung kemursalannya dalam Al-Mustadrak 3/76, dan dari jalannya Al-Baihaqiy dalam Al-Kabiir 8/143 dan dalam Al-I’tiqaad wal-Hidaayah ilaa Sabiilir-Rasyaad hal. 490. Al-Baihaqiy berkata : Telah menceritakan kepada kami Abu ‘Abdillah Al-Haafidh dan Abu Muhammad ‘Abdurrahmaan bin Abi Haamid Al-Muqri’ dengan qira’aat kepadanya, mereka berdua berkata : Telah menceritakan kepada kami Abul-‘Abbaas Muhammad bin Ya’quub : Telah menceritakan kepada kami Ja’far bin Muhammad bin Syaakir : telah menceritakan kepada kami ‘Affaan bin Muslim : Telah menceritakan kepada kami Wuhaib : Telah menceritakan kepada kami Daawud bin Abi Hind : Telah menceritakan kepada kami Abu Nadlrah, dari Abu Sa’iid Al-Khudriy : “…..(al-atsar – yang padanya ada kisah yang lebih panjang dari riwayat di atas)…”.
Riwayat ini shahih, para perawinya tsiqaat.
‘Affaan bin Muslim mempunyai mutaba’ah dari Abu Hisyaam Al-Makhzuumiy sebagaimana diriwayatkan oleh Al-Baihaqiy dalam Al-Kubraa 8/143 dan dalam Al-I’tiqaad hal. 492, serta Ibnu ‘Asaakir 30/276-277.[4]
Daawud bin Abi Hind juga mempunyai mutaba’ah dari Al-Jurairiy sebagaimana diriwayatkan oleh Ibnu ‘Asaakir 30/278-279.
Ibnu Katsiir dalam Al-Bidaayah 8/92 menshahihkan riwayat ini yang mahfuudh dari hadits Abu Nadlrah dari Abu Sa’iid Al-Khudriy radliyallaahu ‘anhu.
Ada syaahid yang menguatkan riwayat ini :
حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ بِشْرٍ، حدثنا عُبَيْدُ اللَّهِ بْنُ عُمَرَ، حَدَّثَنَا زَيْدُ بْنُ أَسْلَمَ، عَنْ أَبِيهِ أَسْلَمَ: أَنَّهُ حِينَ بُويِعَ لِأَبِي بَكْرٍ بَعْدَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ عَلِيٌّ وَالزُّبَيْرُ يَدْخُلَانِ عَلَى فَاطِمَةَ بِنْتِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَيُشَاوِرُونَهَا، وَيَرْتَجِعُونَ فِي أَمْرِهِمْ، فَلَمَّا بَلَغَ ذَلِكَ عُمَرَ بْنَ الْخَطَّابِ خَرَجَ حَتَّى دَخَلَ عَلَى فَاطِمَةَ، فَقَالَ: " يَا بِنْتَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَاللَّهِ مَا مِنْ أَحَدٍ أَحَبَّ إِلَيْنَا مِنْ أَبِيكَ، وَمَا مِنْ أَحَدٍ أَحَبَّ إِلَيْنَا بَعْدَ أَبِيكَ مِنْكَ، وَايْمُ اللَّهِ مَا ذَاكَ بِمَانِعِي إِنِ اجْتَمَعَ هَؤُلَاءِ النَّفَرُ عِنْدَكِ، أَنْ آمُرَ بِهِمْ أَنْ يُحَرَّقَ عَلَيْهِمُ الْبَيْتُ "، قَالَ: فَلَمَّا خَرَجَ عُمَرُ، جَاءُوهَا فَقَالَتْ: تَعْلَمُونَ أَنَّ عُمَرَ قَدْ جَاءَنِي، وَقَدْ حَلَفَ بِاللَّهِ لَئِنْ عُدْتُمْ لَيُحَرِّقَنَّ عَلَيْكُمُ الْبَيْتَ، وَايْمُ اللَّهِ لَيَمْضِيَنَّ لِمَا حَلَفَ عَلَيْهِ، فَانْصَرِفُوا رَاشِدِينَ، فَرَوْا رَأْيَكُمْ وَلَا تَرْجِعُوا إِلَيَّ. فَانْصَرَفُوا عَنْهَا فَلَمْ يَرْجِعُوا إِلَيْهَا حَتَّى بَايَعُوا لِأَبِي بَكْرٍ "
Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Bisyr : Telah menceritakan kepada kami Ubaidullah bin ‘Umar : Telah menceritakan kepada kami Zaid bin Aslam, dari ayahnya yang bernama Aslam, ia berkata : Ketika bai’at telah diberikan kepada Abu Bakar sepeninggal Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam, ‘Aliy dan Az-Zubair masuk menemui Faathimah binti Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam, mereka bermusyawarah dengannya mengenai urusan mereka. Ketika berita itu sampai kepada ‘Umar bin Al-Khaththaab, ia bergegas keluar menemui Fatimah dan berkata : “Wahai putri Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam, demi Allah tidak ada seorangpun yang lebih kami cintai daripada ayahmu, dan setelah ayahmu tidak ada yang lebih kami cintai dibanding dirimu. Akan tetapi demi Allah, hal itu tidak akan mencegahku jika mereka berkumpul di sisimu untuk kuperintahkan agar membakar rumah ini tempat mereka berkumpul.” Ketika ‘Umar pergi, mereka (‘Aliy dan Az-Zubair) datang dan Faathimah berkata : “Tahukah kalian bahwa ‘Umar telah datang kepadaku dan bersumpah jika kalian kembali ia akan membakar rumah ini tempat kalian berkumpul. Demi Allah, ia akan melakukan apa yang ia telah bersumpah atasnya jadi pergilah dengan damai, simpan pandangan kalian dan janganlah kalian kembali menemuiku”. Maka mereka pergi darinya dan tidak kembali menemuinya sampai mereka membaiat Abu Bakar [Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Syaibah 14/567; shahih].
Riwayat ini secara jelas menunjukkan pada kita bahwa 'Aliy, berikut Az-Zubair, segera berbaiat kepada Abu Bakr pada hari itu setelah kedatangan 'Umar ke rumah Faathimah radliyallaahu 'anhum. Dan ini sangat logis melihat seluruh rangkaian peristiwa yang dibawakan dalam riwayat sebelumnya. Justru sangat tidak logis seandainya 'Aliy pergi dan tidak segera berbaiat kepada Abu Bakr radliyallaahu 'anhumaa, karena - tentu saja - ia akan segera kembali ke rumah Faahimah untuk menemani keluarganya.
Riwayat ini menunjukan pada kita bahwa :
1. ‘Aliy dan Az-Zubair radliyallaahu ‘anhumaa memang sedikit menunda baiat mereka tidak bersama kaum muslimin lainnya. Akan tetapi dhahir riwayat ini menjelaskan bahwa mereka kemudian bersegera memberikan baiatnya kepada Abu Bakr pada hari itu juga tidak lama setelah kaum muslimin memberikan baiatnya.
2. Kekhalifahan Abu Bakr radliyallaahu ‘anhu adalah sah menurut kaum muslimin secara aklamasi, tidak terkecuali ‘Aliy bin Abi Thaalib radliyallaahu ‘anhu. Tidak ada wasiat atau warisan kepemimpinan dari Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam kepada ‘Aliy sebagaimana klaim orang-orang Syi’ah, karena ‘Aliy sendiri menyatakan demikian.[5]
حدثني أبو معمر إسماعيل بن إبراهيم حدثنا ابن علية عن يونس عن الحسن عن قيس بن عباد قال قلت لعلي رضى الله عنه أرأيت مسيرك هذا عهد عهده إليك رسول الله صلى الله عليه وسلم أم رأي رأيته قال ما تريد إلى هذا قلت ديننا ديننا قال ما عهد إلي رسول الله صلى الله عليه وسلم في شيء ولكن رأي رأيته
Telah menceritakan kepada kami Abu Ma’mar Ismaa’iil bin Ibraahiim : Telah menceritakan kepada kami Ibnu ‘Ulayyah, dari Yuunus, dari Al-Hasan, dari Qais bin ‘Ubaad, ia berkata : Aku bertanya kepada ‘Aliy radliyallaahu ‘anhu : “Apakah perjalananmu ini merupakan wasiat yang telah Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam wasiatkan kepadamu atau itu hanyalah pendapatmu saja ?”. ‘Aliy berkata : “Apa yang engkau maksudkan tentang hal ini ?”. Aku menjawab : “Agama kami, agama kami”. ‘Aliy berkata : “Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam tidak mewasiatkan sesuatupun kepadaku. Akan tetapi ini adalah pendapatku saja” [Diriwayatkan oleh ‘Abdullah dalam tambahannya terhadap Al-Musnad 1/148 no. 1271 dan dalam As-Sunnah no. 1266].
Diriwayatkan juga oleh Abu Daawud no. 4666.
Dishahihkan oleh Ahmad Syaakir, Al-Albaaniy, dan Al-Arna’uth rahimahumullah.
حدثنا يحيى ثنا سعيد بن أبي عروبة عن قتادة عن الحسن عن قيس بن عباد قال : انطلقت أنا والأشتر إلى علي رضي الله عنه فقلنا هل عهد إليك نبي الله صلى الله عليه وسلم شيئا لم يعهده إلى الناس عامة قال لا الا ما في كتابي هذا....
Telah menceritakan kepada kami Yahyaa : Telah menceritakan kepada kami Sa’iid bin Abi ‘Aruubah, dari Qataadah, dari Al-Hasan, dari Qais bin ‘Ubaad, ia berkata : “Aku dan Al-Asytar berangkat menuju ‘Aliy radliyallaahu ‘anhu. Kami bertanya : “Apakah Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam berwasiat kepadamu sesuatu yang tidak beliau wasiatkan kepada orang-orang secara umum ?”. Ia berkata : “Tidak, kecuali apa yang terdapat dalam kitabku ini…..” [Diriwayatkan oleh Ahmad 1/122; dishahihkan oleh Ahmad Syaakir dan Al-Arna’uth].
حَدَّثَنَا خَلَفُ بْنُ خَلِيفَةَ ، قَالَ : نا سُفْيَانُ بْنُ عُيَيْنَةَ ، عَنْ إِسْمَاعِيلَ ، عَنِ الشَّعْبِيِّ ، عَنْ أَبِي جُحَيْفَةَ ، قَالَ : قُلْتُ لِعَلِيِّ بْنِ أَبِي طَالِبٍ : هَلْ عَهِدَ إِلَيْكَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ شَيْئًا لَمْ يَعْهَدْهُ إِلَى النَّاسِ ؟ قَالَ : " لا ، إِلا مَا فِي هَذِهِ الصَّحِيفَةِ.....
Telah menceritakan kepada kami Khalaf bin Khaliifah, ia berkata : Telah mengkhabarkan kepada kami Sufyaan bin ‘Uyainah, dari Ismaa’iil, dari Asy-Sya’biy, dari Abu Juhaifah, ia berkata : Aku bertanya kepada ‘Aliy bin Abi Thaalib : “Apakah Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam berwasiat sesuatu kepadamu yang tidak beliau wasiatkan kepada manusia ?”. Ia berkata : “Tidak, kecuali apa-apa yang ada dalam lembaran-lembaran ini....” [Diriwayatkan oleh Al-Bazzaar dalam Al-Bahr no. 468].
Penyebutan Ismaa’iil dalam riwayat di atas keliru, yang benar adalah Mutharrif. Khalaf dalam periwayatan dari Ibnu ‘Uyainah telah menyelisihi Wakii’, Asy-Syaafi’iy, Abu Khaitsamah, dan yang lainnya; yang semuanya meriwayatkan dari Ibnu ‘Uyainah, dari Mutharrif, dari Asy-Sya’biy. Khalaf adalah seorang yang shaduuq, namun berubah hapalannya di akhir hayatnya. Akan tetapi riwayatnya di sini menjadi hasan dengan hadits sebelumnya, dan bahkan shahih dengan keseluruhan jalannya.
Dari manakah sumber adanya wasiat atau amanat kepemimpinan dari Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam kepada ‘Aliy radliyallaahu ‘anhu ?. Saya sendiri tidak tahu, tapi yang jelas bukan bersumber dari ‘Aliy bin Abi Thaalib radliyallaahu ‘anhu.
Wallaahu a’lam.
[abul-jauzaa’ – 1432 H – revised : 4-8-2011, 17:24 WIB].
[1] Ada yang mengatakan 6 bulan.
[2] Silakan baca artikel : 'Aliy Berbaiat dan Ridlaa terhadap Kekhalifahan Abu Bakr dan 'Umar radliyallaahu 'anhum.
[3] Al-Mizziy menyebutkan bahwa Muslim mengambil riwayat ‘Abdul-A’laa mengambil riwayatnya dalam kitab Shahih-nya.
[4] Diriwayatkan juga oleh Ahmad 5/185-186 no. 21617, Ath-Thayaalisiy 1/49-496 no. 603, dan Ath-Thabaraaniy dalam Al-Kabiir 4/114-115 no. 4785; semuanya dari jalan Wuhaib bin Khaalid, dari Daawud bin Abi Hind, dari Abu Nadlrah, dari Abu Sa’iid Al-Khudriy secara ringkas tanpa menyebutkan pembaiatan ‘Aliy dn Az-Zubair radliyallaahu ‘anhumaa.
[5] Baca artikel kami :

Tidak ada komentar:
Posting Komentar